Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Cilung penuh kenangan


__ADS_3

Raniyah dan Teguh masih bercengkrama, maklum mereka sudah hampir 10 tahun tidak berjumpa, semenjak Raniyah lulus SMA dan memutuskan kuliah di Bandung, sementara Teguh kuliah di Jakarta, tidak pernah mereka saling bertukar kabar sekalipun.


Di bawah pohon rindang itulah mereka duduk berdampingan saling bertukar pengalaman hidup yang sudah dilalui selama ini. Teguh terus menatap Raniyah dan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya selama Raniyah bercerita. Benar-benar membuat Raniyah merasa nyaman menceritakan pengalamannya.


" Aku pernah kehabisan ayam saat makan parasmana ketika praktikum di Jogja, akhirnya kokinya kembali ke dapur dan membawakan paha ayam yang sangat besar padaku." Ujar Raniyah sambil tersenyum dibalas senyuman pula oleh Teguh.


"Hehe, setidaknya mereka baik mau menambah satu porsi ayam saat itu.." Timpal Teguh sambil tersenyum memamerkan gigi dan lesung pipinya yang menambahkan aura ketampanannya.


Cilung cilung cilung


Penjual cilung tiba-tiba lewat membuat Raniyah dan Teguh berhenti bercerita dan saling pandang lalu mereka tertawa, Teguh pun memanggil penjual cilung.


" Bang Cilungnya dua ya, yang satu pedes yang satu enggak!" Ujar Teguh melirik ke arah Raniyah.


" Wokeh siap!! Cewek baru nih!" Ucap tukang Cilubg membuat Teguh berdehem.


" Masih suka pedes kan?" Tanya Teguh yang dibalas anggukan oleh Raniyah.


Penjual cilung pun langsung membuat adonannya, ini adalah makanan favorit Raniyah ketika SMA. Setiap istirahat dia akan membeli telur gulung dan cilung pedas. Teguh ingat betul saat itu dia sampe berebut Cilung dengan Raniyah, sampe berantem dua hari. Gara-gara Cilung yang dipesan Raniyah diserobot sama Teguh dan diberikan ke pacar Teguh.

__ADS_1


Setelah dua menit penjual cilung langsung menyodorkan cilung itu ke Teguh, dan langsung di terima oleh Teguh lalu dia membayarnya, penjual pun segera pergi karena dia tidak mau menganggu dua muda mudi itu. Teguh menyodorkan cilung pedas ke Raniyah.


" Anggap saja sebagai permohonan maaf karena kejahatan dimasa lalu!" Ucap Teguh sambil cengir.


Raniyah tertawa mendengarnya dan langsung menerima cilung pedas itu sambil manggut-manggut.


" Makasih Teguh, hehe .. masih ingat saja masalah itu!" Ucap Raniyah sambil hendak mengigit cilungnya.


" Tunggu!"


"Kenapa lagi? Apa kamu mau kasih ke pacar kamu lagi cilungnya?" Ucap Raniyah kebingungan.


" Enggalah Ran.. Hahaha... Maksudku masih panas jangan langsung dimakan!" Ucap Teguh membuat Raniyah mengerti.


" Kamu kalau ketemu cilung suka gak sabaran ya," Ledek Teguh.


" Kamu juga kalau ketemu cewek suka gak sabaran!" Balas Raniyah sambil menyipitkan matanya tidak mau kalah.


"Iya, apalagi kalau ceweknya kamu, bawaannya pengen nikahin." Sorot mata Teguh memperhatikan respon Raniyah.

__ADS_1


Tapi tampaknya Raniyah tidak terpengaruh yang membuat Teguh keheranan, Raniyah bisa bisanya bersikap tenang tidak menunjukan wajah seperti wanita pada umumnya yang ditemui kalau digombalin langsung malu-malu kucing.


Apa Raniyah gak tertarik cowok gitu! Batin Teguh sambil mengigit cilungnya.


" Sepertinya sudah dingin, bisa dimakan!" Sahut Raniyah.


"Tunggu dulu!" Ucap Teguh dan merebut cilung Raniyah membuat Raniyah gelagapan.


Beberapa saat kemudian tampak Teguh mengibas-ngibaskan tangannya ke arah cilung dan meniupnya, Raniyah mengelengkan kepala melihat sikap Teguh yang sok romantis dimatanya.


Sementara Ahsan dan Hisyam yang lewat daerah tersebut memperhatikan adegan tersebut, raut wajahnya sudah tidak dapat diartikan. Hisyam menghela nafasnya melihat sahabatnya yang tampak kebakaran jengot.


" Yaelah mau sampe kapan bro nontonin terus! Pegel tau!" Celetuk Hisyam.


"Kenapa si Teguh pindah kerja disini?" Ucap Ahsan tidak menimpali ucapan Hisyam.


" Mereketehe, bukan urusan guelah, suka suka Si Teguhlah!" Sinis Hisyam.


" Modus!" Gerutu Ahsan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Huh, lo jealous ya. Ya bolehlah dulu si Teguh kalah dapetin Raniyah, tapi sekarang kamu harus sadar bentar lagi bakal nikah! Udah ikhlasin aja ya!" Hisyam menepuk pundak Ahsan sambil memberinya nasihat.


#Bersambung....


__ADS_2