
Di sebuah kafe, lantunan suara nyaring penyanyi melengking mengisi kesunyian di orang-orang yang sedang menikmati secangkir kopi. Raniyah terus menatap ke arah penyanyi yang sedang menyanyikan lagu kesukaannya, "cinta" karya melly goeslow.
Naluriku berkata
tak ingin terulang lagi
kehilangan cinta hati
bagai raga tak bernyawa..
(Cinta_Mely goeslow)
Sementara, Fahrul terus menatap wanita dihadapannya, sesekali sudut bibirnya tersunging. Lalu dia beralih ke ponselnya, dia tampak membalas beberapa pesan di ponselnya. Setelah lagu selesai , Raniyah berbalik menghadap Fahrul yang selama lagu diputar dia membelakanginya.
Raniyah menyeruput lemon tea digelasnya, wajah Fahrul yang tersenyum-senyum membalas pesan, itu sedikit membuat Raniyah berkerut dahi. Hal itu sukses membuatnya teringat dulu Ahsan yang tengah selingkuh.
"lagi chat sama siapa? seneng banget!" Sinis Raniyah membuat Fahrul mendongkak.
" Mm.. Temen!" Jawab Fahrul sambil mengulas senyuman dan menyimpan ponselnya di meja.
" Oh!" Balas Raniyah singkat.
" Oh ya, seminggu yang lalu aku ketemu lelaki, nanya tentang kamu dan kayaknya mantan kamu!" tutur Fahrul.
" Oh yea? Terus bagaimana menurutmu?"
" Ya, aku tahu kamu pasti memiliki mantan, tapi baiknya kau selesaikan urusan dengan mantan kamu juga!"
" Aku sudah selesai hubungan dengannya!" Ucap Raniyah enggan membahas soal Ahsan.
"Dia jauh-jauh datang kesini untuk menemuimu, bicaralah baik-baik dengannya, aku tidak mau terkesan merebut cewek orang." Tutur Fahrul.
" Iya A Fahrul, aku sudah menjelaskannya." Ucap Raniyah.
" Rani!"
" Iya kenapa?"
" Kamu tidak keberatan nikah sama aku yang bukan PNS?"
" Loh memangnya kenapa?"
" Ya gimana gitu rasanya."
" Sudahlah tidak usah pikirkan hal itu."
Fahrul menghela nafasnya. Sesekali dia menatap Raniyah yang berada dihadapannya. Dia meraih lagi ponselnya, lalu membalas chatnya.
" Aku sepertinya tidak bisa pergi besok bareng kamu ke pelabuhan merak, maaf ya."
__ADS_1
" Oh ya, kenapa?" Tanya Raniyah penasaran.
" Mantanku menikah besok!" Ucap Fahrul sambil mengambil kopinya.
Deg
Seketika ada rasa ngilu dalam hati Raniyah mendengar alasan dari Fahrul yang membatalkan acara mereka untuk melakukan perjalanan ke Pelabuhan Merak yang sangat didambakan oleh Raniyah, mungkin dirinya tidak akan kesal kalau alasannya pekerjaan tapi alasannya pernikahan mantannya, seketika wajah Raniyah berubah muram, tapi Fahrul tidak menyadarinya, dia terlihat sibuk dengan ponselnya.
" Kamu batalin karena mau dateng ke nikahannya?"
" Emm." Jawab Fahrul tetap fokus ke ponselnya membuat Raniyah menghela nafas beratnya.
"Pergi sama siapa?"
" Oh, aku pergi bareng temen-temen kuliah, sekalian balik ke kampung halaman."
" Oh begitu,"
Ada rasa kecewa pada Fahrul, Raniyah menatap jam tangannya menunjukkan pukul 8.00 malam. Dia melirik Fahrul yang tampak sibuk terus dengan ponselnya dan sesekali tersenyum. Raniyah kesal sekali dengan sikap Fahrul hari ini.
" A, aku ngantuk. Kita pulang saja ya!" Ajak Raniyah.
" Oh iya ayoo!" Ucap Fahrul sambil mendongkak kepala dan memasukan ponselnya ke saku celananya.
Sebenernya Raniyah bukan mengantuk, tapi dia tidak tahan merasa di abaikan oleh Fahrul yang asyik bertukar pesan di ponsel. Raniyah merasakan kecemburuan, tapi hal itu tidak tertangkap oleh Fahrul.
dia gak peka apa! Caranya main hp terus itu menyebalkan! Bantin Raniyah selama dibonceng Fahrul.
" Kenapa Ran?"
" Apa begitu penting mantan kamu?"
"Bukan gitu Ran, pernikahan kan cuma sekali dilaksanakan, kalau jalan-jalan kita bisa kapanpun Ran, tolong ngerti dong!"
" Yeah! terus kenapa gak ajak aku ke pernikahan mantanmu?"
Fahrul terdiam tidak lantas menyahuti perkataan Raniyah, Dia membalasnya dengan senyuman dna mengelus kepala Raniyah, lalu menyalakan mesin motor.
" Aku pulang dulu ya, kamu kan katanya tadi ngantuk!" Ucap Fahrul langsung melambaikan tangannya.
Raniyah hanya bisa melonggo melihat sikap Fahtul, dia bingung dengan Fahrul yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Dia kembali ke kontrakanya sambil terus memikirkan sikap Fahrul yang sama sekali tidak terbuka soal pernikahan mantannya.
" Apa jangan jangan dia belum move on dari mantannya itu!" Gerutu Raniyah sambil menghempaskan pantatnya dikasur.
Raniyah langsung melirik ponselnya, dia masih merasa ganjil dengan sikap Fahrul. Dia tunggu ponselnya menunggu Fahrul yang biasanya menghubunginya. Namun sudah satu jam lewat, Fahrul tidak menghubunginya. Raniyah memutuskan mengirim pesan.
Raniyah:
Sudah tidur?
__ADS_1
Pesan centang dua tapi tidak centang biru, padahal online, Raniyah terdiam ada sedikit kekesalan, dalam hati merasa apakah dirinya terlalu agresif pada Fahrul. Raniyah tidak mendapatkan balasan dari Fahrul langsung kesal dan memutuskan mematikan data dan memilih tidur saja.
Hari minggu yang cerah, hati Raniyah masih dongkol pada Fahrul, dia tidak menghubungi Fahrul, lebih memilih menyelesaikan pekerjaan mencuci pakaiannya. Dia menghabiskan waktu pergi ke Ramayana, dia memilih sepatu buat ganti, karena sepatunya sudah hampir rusak.
Raniyah benar benar melampiaskan rasa kecewa tidak jadi jalan jalan dihari libur dengan berbelanja dan menikmati pemandangan di alun-alun kota Serang. Minggu dialun-alun banyak sekali yang berjualan dan banyak anak muda yang nongkrong.
Raniyah memutuskan mengaktifkan oaket datanya, ada dua pesan masuk, seketika senyumannya mengembang sebentar, karena pesan itu datang dari Fahrul.
**Fahrul**:
**Sorry, keasyikan chat sama temen, aku lagi dijalan. Balik lagi Minggu depan kayaknya**.
**Raniyah**:
**Iya semoga menyenangkan disana**
Setelah itu Raniyah hanya bisa menghela nafas, rasanya kehidupan disini tanpa Fahrul jadi hampa. Meskipun Fahrul bisa menghubungi lewat telpon, tapi jika tidak melihat langsung tetap saja rasanya Raniyah kesepian. Dia melirik ke arah anak muda mudi yang memadu kasih tengah asyik bercanda, dirinya hanya bisa tersenyum lalu beralih menatap ke arah anak umur 2 tahun yang tengah belajar berjalan
" *seharusnya aku pun sudah memiliki anak diusia segini, Astagfirullah gak boleh bandingin kehidupan kita sama orang lain" Gumamnya* Raniyah.
Raniyah membuka akun facebooknya yang sudah lama dia tinggalkan, ternyata disana banyak pesan dari bu Lusi. Dia langsung membacanya, sesekali dia tersenyum tampak pesan panjang dari bu Lusi itu membuatnya ingin tertawa. Sekali pun lewat chat bu Lusi memang terlihat sangat bawel.
Pesan bu Lusi pun satu-satu dibahas, dia mulai menanggapi tenyang Jesika yang akhirnya mengundurkan diri dari sekolah, kemudian perihal Pak Rasya yang tampak sedang pdkt dengan mahasiswa PPL. Semua kejadian di sekolah diceritakan oleh Bu Lusi. Selagi asyik dengan ponselnya, terdengar suara samar-samar yang memanggilnya.
" Raniyah!!"
Seketika ia menoleh ke arah sumber suara, wajahnya langsung memucat pasi, badannya mematung tidak bisa digerakkan. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa bisa dia ditemukan olehnya
__ADS_1
\#Bersambung....