Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Permintaan


__ADS_3

Orang bilang kalau kamu tidak berjodoh didunia mungkin kamu berjodoh dengan kematian. Raniyah hampir saja berjodoh dengan kematian, tapi Raniyah rupanya selamat, mungkinkah Raniyah berjodoh dengan seseorang di dunia?


Ruang tengah, dimana menjadi saksi Raniyah mendengarkan permintaan ibunya yang sedang sakit parah.


"Ibu mau kamu nikah sama Daiyan Nak!" Lirih Ibunya membuat Raniyah terkejut, dia melihat semua yang hadir langsung tertunduk.


"Kenapa bu?" Balas Raniyah.


"Cuma kamu jalannya." Lirih Ibunya. Fraz yang berada disamping Raniyah langsung mengajak Raniyah keluar.


"Kenapa kak?"


"Ran kali ini saja ikuti keinginan Ibu!"


"Tapi kak menikah dengan mantan suami kak Haya, aku gak bisa!"


"Ran bukannya kamu suka sama Daiyan?"


"Hah? Mungkin! Tapi dulu kak!"


"Terserah, pokoknya kakak mohon nikah sama Daiyan ya!"


"Gak bisa kak, Rani gak mau nikah sekarang!"


Percekcokan Raniyah diluar rumah mengusik Radit untuk keluar bergabung dengan kakak beradik itu.


"Kali ini kakak juga setuju Ran, nikahlah sama Daiyan!"Ucap Radit yang tiba-tiba nonggol.


" Kenapa aku harus nikah sama Kak Daiyan?"


"Demi hak asuh anak!" Timpal Fraz.


Raniyah terdiam, dia masih belum memahami sitausinya. Semuanya terasa mendadak membuatnya kebingungan.

__ADS_1


"Haya tidak mau mengambil hak asuh anak, ibu kecewa dengan sikap Haya, ibu ingin cucunya diurus oleh Haya atau pihak keluarga kita, satu-satunya cara adalah menikahkan kamu dengan Daiyan."


Bungkam sudah Raniyah mendengar penjelasan dari Fraz. Dia duduk terdiam, jauh dalam hatinya dia benar-benar belum siap. Kekesalan juga menuhi hatinya dengan sikap Haya yang menelantarkan anaknya.


"Ayolah Ran, demi ibu!" Bujuk Radit.


"Ibu semakin tidak membaik kesehatannya semenjak mendengar perceraian Haya dengan Daiyan." Tutur Fraz.


Meskipun perceraian mereka sudah dicanangkan sedari Haya hamil. Tapi tetap saja membuat Ibu Ansor terpukul, belum omongan para tetangga yang membicarakan keluarga Ansor.


"Apa ibu akan sehat kalau aku menikah dengan kak Daiyan?" Tanya Haya.


"Semoga saja!" Balas Fraz.


Tanpa persetujuan dari Raniyah, Fraz Radit begitu pun Raniyah kembali masuk ke dalam rumah. Fraz langsung mewakili Raniyah, bahwa ia setuju menikah dengan Daiyan. Raniyah yang mendengarnya tidak bisa mengelak melihat raut bahagia ibunya.


"Syukurlah nak, terima kasih nak, ibu tau selama ini kamu yang berkorban. Semoga kamu bahagia dengan Daiyan nanti." Jelas ibunya sambil memluk Raniyah.


Tidak ada balasan dari Raniyah, dia masih mencerna semua keadaan yang membingungkannya. Dalam dirinya masih menolak untuk menikah dengan Daiyan. Bahkan rasanya dia menyesal selamat dalam kecelakan kalau tahu akan dijodohkan dengan Daiyan, dokter dingin yang terlilit hutang. Oh iya, mengenai hutang tampaknya keluarganya juga tidak tahu, kalau Haya bercerai dengan Daiyan karena Daiyan memiliki banyak hutang.


*****


Pesan banyak yang masuk ke ponsel Raniyah, semenjak kecelakaan itu banyak yang menanyakan kabar Raniyah. Dia juga diberikan cuti pemulihan pasca kecelakaan, sejujurnya Raniyah juga masih trauma untuk kembali ke Banten dengan kendaraan Bus. Dia pun memilih cuti istirahat.


Sore itu, Raniyah menyuapi ibunya. Dengan telaten dia memberikan suapan pada ibunya, suasana hati Bu Ansor tampak semakin baik. Bayi anaknya Haya hari ini akan dibawa ke rumah. Sementara Haya banyak mengurus urusan sekolah dengan kekasih barunya.


Raniyah cukup terkejut dengan hal ini, Haya bisa-bisanya langsung menjalin hubungan dengan lelaki baru padahal baru sebulan juga belum genap mereka bercerai.


Dari arah luar terdengar suara motor berhenti dipekarangan. Radit berjalan masuk sambil mengucapkan salam, dia tampak berseri-seri.


"Keluarga Daiyan menerima Raniyah, mereka akan datang hari ini resmi untuk melamar Raniyah!" Seru Radit.


Sontak Raniyah terkejut bukan main, padahal dia berdoa agar Daiyan menolak pernikahan mereka. Ibu Ansor terlihat berkaca-kaca mendengarnya, sementara Pak Ansor dari dapur langsung mendekat.

__ADS_1


"Beneran Dit?"


"Iya pak, ayo siap-siap! Mereka juga Bawa De Salsa!" Seru Radit.


Salsa adalah anaknya Daiyan dengan Haya. Ibu menepuk Raniyah yang bengong mendengar berita tersebut. Mungkin seharusnya orang yang akan dilamar itu bahagia, seperti halnya dulu saat dirinya akan dilamar oleh Ahsan. Tapi sekarang hatinya terasa hambar dengan semua hal tentang pernikahan.


"Ayo dandan Ran!" Seru ibunya.


"Oh iya bu," Raniyah ragu untuk berdiri.


Perlahan Raniyah berdiri dan menuju kamarnya,namun bukannya berdandan dia malah melamun. Dia membuka lemarinya, disana ada kebaya berwarna merah, ingatannya masih segar saat dia memakainya untuk acara lamaran Ahsan. Raniyah pun menghela nafasnya.


Menikah dengan seseorang yang tidak terbayangkan sekalipun!Rasanya aneh, benarlah aku harus menikahinya? Ya Allah apa ini rencanamu? Batin Raniyah


Tok tok tok


"Ran udah ganti baju?" Suara Ibunya nyaring dari luar.


"Oh iya bu sebentar lagi!" Balas Raniyah langsung meraih kebaya itu.


Tanpa pikir panjang dia memakainya dan berdandan dengan make up natural, dia keluar kamar, ibu yang melihatnya tersenyum.


"Ya sudah tunggu didalam saja, sampai Daiyan dan keluarganya datang!" Seru ibu bersemangat.


Sore itu juga banyak tetangganya paman dan bibinya dirumahnya menyiapkan hidangan untuk acara lamaran. Raniyah sendiri dia fokus menatap pantulan dirinya, ada rasa ingin melarikan diri dari keadaan yang sedang menjeratnya.


Samar-samar diluar terdengar suara ucapan salam, Raniyah bergemuruh hatinya. Tampaknya keluarga Daiyan sudah sampai dan ibu serta ayahnya sudah menyambut kedatangan mereka. Raniyah meremas ujung kebayanya. Dia merasa tidak sanggup harus menerima lamaran Daiyan.


Akankah aku berdosa menikah dengan terpaksa, jujur aku belum siap untuk menikah Batin Raniyah.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu itu membuyarkan pikiran Raniyah, dengan berat hati dia bangkit dari duduknya hendak membuka pintu.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2