
🌿 Selamat Membaca🌿
Sepanjang hari, Rasya tidak dapat berpikir dengan jernih, kejadian beberapa hari yang lalu sungguh menganggu pikirannya. Rasya mondar mandir dikamarnya, dia sudah meminta bu Lusi agar membiarkannya untuk sekedar minta maaf kepada Raniyah. Tetapi Bu Lusi sama sekali tidak mengubris pesan-pesan yang dikirimkannya.
Pikirannya sudah bulat, untuk menemui Raniyah langsung ke rumahnya, jika di sekolah Raniyah sama sekali tidak bisa di ajak mengobrol, karena Bu Lusi selalu menghalanginya agar tidak ada lagu obrolan antara Raniyah dengannya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.00, belum terlalu malam. Rasya langsung mengambil jaket hitam, dia mengambil kunci motor. Ibunya yang sedang menonton televisi melirik ke arah pintu kamar anaknya yang terbuka, lalu muncul Rasya yang sudah berdandan bak anak muda yang akan berkencan. Wangi parfum juga menyeruak sampai ke hidung.
" Rasya mau kemana malam minggu beginu? Apa kau mau kencan?" Tanya Ibunya yang keheranan.
" em. Anu Bu.. Rasya mau ke rumah temen!" Jawab Rasya gugup.
" Duh, kau tak usah berbohong! Sudah pergilah jangan pulang terlalu malam, bawa makanan sedikit di kulkas sana!" Seru ibunya yang tampak senang melihat anaknya akhirnya selayaknya anak muda lain memiliki pasangan.
Rasya menuruti ibunya, dia mengambil beberapa buah-buahan ke dalam keresek dia pergi ke parkiran, matanya menatap motor yang sudah lama sekali tidak dipakainya, cukup lama Rasya berpikir keras untuk mengunakannya.
Akhirnya Rasya berangkat dengan keponakannya, ponakannya ini berbanding terbalik sikapnya dengan Rasya yang rapi dan pendiam, dia justru anak gaul, dia memakai celana robek-robek, anting ditelinganya dan kaos oblong, lengkap seperti anak-anak jalanan.
" Tenang aja bang! Jangan gugup kalau mau ketemu anak cewek!" Seru keponakan Rasya ditengah perjalanan.
"A.. aku tidak gugup, hanya saja dandanan kamu sangat menakutkan!" Ucap Rasya.
" Weeh Bang! Dandanan gini lagi trend tahu! Nanti kalau bapaknya calon abang galak, pas lihat dandanan aku, dia bakal ciut bang!"
" Terserah kau saja!"
Setelah belokan, Rasya kebingungan ada dua arah ke kanan dan kiri. Untungnya tidak jauh disana ada pos ronda, tampak seorang bapak dengan menyoderkan sarungnya sedang mendengarkan radio. Keponakan Rasya pun membawa motornta berhenti di pos Ronda.
" Hoy Pak " Serunya.
Sontak Pak Ansori menoleh ke arah anak muda yang memanggilnya, Pak Ansori melihat setelan yang dikenakan keponakan Rasya yang urak-urakan.
" Iya kenapa?"
" Ini loh Pak! Dimana ya rumahnya Ra..Rani ..Raniyah!" Kata Keponakannya Rasya.
" Oh. Kamu siapanya?" Tanya Pak Ansori.
" Ya calon calon! masa gak ngerti sih ini malam minggu pak! Kaya orang gak pernah muda aja!" Kata Keponakanya santuy membuat Rasya sedikit malu.
"Ooh begitu!" Kata Pak Ansori.
" Nah jadi bapak tau gak rumahnya? Kalau gak salah Raniyahh itu bapaknya Ustad gitu, dan ngomong-ngomong kata abang gue bapaknya itu pikirannya agak kolot! benerkan?" Kata keponakannya Rasya sambil menoleh Rasya yang langsung mentoyornya karena kesal pada ponakannya yang comel.
Pak Ansori tampak kesal dan geram dengan kelakuan keponakan Rasya yang selengean itu. Sambil bertolak pinggang Pak Ansori membawa pemukul kentongan dan menunjukan arah ke rumahnya.
"Itu!!" Kata Pak Ansori.
Keponakan Rasya mengangga rupanya rumah yang ditujunya ada dibelakangnya. Senyuman merkah pun terukir di kedua wajah anak muda itu.
" Terima kasih Pak! Ngomong-ngomong kumis bapak tebel amat yaa!" Kata Keponakan Rasya sambil tertawa.
__ADS_1
" Ah pak terima kasih banyak," Kata Pak Rasya dengan sopan.
Kedua orang itu pun berlalu. Memakirkan motornya di samping rumah Raniyah. Beberapa kali, mereka mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah itu. Barulah seseorang tampak membuka pintu. Wajah wanita yang sudah tidak muda lagi itu tampak bengong melihat penampilan tamunya.
" Maaf bu, Raniyahnya ada?" Tanya Rasya.
" Oh Ada, silahkan masuk." Kata Bu Ansori.
Keduanya langsung masuk ke dalam rumah, Bu langsung memanggil Raniyah, yang tampak terkejut mendengarnya, saat ini di rumah Raniyah sedang ramai orang yang bersiap akan melangsungkan acara seserahan besok.
" Gini nih kalau jadi cewek kecentilan! Banyak dicari cowok ya!" Ledek Haya yang berada di ambang pintu kamar Raniyah.
" Haya! Kamu ini!" Tegur Bu Ansor.
" Ya udah Raniyah pakai jilbab dulu!" Kata Raniyah sambil berjalan menuju lemarinya.
Sementara di ruang tengah, kedua orang itu tampak memperhatikan keadaan ruang tengah itu.
" Bang, abang kesini mau culik calon pengantin ya?"
" Hah, maksudnya?"
" Ini lagi hajatan mau nikahan nih!"
Pak Rasya langsung termenung, dia mulai berpikir, mungkin saja Raniyah langsung menikah dengan Ahsan karena mereka tampak sudah akur kembali. Namun, Rasya menepis lagi pikirannya, tapi kemudian dia juga berpikir mungkin benar, hal ini yang menjadikan alasan Bu Lusi melarangnya untuk mendekati Raniyah.
Saat Rasya sibuk dengan pikirannya, Raniyah sudah muncul dihadapan keduanya, Rasya terkejut dan tampaklah kegugupannya kini memenuhi jiwanya. Raniyah menyodorkan makanan di meja tamu. Dia duduk dan tampak bersikap biasa saja dengan Rasya.
" Bu Rani!" Panggil Rasya.
" Emm. Itu masalah kemarin.."
" Tidak perlu dibahas lagi!" Kata Raniyah.
Rasya tampak menelan air ludahnya. Keponakannya tersenyum cengir sambil mengambil opak dan menyantapnya dengan santai. Tidak lama kemudian Pak Ansori masuk membuat keponakan Rasya tercengkat.
" Ini siapa Ran?" Tanya Pak Ansori sambil menatap ke arah keponakan Rasya.
" Ini temen sekolah pak." Kata Raniyah membuat Keponakannya Rasya menutup mulutnya.
" Oh gitu ya! Silahkan disantap makanannya! Sekalian ade yang itu mau bantu bapak potong ayam, kebetulan gak ada yang pegangin nih!" Kata Pak Ansori.
" Oo.. A..nu!" Kini Keponakan Rasya tergagap.
" Biar saya aja yang bantu Pak!" Seru Rasya sambil tersenyum dan menatap Raniyah.
" Ya Sudah baikalah ! Ayooo." Kata Pak Ansori.
Keduanya beranjak ke belakang, keponakan Rasya bu tampak mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Sambil memakan opak yang belum sempat dikunyak karena kaget melihat pak Ansori.
"Ini abang gue yang ngapel, kenapa jadi gue yang ditinggalin bareng pacarnya sih!" Keluhnya.
__ADS_1
" Kamu adeknya?" Tanya Raniyah.
" Bukan tante! gue ponakannya! Ponakan bang Rasya yang paling tampan!" Sahutnya sambil menyisir rambutnya yang berwarna merah kuning hijau dengan jari-jari tangannya, barisan gigi putih dipamerkan dengan tindik berkilatan kena lampu malam tertancap di lidah anak muda itu membuat Raniyah meringis.
"Oh begitu ya! Masih sekolah?" Tanya Raniyah.
" Gue kuliah Tante di Jakarta, jurusan seni rupa!" Balas anak muda yang merupakan keponakan rasya itu.
Raniyah menatap anak muda itu secara keseluruhan, sangat tidak disangka-sangka, Pak Rasya yang super rapih, disiplin memiliki ponakan yang urakan. Keponakan Rasya itu sadar Raniyah memperhatikan penampilannya.
" Tante jangan naksir sama aku ya!" Ucapnya sambil tersenyum merkah.
Raniyah sontak tertawa, mana bisa dia tertarik dengan bocah. Anak muda dihadapannya itu cukup selengean sikapnya, jauh dari kriteria yang disukai Raniyah, lalu bisa-bisanya dengan percaya diri anak muda itu mengatakan dirinya menyukainya.
" Sayangnya aku tidak menyukai brondong!" Balas Raniyah.
" Kenapa tante?"
" Aku suka lelaki dewasa!" Jawab Raniyah.
"Tapi tante, aku jamin kalau tante ketemu aku 2 tahun lagi, tante akan terpesona denganku!"
" Kenapa memangnya?"
" Tunggu saja nanti Tan!" Sahut anak lelaki yang urakan itu.
" Terserah dirimu saja!"
" Oh, Aku Yogi, Tante Raniyah tolong dicatat namaku!" Ucapnya sambil menyodorkan tangannya Raniyah mengangguknya.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan, suara ayam di samping rumah.
Brukk Kukkruyuuuk bruk kukruyuuuuk
Raniyah dan keponakan Rasya pun langsung memburu ke arah sumber keributan itu, Raniyah mendapati darah bersimbah di wajah Rasya. Seekor ayam sedang sekarat dihadapannya.
" Segera cuci muka nak! Wajahmu nanti bisa kutilan loh!" Kata Pak Ansor.
Raniyah dengan sigap membawa handuk kecil dan air hangat ke hadapan pak Rasya. Rasya mencuci wajahnya dengan air hangat itu. Tapi darah ayam belum sepenuhnya bersih, Raniyah pun menyiduk air dengan tangannya dan mengusapkannya ke wajah pak Rasya.
" Diam!" Kata Raniyah membuat Pak Rasya yang hendak menghindar terdiam.
Raniyah dengan telaten membersihakan noda darah ayam diwajah Pak Rasya. Sementara disisi lain, jantung Pak Rasya sudah tidak karuan, seumur hidupnya belum pernah setegang itu dihadapan wanita.
" Cie abang gue tremor!" Celetuk Keponakan Rasya tertawa melihat Rasya tampak gemeteran dihadapan Raniyah.
" Heh bocah! Besok besok kalau kesini lagi pake baju yang bener!" Tegur Pak Ansor.
" Ups! Siap laksanakan Jenderal!" Sahut Keponakan Rasya membuat Raniyah tersenyum.
Rasya merasa senang melihat Raniyah senyuman Raniyah yang hilang beberapa waktu setelah kejadian itu.
__ADS_1
# Bersambung....
🌿 Terima kasih sudah membaca episode ini🌿