Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Sudah berakhir


__ADS_3

"Aku rasa kita tidak perlu melanjutkan pertunangan ini!" Ucap Raniyah dengan mata berkaca-kaca.


"Enggak!! Aku gak mau Ran! Aku mau nikah sama kamu! Aku gak ada hubungan apapun sama Jesika!"


"San! Bahkan kita tidak tau bisa menikah kapan! Apa kamu sanggup menunggu lama? Baru sebulan saja kamu sudah jalan dengan yang lain! Jadi mendingan silakan kamu cari wanita lain!"


"Ran.. Aku gak mau pertunangan kita batal! Aku cinta sama kamu Ran!" Tatap Ahsan dengan berurai air mata.


Raniyah memalingkan wajahnya, yang sakit dengan keputusan pembatalan pertunangan bukan hanya Ahsan, Raniyah juga merasakannya, sebenarnya dia juga berat memutuskan hal itu, tapi hatinya sudah terlalu sakit. Raniyah pergi tanpa pamit, dia berjalan dengan cepat meninggalkan Ahsan yang mengejarnya. Raniyah masuk ke angkot dan langsung jalan, Ahsan langsung mengambil motornya dan mengikuti angkot tersebut. Bahkan mensejajarkan motornya dengan angkot.


Duk duk


Tangan Ahsan mengebrak pinggiran mobil angkot, semua yang berada didalam angkot langsung meliriknya.


"Ran!! Dengerin aku dulu!" Teriak Ahsan membuat yang diangkot memperhatikan Raniyah yang menunduk.


" Udah neng turun aja! Selesaikan urusannya"Ucap Supir.


Tidak ada sahutan dari Raniyah, sementara Ahsan masih terus tangannya mengebrak-gebrak pinggiran angkot, dan dari arah berlawanan mobil melaju cepat menyerempet motor Ahsan.


Brukk Brak


Ahsan tergeletak dijalanan aspal, semua orang menjerit. Genangan darah segar mengalir dari kepala Ahsan. Raniyah langsung turun dari mobil dan berlari ke arah tubuh yang tergeletak sambil kejang-kejang.


" Ahsaaaan!!" Raniyah menghampiri tubuh Ahsan, kini air matanya semakin deras.


Suasana jalanan terjadi kemacetan. Ahsan yang bersimbah darah langsung digotong oleh warga setempat ke rumah sakit terdekat. Raniyah pun duduk dengan gelisah di bangku tunggu rumah sakit desa itu.


Perasaannya sungguh berkecambuk, tidak menyangkan kejadiaan naas itu akan menimpa Ahsan. Jam tangannya sudah menunjukan pukul 3 sore. Saat ini pihak rumah sakit desa merujuk Ahsan untuk dibawa ke RSUD karena peralatan yang tidak memadai, kondisi Ahsan juga masih tidak sadarkan diri.


Untungnya si penabrak mau bertanggungjawab, dia langsung memenuhi syarat pengobatan rujukan untuk dibawa ke RSUD. Raniyah dengan pakaian sudah acak-acak dan berlumuran darah ikut mendampingi Ahsan di mobil ambulan.

__ADS_1


*****


Semua pihak keluarga Ahsan sudah dihubungi, tampak wajah-wajah sedih menyelimuti orang-orang yang menunggui kesadaran Ahsan. Pihak rumah sakit sudah mengatakan ada beberapa keretakan di tengkorak kepala Ahsan sehingga memerlukan operasi.


Maka, demi kesembuhan Ahsan, pihak keluarga menyetujuinya. Ahsan yang sudah dua hari tidak sadarkan diri langsung disiapkan operasi tempurung kepala.


Sedangkan, Raniyah rutin mengunjungi Ahsan selama dua hari itu. Dia tidak fokus selama mengajar di sekolah. Pikirannya terus was was dengan kondisi Ahsan. Bayang-bayang perasaan bersalah pun memghantuinya. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"Gimana bu Ahsan?" Tanya Raniyah yang baru datang sambil menyalami orangtuanya Ahsan.


Wajah kedua orangtua Ahsan begitu lesu, ibunya hanya mengelengkan sebagai jawaban pertanyaan Raniyah. Helaan nafas pelan pun meluncur dari bibir Raniyah, dia menyerahkan makanan di kreseknya ke orang tua Ahsan.


" Ibu sama Ayah istirahat, makan dulu. Biar Rani yang jaga" Tutur Raniyah.


Kedua orang tua Ahsan dengan lesu membuka nasi box yang dibawakan oleh Raniyah, " Ahsan sudah dipindahkan ke ruang perawatan!" Celetuk ayahnya Ahsan.


" Alhamdulillah," Kata Raniyah sambil melirik ke pintu perawatan yang didalamnya terdapat Ahsan sedang dirawat.


Raniyah terdiam, kakinya melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Ahsan. Wajah Ahsan masih lebam dengan perban membelit kepalanya. Selang inpus masih menempel. Raniyah duduk disamping kasur, dia menatap sekujur tubuh Ahsan yang masih terlelap.


"Ahsan kamu harus bangun, semua tidak akan berubah dengan kamu tetap tidur." Tutur Raniyah.


*****


" Aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkan lelaki" Tegas Hiya kepada temannya yang sedari tadi mengenalkan lelaki padanya.


"Hey lihat dulu! Kamu jangan mau jadi perawan tua! Dan kamu gak kasian gitu sama adekmu!Dia juga bisa jadi perawan tua karena kamu!" Kata Mia.


"Mia! Cukup! aku akan menikah, tapi tidak sekarang, aku sedang mengerjakan beberapa laporan! Ok" Hiya sambil terus mengetik di laptopnya.


" Ok! Aku sudah memberikan nomormu pada Salman" Mia sambil berlalu cukup membuat mjlut Hiya mengangga.

__ADS_1


Drrt..Drrt Drrt..


Nomor baru diponsel Hiya terpangpang, segera Hiya mengangkat ponselnya, ada rasa berdebar dalam dirinya. Bagaimana tidak orang yang menelponnya ada seseorang yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga.


"Hiya, hasil rountagen paru-parumu sudah keluar! Kamu sudah bisa mengambilnya" Suara lelaki itu cukup renyah ditelinga Hiya, sampai-sampai wajahnya memanas.


"Ah, ya setelah aku pulang sekolah akan ke sana"


" Oke, sampai jumpa nanti. Jangan lupa kau harus banyak istirahat Hiya."


Seketika wajah Hiya langsung memerah hanya dikasih perhatian kecil dari seorang lelaki yang notabene bekerja sebagai dokter. Percakapan terakhir itu langsung terputus, meskipun percakapan itu cukup singkat tapi sangat terkesan di hati Hiya yang sudah lama mengagumi lelaki itu.


****


tap tap tap


"Permisi bu!"


Raniyah langsung menengok ke belakang, seorang lelaki dengan berpakaian seragam dokter. Raniyah mengukir seulas senyumannya dan bergeser ketika lelaki itu melangkah mendekati Ahsan yang terbaring dikasur.


"Maaf saya harus memeriksa suami anda." Katanya sopan dengan wajah serius. Raniyah mengelengkan kepalanya. Sambil membuang senyumannya, membuat dokter muda itu berkerut dahi.


" Apa ada yang salah"


" Ya , Dok. Dia bukan suami saya."


" Oh maaf, kalau begitu anda adiknya?"


" Tidak juga"


" Lalu?" Kata Dokter muda itu sambil terus mengecek kesehatan Ahsan tanpa memperdulikan Raniyah yang memperhatikannya.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2