Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Pernikahan Paksa


__ADS_3

Rumah pak Ansori sudah di hias dengan pernak pernik pernikahan. Awalnya Pak Ansori dan Bu Ansori enggan melaksanakan pernikahan kedua anaknya ditahun yang sama, namun setelah meminta nasihat dari keluarga Pak Ansori terutama ibunya. Mereka memutuskan akan tetap melaksanakan pernikahan untuk Haya.


" Ibu benar gak bakal apa-apa ini?" Tanya Pak Ansori pada wanita disampingnya yang sudah berumur 70 tahunan.


Sekalipun sudah berumur, namun garis-garis kecantikan dimasa mudanya masih bisa terlihat. Ibunya Pak Ansori adalah seorang sinden di masa mudanya. Dia pandai merawat diri. Tapi semenjak menikah dengan kiyai Sodik, penampilannya berubah total dan tidak ada anak dan cucuknya yang melanjutkan pekerjaan sebagai sinden.


Ibunya Pak Ansori pun melirik ke arah anaknya, dia tersenyum lembut. Tanganya ditumpuk ke tangan anak tertuanya itu. Di mata seorang ibu, sekalipun sudah tua, anaknya tetap anak kecil.


" Ans, itu tidak apa-apa! Biarkan Haya menikah! Lihatlah puterimu! dia sangat bahagia!" Ucapnya sambil memandang Haya yang sudah berdandan dengan kebaya putih melekat ditubuhnya.


Pak Ansori pun memgikuti arah pandangan ibunya itu, memang benar puterinya terlihat bahagia, setelah beberapa hari itu dia murung sekarang ceria lagi.


" Ibu juga ingin lihat Rani menikah sebelum aku wafat Ans!" Ucap Ibunya Pak Ansori membuatnya sedikit terperajat.


Mendengar nama puteri bungsunya, terasa ada perasaan bersalah dalam dirinya. Ibunya belum tahu bahwa Raniyah sudah ditempatkan di kota yang jauh. Ibunya hanya tahu Raniyah sedang ada kegiatan dari sekolah yang padat.


" Ibu pasti akan melihat Raniyah juga!" Ucap Pak Ansori dengan cepat.


" Ah Ans, apa cucuku Raniyah punya pacar atau sejenisnya?" Tanya Ibunya.


" Emm.. Mereka sangat tertutup bu, untuk urusan asmara!" Kata Pak Ansori.


" Haya banyak disukai lelaki tentunya! Dan Raniyah, ibu waswas dia jadi perawan tua!" tutur Ibunya Pak Ansori.


"Pandangan ibu salah! Raniyah lebih banyak menaksirnya!" batin Pak Ansori.


" Ibu tidak usah khawatir! Tahun depan Ans jamin Raniyah akan menikah juga!" Jawab Pak Ansori mantap.


Sementara ibu Ansori pandangannya tampak sayu, dia sangat merindukan salah satu puterinya, sebulan sudah berlalu, tidak ada kabar anaknya, pak Ansori hanya selalu mengatakan bahwa Raniyah masih marah sehingga tidak mengabarinya.


*****


Pihak pengantin pria datang, wajah dingin terpangpang jelas dari raut Daiyan. Pasalnya, kalau bukan ibunya yang memaksa, Daiyan enggan menikah dengan Haya. Tapi, bagaimana lagi ibunya mengancamnya untuk bunuh diri.


Daiyan cukup kaget dengan tindakan berani ibunya. Dia juga heran, kenapa ibunya bersikukuh ingin dirinya menikah dengan Haya, tidak mungkin karena masalah fisik saja.


Matanya berkeliling, dia mencari sosok wanita yang disukainya. Namun tidak ada hasil, wajahnya pun tertunduk. Ada rasa amarah membludak dalam dirinya, tapi semua harus diredamnya demi baktinya kepada orang tuanya.


Penghulu pun datang, acara sakral itu pun terjadi. Ijab qobul terlantunkan, janji pernikahan dan beban tanggungjawab Daiyan sudah dipikulnya. Haya yang hadir setelah pelaksanaan ijab qobul terharu berkaca-kaca. Kini dirinya sah menjadi pendamping hidupnya Daiyan.


"Terima kasih, aku akan menjadi isteri yang berbakti padamu!" Bisik Haya sambil mencium tangan Daiyan.

__ADS_1


"Aku tidak butuh kata-kata! Buktikanlah!" Kata Daiyan setelah tangannya terlepas dari Haya.


Entahlah sedikit pun Daiyan tidak menaruh hati pada wanita secantik Haya. Semua orang akan heran karena saat para lelaki diluar sana mengandrungi wanita cantik selevel Haya, tapi dirinya justru tidak tertarik. Kata-kata ibunya semalam pun terngiang-ngiang kembali.


Kamu gak buta kan Daiyan! Haya itu Cantik lelaki manapun tidak ada yang menolak Haya! Ujar Ibunya sambil bertolak pinggang.


"Dimata mamah mungkin Haya cantik! Tapi aku memiliki pandangan sendiri!" Ucap Daiyan.


"Jangan gila kamu! Kamu pikir lagi Daiyan!"


" Bu kenapa Daiyan harus sama Haya? Kenapa?"


" Haya anaknya baik cantik pinter mandiri! Perfect!"


Sentuhan jemari tangan lembut membuyarkan Daiyan dalam lamunannya, Haya menautkan jemarinya ke jari Daiyan, perlahan Daiyan melirik tampaklah senyuman dari wajah Haya.


" Jangan melamun suamiku!" Ucap Haya lembut.


" Kenapa saudara-saudaramu tidak ada disini?" Tanya Daiyan mengalihkan pandangannya dari Haya.


" Maksudnya?"


Kini raut wajah Haya berubah, dia tahu arah pembicaraan Daiyan, yang tentunya menanyakan Raniyah. Seketika Haya memutar bola matanya, dia sangat kesal dan benci dengan sikap Daiyan yang masih saja mempertanyakan Raniyah.


*****


" Apa karena masalah waktu itu?" Gumam Pak Rasya.


" Mungkin salah satunya!" Celetuk Bu Lusi


Seketika Pak Rasya menoleh, dia memandang seolah meminta penjelasan kepada Bu Lusi. tapi tampaknya Bu Lusi sama sekali tidak mau memberitahu apapun padanya.


****


Tempat baru dan suasana baru, tidaklah mudah bagi Raniyah menyusaikan dirinya disana, ditambah udara panas kota ini membuatnya tersiksa. Makanan disini juga beberapa hal tidak cocok dengan lidahnya yang notabene berdarah sunda. Raniyah berjalan kaki di sore hari mencari makanan untuk disantapnya malam hari.


" Ini apa bu?" Tanya Raniyah saat memasuki warung makan.


" Ini pecak bandeng, ini rabeg, ini soto! Mau beli apa nong?" Tanya Ibu-ibu bertubuh gempal dengan logat khas daerah sana.


" Emm.. Pecak bandeng sama bakwan jagung aja bu!"

__ADS_1


" Sama nasi?"


" Iya bu!"


Raniyah duduk dikursi menunggu pesanannya dibungkus oleh penjual, pandangannya lurus ke depan menatap jalanan yang lalulalang mobil. Sesekali rasanya ingin dia lari dari kota ini dan kembali ke rumahnya. Tapi semua itu hanya saja terpikir di otaknya tidak pernah dilakukannya.


Dia menarik nafasnya, sudah hampir sebulan dia berada ditempat asing ini, dia tidak pernah tahu apa yang terjadi dirumah orang tuanya. Setiap mengingat kejadian waktu itu selalu saja menyesakkan hatinya.


" Nong udah!" Kata penjual menyodorkan sekeres hitam makanan.


" Berapa bu?" Tanya Raniyah.


" dua puluh dua ribu nong!" Jawabnya.


Raniyah menyodorkan uang pas, setelah itu dia pergi dan menyusuri lagi jalanan yang padat itu, udara hangat masih saja terasa meski senja sudah menyapa. Dia menatap lagi yang berwarna jingga, langit seindah itu hanya bisa dilihatnya dikota ini. Raniyah tersenyum, satu-satunya hal yang disukai ditempat asing ini adalah langit senja dengan taburang lembayung yang semakin surup mataharu, semakin memancarkan warna yang beragam, merah kuning unggu dan biru.


Raniyah melirik penjual minuman, ditempat panas ini rasanya nikmat jika meminum jus. Raniyah ikut antrian. Dia memesan jus jambu dan berdiri disamping seorang lelaki yang memakai masker berwarna hitam, sesekali lelaki itu melirik ke arah Raniyah.


Si penjual menyodorkan dua bungkus jus, pemuda disamping Raniyah langsung menyambar pesanan yang berada didepan Raniyah dan terburu-buru membayarnya, Raniyah tampak bingung dia ambil jus yang satunya membayarnya. Dia buka, benar saja jusnya sepertinya tertukar dengan pemuda itu. Raniyah tidak suka jus durian, dia berlari mengejar lelaki yang berjalan ke tempat motor-motor terparkir.


" Mas tunggu!!" Teriak Raniyah.


" Iya?" Lelaki itu berbalik.


" Ketuker!" Kata Raniyah sambil menyodorkan jus itu.


Pemuda itu langsung melihat ke arah kantong keresknya, dia tersenyum, lalu menukarkannya.


" Mbak! Orang sunda ya?" Tanya Lelaki itu.


" Oh iya, emm kok tau?" Tanya Raniyah.


" Saya juga orang Sunda, saya dari Cianjur! Teteh darimana?"Kata pemuda itu.


" Aku dari Sumedang!" Jawab Raniyah.


" Oh ternyata ya deket! Kalau boleh tau namanya teteh siapa?" Kata pemuda tersebut.


" Rani," Jawab Raniyah.


" Oke teh Rani, Saya Fahrul!"Ucapnya sambil membuka maskernya dan tersenyum.

__ADS_1


Inilah pertemuan yang menjadi awal hidup baru Raniyah, atau mungkin masalah baru akan terjadi dalam hidupnya. Senja itulah yang akan menjadi saksi pertemuan keduanya.


# Bersambung.....


__ADS_2