
Drrt drrt drrt
Raniyah menatap ponselnya yang bergetar, sebaris nomor baru terpangpang, dimengeser tombol hijau, namun tidak lama kemudian suara bel masuk pelajaran berbunyi. Raniyah tidak jelas mendengar suara disebrang telponnya.
"Hallo, Assalamualikum siapa ini?" Tanya Raniyah tapi tidak ada jawaban dari telpon seberang.
tut tut tut
Panggilan terjeda, Raniyah pun memasukan ponselnya ke saku dengan mode hening. Dia melenggangkan kakinya menuju ruang kelas yang akan diajarkan olehnya.
Disisi lain, Haya dengan Daiyan tengah memeriksa kandungan, saat ini Haya sudah hamil menginjak usia satu bulan. Dia pergi ke dokter karena terjadi pendarahan.
" Ibu harus istirahat dulu, jangan kecapean. Gak boleh Hb dulu ya!" Kata Dokter.
"Iya bu,"
"oh ya sama mau ngobrol sama suami ibu ya,"
Haya pun keluar dari ruangan dan memanggil Daiyan untuk bertemu dengan dokter kandungan. Sementara Haya menunggu diluar. Daiyan yang memakai pakaian kemeja dengan celana lepis itu tampak gagah tidak seperti seorang dokter. Dia pun masuk dan duduk.
"Bagaimana isteri saya?"
"Dia sehat, asalkan tidak kecapean, untuk sementara bapak tidak boleh HB dulu ya selama 3 bulan."
" Oh yeah!" ucap Daiyan menangguk sedikit bingung"
" Baiklah kalau tidak ada yang ingin ditanyakan, ini obat yang harus ditebus dan ini resep makanan yang harus dikonsumsi ibu hamil." Jelas dokter tersebut.
"Baik dok terimakasih!" Daiyan menerima secarik kertas dan berdiri lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Melihat Daiyan keluar dari ruangan, Haya langsung memburu ke suaminya, dia mengandeng lengan Daiyan sambil senderan manja.
"Kata dokter kenapa?" Tanya Haya.
__ADS_1
" Kamu sehat," Kata Daiyan mengulas senyuman tipis.
Keduanya pun berjalan beriringan, sepanjang jalan menuju parkiran Haya tidak melepaskan tangannya dari Daiyan, saat ini dirinya merasa sangat bahagia, hidup bahagia dan memiliki keturunan dengan lelaki pujaannya adalah impian terbesarnya.
Cup
Haya menjinjitkan kakinya dan mengecup pipi Daiyan, seketika wajah Daiyan memerah oleh tingkah isterinya. Haya tersenyum melihat Daiyan yang tampak malu.
"Apa ibu hamil sangat agresif?" Tanya Daiyan sambil membukakan pintu mobil.
" Mungkin," Goda Haya membuat Daiyan tersenyum dan pergi ke arah pintu mobil satunya.
"...Aku sangat mencintaimu, Daiyan!" Ucap Haya membuat Daiyan memgangguk.
Dia yang sudah berada di dalam mobil langsung menyalakan mesin mobil. Haya terus memandangi wajah Daiyan yang elok seperti dewa hermes. Dia menghembuskan nafasnya, seketika pikirannya teringat adik bungsunya.
Sudah sekitar 3 bulan lebih, dia membuang adiknya ke kota antah berantah, dan sampai detik ini dia tidak mendengar kabarnya. Haya merasa dirinya sangat kejam pada adik bungsunya. Tapi mau bagaimana lagi, demi mendapatkan Daiyan dia harus menyingkirkan adiknya itu jauh dari kehidupan mereka. Dan buktinya sekarang hasil dari jerih payah Haya membuang adiknya, dia bisa mendapatkan cintanya Daiyan dan hidup bahagia.
Namun terkadang, dia merasa resah juga, jika suatu ketika Raniyah adiknya itu datang, apakah Daiyan akan terpincut lagi. Tapi sekarang dengan adanya janin diperutnya, Daiyan tidak akan meninggalkannya. Haya pun memgelus perutnya, sambil tersenyum.
Daiyan melirik ke arah isterinya yang tampak diam saja. Dia merasa keheran, melihat Haya tampak memikirkan sesuatu.
" Lagi mikirin apa?"
"Enggak ada!" Jawab Haya sambil tersenyum.
"Ekhem.. Haya, kamu sering ketemu Rani gak?" Tanya Daiyan takut-takut denhan sedikit melirik ke arah Haya.
Jelas raut wajah Haya berubah derastis, dia tampak marah mendengar pertanyaan tersebut. Haya heran kenapa baru saja dia memikirkan tentang adiknya, dan kini Daiyan juga mempertanyakan adiknya itu.
"Kenapa kamu nanyain itu? emang ada urusan apa sama Rani!" Ketus Haya tidak senang kalau Daiyan tanya-tanya tentang Raniyah.
" Loh, aku cuma nanya aja, dia kan adikmu! Kalian kan sangat deket!"
__ADS_1
" Alah alasan!" Kesal Haya.
" Loh, kamu kok gitu, masa kamu masih cemburu?"
" Ya terus kalau aku cemburu kenapa? Kamu gak suka!" Kini nada bicara Haya naik satu oktaf.
" Sudahlah, aku tidak akan menanyakannya lagi!"
Keduanya pun hening, Daiyan heran, selalu saja Haya marah setiap ditanya tentang Raniyah, bolehlah dulu dia ada rasa sama Raniyah tapi kan sekarang tidak mungkin dia menyimpan rasa itu, apa lagi sekarang dia sudah mau jadi ayah, dan dia juga mulai mencintai Haya.
Terkadang dia merasa ada yang tidak beres hubungan antara Haya dengan Raniyah, terutama dia tidak pernah melihat batang hidung Raniyah sejak hari pertengakaran di rumah pak Ansori, dia pernah ngecek ke sekolah dan Raniyah sudah tidak bekerja disana.
*****
Guyuran hujan membasahi kota Banten, Raniyah mengembangkan payung dia mulai berjalan menerobos hujan. Di tengah hujan itu dia melihat, ada seorang lelaki yang tampaknya dia kenal, sedang berjalan satu payung dengan wanita.
Fahrul batinnya.
Cepat langkah Raniyah melangkah dengan setengah berlari sambil memanggil nama Fahrul.
"A Fahrul!!!"
" A Fahrul!!!"
Namun suara Raniyah tampaknya tertelan oleh air hujan yang deras, dia pun berhenti karena kedua orang itu sudah memasuki mobil pribadi. Raniyah hanya bisa mematung ditengah hujan itu, setelah melihat mobil itu melaju, Raniyah melanjutkan langkah kakinya ke kontrakannya.
Fahrul akhir-akhir ini membuat perasaannya kacau. Kegundahan terus melandanya, kini Raniyah pun mulai bimbang dan berpikir mungkin benar yang dikatan Fahrul, mereka harus menimbang lagi hubungan ini. Begitu dia sampai di dwpan gerbang kontrakan
" Apa aku harus menjauhinya?" Gumam Raniyah menatap lagi yang menurunkan hujan dengan sedikit meletakan payungnya agar terlihat lagi putih itu.
Tiba-tiba jaket hangat muncul menyelimuti tubuhnya Raniyah tercekat, dan tangan seseorang memeluknya dari belakang. Jantungnya berdebar-debar.
"Kenapa gak pake jaket! Kan dingin!" Bisiknya.
__ADS_1
#Bersambung...