Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Obrolan keluarga


__ADS_3

Suasana rumah Pak Ansori tidak seperti biasanya, hari ini semua anaknya berkumpul kecuali Raniyah yang berada di luar kota. Tampak disana Pak Ansori tertunduk lesu, pasalnya dia sedang menghadapi masalah yang sangat rumit. Mata sendu Bu Ansor menatap putera puterinya yang berada diruang tengah mengelilingnya.


"Fraz butuh modal bu!" Kata Fraz menatap ibunya.


" Untuk apa?" Balas ibu.


" Kak Fraz tolong dong jangan bikin rumit keadaan! Kita selesaikan dulu masalah Haya!" Sela Radit.


"Kau Radit! Apa hak mu ikut campur!" Kata Fraz yang tiba-tiba naik pitam.


" Sudah sudah Cukup!" Pak Ansor menengahi adu mulut anaknya yang hampir saja akan menimbulkan keributan.


Semuanya kembali hening, Haya mengelus oerutnya yang membuncit menuju kelahirannya hanya tinggal menghitung hari saja. Antara dua mingguan lagi, dia akan melahirkan. sedari tadi dia duduk gelisah, mulai tidak nyaman. Bu Ansor menatap Haya yang tampak tenang saja, seperti tidak ada masalah.


" Kau kenapa ada dirumah Haya! bukan bersama suamimu!" Tegur Radit menatap sinis.


Hubungan Radit dengan Haya menjadi kurang akur karena Raniyah menghilang hingga saat ini. Dalam hati Radit selalu kesal melihat tingkah Haya yang selalu seenaknya dengan adik bungsu mereka. Belum lagi sikap Pak Ansori yang selalu memihak Haya semakin membuat Radit jengah.


"Aku sebentar lagi akan melahirkan!" Jawab Haya sedikit ketus.


" Memang tapi kan su--" Ucapan Radit terpotong oleh isyarat dari ibu yang memintanya berhenti bicara.


"Sttt!!" ibu sambil menempelkan telunjuknya dimulut.


"Bu, aku minta bagian warisan buat Fraz!" Celetuk Fraz tiba-tiba membuat semua mata tercengkat.


" Kak!!" Tegur Haya dan Radit bersamaan.


"Kenapa kau bicarakan hal ini Fraz!" Akhirnya Pak Ansori angkat bicara.

__ADS_1


" Fraz butuh buat modal usaha! Fraz mau buka usaha jahit!" Tutur Fraz yang langsung mendapat cibiran dari Radit.


" Hutang yang 50 juta saja buat buka restoran ikan belum diganti!" Celetuk.


" Lah Dit kau jangan bahas bahas hutang yang itu!"Balas Fraz langsung tersulut.


" Aku punya haklah buat nangih hutang itu kak! Ini sudah 3 tahun kakak gak ada niat bayar apa!!" Ucap Radit.


" Suuudaaaah!! Ibu sama bapak gak bisa ngasih ke kamu Fraz! Ibu masih hidup kau sudah ngomongin warisan!" Gerutu ibu sambil disudut matanya ada setitik air mata.


"Hayolah bu, Fraz cuma minta tanah kebun yang di Balong gede doang!" Rajuk Fraz memohon.


" Gak pantes kak! Minta teruuuus ke orang tua!" Ledek Radit.


" Huh!! Bapak justru mau minta tolong kalian! Bapak butuh uang 60 juta buat bayar hutang bapak!" Jelas Pak Ansori membuat semua anaknya bungkam.


" Iya jelas kak Fraz gak punya ,karena hidup terus ngikuti gaya hidup isteri yang hedon!" Ucap Haya ikut meledek kakak pertamanya.


"Diam kamu!" Sorot mata Fraz menajam ke arah Haya yang langsung memutar bola matanya.


"Coba hubungi Rani, mungkin dia ada!" Ucap Ibu Ansori.


" Giliran minta uang aja, dicari tuh anak!" Celetuk Radit yang tampak jengah.


" Hus kak Radit!" Ucap Haya melotot.


" Kalian bisa tidak berantem, ibu pusing!" Kata ibu Ansori.


" Radit ada uang tapi buat khitanan Jaka si bungsu itu pun cuma 20 juta!" Ucap Radit.

__ADS_1


" Haya juga ada tabungan 30 juta tapi buat persalinan dan sebagainya." Balas Haya.


"Ah iya ibu lupa, seharusnya ya pak kita gak boleh repotin anak-anak kita yang sudah berumah tangga ini!" Lesu bu Ansor yang langsung dirangkul oleh Pak Ansori.


"Sudah bu gak apa-apa, bapak bakal usaha cari pinjaman dulu," Tutur Pak Ansori.


Radit menghela nafasnya, dia juga sebenernya tidak suka dengan sikap ayahnya yang memiliki kebiasaan menghutang, bahkan saat ini dia baru tahu ayahnya menghutang lagi sebesar 60 juta, dengan alasan biaya pas pernikahan Haya dan beli sapi. Radit selalu tidak habis pikir dengan ayahnya yang katanya mengerti agama tapi gemar meminjam uang.


Tangan Radit terulur mengeluarkan amplop yang mengembung, yang pasti isinya sangat banyak didalam sana, Pak Ansor dan bu Ansor menatap ke arah Radit dengan tidak percaya.


" Pakai saja dulu ini bu, sisanya ibu sama bapak bisa cari ke yang lain."


"Kau bilang akan mengkhitan Jaka, bagaimana ini?"


" tidak apa-apa Jaka bisa dikhitan tahun depan, asalkan sekarang bapak beresin hutangnya!"


" iya iya Dit, makasih nak, maafkan bapak sama ibu selalu saja merepotkan kalian!".


Setelah perbincangan panjang itu, tampak Haya dia seperti mencari waktu yang tepat untuk berbicara. Dia tertunduk, ada perasaan tidak tega melihat anggota keluarganya bersenda gurau, dalam hatinya tak ingin mematahkan kebahagiaan yang ada.


"emm.. bu pak.." Ucap Haya sambil memilin-mikin ujung bajunya.


Semuanya langsung menoleh dan menjadikan Haya pusat perhatian, hati Haya semakin berkecambuk dan bibirnya kelu mendapatkan tatapan dari orang tua dan saudara-saudaranya.


"Kenapa Haya?" Tanya ibunya sambil berkerut dahi.


"Emm.. sebenernya ada yang mau Haya omongin," Ucap Haya sambil menatap satu persatu-satu orang yang menatapnya.


#Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2