Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Minta Cerai


__ADS_3

Suara Haya tampaknya hanya sampai kerongkongan, semuanya terasa berat untuk disampaikan, tatapan keluarganya membuatnya menciut. Haya kembali tertunduk menguatkan dirinya. Dia sesungguhnya takut akan keluarganya yang mungkin saja marah.


"Ada apa Haya, cepat katakan!" Bujuk Ibunya sangat tidak sabar.


Bukannya langsung angkat bicara, Haya terdiam seribu bahasa, dia menatap ke arah vas bunga diatas meja, pikirannya kembali melayang ke masa lalu. Dia menghela nafasnya, akankah baik keputusannya ini. Dia terus menimbangnya, sampai akhirnya Kak Radit tersenyum kecut melihat raut wajah Haya.


"Kamu tidak berani bicara Haya?" Ledeknya.


Seketika ucapan Radit cukup membangkitkan jiwa wanita hamil yang sangat sensitif, Haya menatap taj pada Radit kakak keduanya itu.


"Aku hendak bercerai dengan kak Daiyan!" Dalam satu tarikan nafas Haya menyampaikan itu dengan tatapan tertuju pada Kak Radit.


Semua yang mendengar perkataan Haya langsung tercengat kaget. Haya beralih menatap orang tuanya yang terlihat kaget. Haya menghela nafasnya.


"Haya sudah tidak cocok lagi dengan Kak Daiyan!"


"Apa maksudmu gak cocok?" Tanya Pak Ansori.


"Haya ingin tetep kerja, tapi kak Daiyan ingin aku jadi ibu rumah tangga, dan hal ini sudah tidak bisa di diskusikan lagi! Menjadi ibu rumah tangga buka fashion ku!" Cerocos Haya membuat Pak Ansori dan Bu Ansor saling bertukar pandangan.


"Kenapa baru bicara hal ini sekarang?" Sela Radit.


"Kau harus menerima perintah suaminya Haya!" tegur Fraz.

__ADS_1


" Lah, kakak sendiri apa dihargai sama kak Mela? fia selalu menuruti perintah kakak?" Balas Haya membuat Fraz kiku dan terpojokan.


" Kau jangan bicara begitu Haya!" Tegur Ibunya.


"Ya kan Haya cuma pengen cerai! Bisakan bapak ibu nerima keputusan Haya," Tekan Haya.


"Hayaa.. Kamu kenapa gak nurut sama suami saja, lagian kamu mau punya anak, nanti kamu bisa fokus ngurus anak kalau jadi ibu rumah tangga!"jelas ibu.


" Aduh, Haya gak suka berdiam diri dirumah, Haya suka dunia luar!"


"Haya, apa kamu gak bisa mengalah, turunkan ego mu!" Kata Pak Ansori.


" Enggak bisa!" Jawaban Haya saklek.


"Haya nikah itu kamu harus bisa menurunkan egomu!" Jelas Fraz.


"Aku titik mau cerai!" Kata Haya sambil bangkit dati duduknya dan berlalu meninggalkan ruang tengah.


Semua yang ada diruangan langsung melonggo melihat tingkah Haya. Pak Ansori memegang kepalanya terasa pusing sekali melihat tingkah puterinya. Sementara Radit langsung membuang nafasnya dan menyenderkan punggungnya di sofa.


Pak Ansori memang sering melihat akhir akhir ini Daiyan datang hendak menjemput Haya pulang, tapi sikap Haya selalu saja jutek dan tidak mau kembali ke rumah mereka berdua. Namun, Pak Ansori tidak menyangka bahwa puterinya malah menginginkan bercerai dengan suaminya itu.


Padahal demi pernikahan Haya dengan Daiyan, dia harus rela membuang Raniyah sejauh mungkin, tapi kalau pernikahan mereka hanya seumur jagung saja, dia merasa sangat kecewa dan menyesal melakukan tindakan dahulu.

__ADS_1


Rasanya bebannya bertambah, mengingat kesan putera dan puterinya yang tentunya bakal dicap tukang 'kawin cerai', bukan hal asing para tetangga mengosip tentang keluarga pak Ansori terutama Radit yang dikenal tukang kawin cerai, dan ditambah Haya saat ini ingin melayangkan perceraian pada Daiyan.


*****


Surat undangan biru muda, tersimpan dimeja kerja, sedari tadi Raniyah menatap kearah undangan tersebut, ukiran tulisan yang indah terpahat disana, lelaki pujaannya sebentar lagi akan mengikat janji suci pernikahan, disana tertera waktu yang terhitung seminggu lagi. Teriris-iris hati Raniyah, rasanya dia ingin menumpahkan segala rasa yang berkecambuk.


Marah, kecewa, emosi, ingin menangis mengisi relung hatinya. Tapi siapa yang bisa merubah taldor, semua yang dirasakan tidak akan mengubah takdir yang sudah terpatri. Raniyah mengulurkan tangannya membuka laci meja kantor. Dia memasukan undangan tersebut dan menyimpannya.


"Mungkin benar, mencintai tak harus selalu memiliki," Gumam Raniyah sambil memejamkan kelopak mata.


Kini, Raniyah menatap benda pipih, dia menelpon seseorang, entah kenapa baru kali ini dia menghubungi orang rumah. Selang beberapa detik telpom baru tersambung.


"Halo, sama siapa?" Suara di sebrang telpon terdengar nyaring.


"Raniyah bu," Balas Raniyah.


"Raniyah nak, bagaimana kabarmu nak, ibu rindu kamu nak!"


" Baik, bagaimana ibu?"


"(Terdengar terisak disebrang telpon) Baik kapan kamu pulang?"


"Minggu ini Raniyah akan pulang!" Ucap Raniyah.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2