Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Mengurus Bayi


__ADS_3

Selepas acara pernikahan yang dibuat cukup megah itu, semua orang pun mulai membereskan semua perangkat yang digunakan, dekorasi mulai dirapihkan. Sementara Fahrul masuk berkutat dengan kameranya, dia memperhatikan semua hasil jepretannya. Lebih tepatnya dia melihat semua foto-foto Raniyah dalam balutan kain pengantin itu. Dia melihat senyuman Raniyah dalam foto itu, mengingatkannya saat pertama kali bertemu dan mereka pergi liburan ke Pantai itu.


Namun, semua kenangan itu terhapus karena dia sendiri yang menghianati hati Raniyah. Fahrul sadar bahwa yang dilakukannya salah, bahkan sampai dihari pernikahan Raniyah pun saat ini dia masih merasa bersalah.


Drrrt drrt drrt


Ponselnya bergetar, isteriya menelpon. Fahrul segera beralih dari kameranya ke ponsel lalu mengangkatnya.


"Kok belum pulang!"


"Iya sebentar lagi, baru selesai ini,"


"*Cepetan aku pengen shoping nih! Udah gajian kan?"


Dasar yang dia ingat gajian mulu*! Batin Fahrul.


"Yang kamu denger kan? Anak kamu lagi ngidam tas dior tau!" Suara disebrang telpon itu naik satu oktaf.


"Iya ya belilah, sekalian beli sama toko-tokonya!" Kesal Fahrul yang baru selesai kerja dan sudah lelah itu malah harus mendengar ocehan isterinya.


"*Kamu gak ikhlas ya belanjain isteri!"


Tut tut tut*


Panggilan pun diakhiri, Fahrul hanya bisa menghela nafasnya. Dia memijat kepalanya yang pening. Sekilas dia melihat ke dalam tampak Raniyah dan Daiyan sedang berbincang serius. Ada perasaan ingin tahu perbincangannya.


"Raniyah cepet banget nikah! Cuma sebulan ditunggalin dapetin dokter!"Keluh Fahrul.


Tanpa sengaja, pandangan Raniyah melirik ke luar sekilas dan mata mereka bertemu. Fahrul terkejut, tapi segera Raniyah mengalihkan pandangannya lagi.


"Jadi mau langsung ke rumah disana? Gak.nginep disini dulu?" Tanya Ibu Ansor.


"Enggak bu, dirumah kan ada Salsa, saya gak bisa ninggalin jauh."


"Ya sudah kalau begitu. " Balas bu Ansor langsung menghela nafasnya.


"Aku akan sering berkunjung kesini sama de Salsa." Balas Raniyah.


Setelah itu, keduanya pamitan dan mereka pun pergi dengan mobil berwarna hitam menuju rumah yang dulu ditempati Daiyan dengan Haya. Sebenarnya rumah yang sudah dipastikan milik Salsa, anak mereka.


Setelah sampai, Daiyan dan Raniyah masuk ke dalam rumah yang cukup megah. Ini kali pertama Raniyah menginjakkan kakinya disana. Daiyan menjelaskan rumahnya memiliki 5 kamar tamu dan 3 kamar utama. Asisten Rumah Tangga ada 2 orang dan tukang kebun 1 orang, lalu satpam 1 orang didepan.


"Apakah hutang kak Daiyan numpuk untuk membayar para pembantunya." Batin Raniyah selagi Daiyan menunjukan ruangan dirumah tersebut.


"Dan kamarmu dengan Salsa ada dilantai 2 sebelah kiri, kamarku disebrangnya!"

__ADS_1


"Hah?" Raniyah mengeryitkan dahinya.


"Kamu mengerti yang aku katakan?"


"Ya sedikit!"


"Oh ya ampun aku sudah menjelaskan panjang lebar!"


"Emm, aku tidur sama dek salsa?"


"Yeah! Oh jangan pikir aku akan tidur denganmu!"


"Eh.. Aku tidak berpikir demikian, aku justru berpikir bakal tidur terpisah dengan dek Salsa." Sanggah Raniyah yang hampir merasa gerah mendengar perkataan Daiyan.


"Baguslah! Jangan berpikir sekamar denganku! Aku tidak mau membuat adik untuk Salsa!" Tandas Daiyan membuat mata Raniyah berkedip-kedip.


*Tidak mau membuat adik untuk Salsa


Tidak mau membuat adik untuk Salsa


Tidak mau membuat adik untuk Salsa*


Kata-kata Daiyan terus tergiang sampaI Daiyan yang pergi dari hadapannya menuju kamar pribadinya.


*****


Semua temannya memenuhi room chat mengoda Raniyah yang dikira sedang melakukan malam pertama. Raniyah pun mematikan ponselnya.


"Kenapa mereka berpikiran kotor sekali! Memangnya menikah hanya untuk melakukan hal seperti itu!"Gerutu Raniyah seorang diri.


"...Walaupun ya aky juga selalu memikiran hal itu sebelum nikah!" Keluh Raniyah.


Pandangan mata Raniyah pun jatuh ke arah box bayi yang didalamnya Salsa tertidur pulas. Raniyah turun dari kasurnya dia mendekati box bayi itu. Wajah damai bayi itu dipandanginya.


"Kamu membuat aku terjebak disini! Kalau besar nanti kamu harus membalas pengorbananku!" Gumam Raniyah sambil membelai pipi chubby bayi itu sehingga sedikit terusik.


"Ssstttt!! Tidurlah onty lelah juga!" Bisik Raniyah lalu berjalan pelan menuju ranjangnya untuk istirahat.


Malam sunyi langsung membuat Raniyah terlelap diatas kasur itu, apalagi setelah seharian tadi dia sibuk dengan tamu undangan dan acara pernikahan yang melelahkan.


Sekitar pukul 2.00 dini hari...


oek oek oek...


Daiyan yang tidur disebrang kamar dia terganggy dengan suara tangisan tersebut, dia bangkit, wajah masih mengantuk, dia keluar dari kamarnya menuju kamar Bayi dan kebetulan tidak dikunci.Dia pun masuk dan menghela nafasnya.

__ADS_1


"Hah bisa bisanya suara bayi tidak membangunkannya!" Gerutu Daiyan dia berjalan menuju box bayi dan mengendongnya lalu segera mendekatkan suara tangisan bayi ke telinga Raniyah yang tertidur pulas.


Sontak Raniyah yang terlelap itu terperajat matanya langsung terbuka begitu mendengar suara yang nyaring dekat telinganya.


"Bayi!!" Pekiknya.


"Iya!" Kesal Daiyan mengendong anaknya.


Raniyah melirik ke arah Daiyan yang sedang mengendong bayinya, Lalu kemudian tersadar saat ini dirinya tidak memakai krudung.


"Kak Daiyan kenapa masuk, aku gak pakai jilbab" Kelabakan mencari jilbabnya.


"Tangisan anakku lebih penting! Kamu malah mengkhawatirkan jilbabmu! Padahal kita juga sudah menikah." Sinis Daiyan.


Setelah menemukan Jilbabnya, Raniyah bangkut dari kasurnya dan mendekat ke Daiyan hendak mengambil alih Salsa dari gendongan Daiyan.


"Ambilkan susunya dikulkas!" Titah Daiyan.


"Oh iya ya." Ucap Raniyah langsung bergegas turun ke dapur.


Dia membuka kulkas dan di bagian atas sudah tersedia ASI dalam plastik yang tersusun rapi. Raniyah pun mengambil salah satunya dan membawa dot.Dia segera naik ke kamar bayi. Daiyan masih terlihat menenangkan bayinya.


"Ini." Kata Raniyah menyerahkannya setelah menuangkan ASI itu kedalam dot.


"Kau harus cekatan! aku jadi menyesal menikahimu! Kayaknya kamu juga sama saja kayak kakakmu!"Keluh Daiyan menerima dot dan memberikannya ke si bayi.


"Aku cuma kelelahan, maaf ."


"Aneh, kamu tidur sampe gak denger suara dari alam dunia!" Ketus Daiyan.


Raniyah tidak menyahutinya, dia hanya ingin tertidur dia sangat mengantuk sekali. Dia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Daiyan.


"Nih! Aku mau tidur, ganti popoknya juga!" Seru Daiyan menyerahkan bayi itu ke Raniyah yang langsung membulatkan matanya.


"...Jangan buat kesalahan apapun pada anakku!"Jelas Daiyan sambil berlalu.


"Hah! Aku ini baby sitter atau seorang isteri sih!" Gerutu Raniyah.


Raniyah pun segera menganti popok si bayi sambil sedikit kesulitan. Butuh setengah jam dia memakainya. Selama ini Raniyah tidak pernah memegang bayi.


"Aku pikir bayi seperti boneka tapi ternyata lebih rumit, tangan dan kaki gak diem!" Gerutu Raniyah Setelah selesai dia mengendongnya, agar si bayi terlelap.


Si bayi terlihat matanya masih melotot, sementara Raniyah sangat mengantuk, dia pun memindahkan pernel ke kasur dan membaringkan si bayi disana dengan dirinya disampingnya sambil menepuk pelan pantat sibayi agar segera terlelap. Sampai akhirnya keduanya terlelap.


#Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2