Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Mutasi


__ADS_3

Setelah sekian purnama hehe aku tepatin janji


πŸ’žHappy ReadingπŸ’ž



#Visual Daiyan


Deru mobil terparkir dipekarangan rumah pak Ansori. Tampak wajah Daiyan keheranan juga, disana ada mobil orang tuanya. Raniyah yang bersamanya langsung turun, Daiyan yang penasaran memutuskan untuk turun keluar mobil.


" Ada ibu dan ayah disini!" Gumam Daiyan membuat Raniyah melirik.


" Mungkin" Jawab Raniyah.


" Aku harus memastikannya kalau begitu!"


Daiyan dan Raniyah pun masuk ke dalam rumah, benar saja disana sedang ada pertemuan dua keluarga, Haya tampak memicingkan mata melihat kedatangan keduanya secara bersamaan.


" Nah, nak Daiyan ada disini kebetulan!" Kata Pak Ansori.


" Iya pak," Jawab Daiyan sopan langsung menyalami pak Ansor dan bu Ansor lalu duduk disebelah ibunya.


Begitu pun Raniyah, dia duduk dekat orang tuanya. Dia mencoba mencerna hal yang sebenarnya sedang didiskusikan oleh kedua orang tuannya itu.


"Jadi bagaimana kalau kita nikahkan nak Daiyan dan Haya ini secepatnya saja! Saya sudah tidak sabar ingin menimang cucu!" Kata Ibunya Daiyan.


" Tunggu Bu!" Kata Daiyan langsung menghentikan obrolan itu.


" Kenapa Daiyan? Bukankah kamu setuju?"


" Daiyan dari awal sebenarnya ingin menikahi Raniyah, tapi ayah dan ibu malah melamarkan Haya, jadi sekarang Daiyan justru ingin memperjelas disini! Daiyan sudah berusaha untuk menerima itu, tapi Daiyan Rasa pernikahan bukan hal coba-coba, dan Daiyan memutuskan untuk menikah dengan Raniyah!" Tegas Daiyan membuat semua yang hadir melonggo.


"Tidak bisa nak Daiyan!" Tolak Pak Ansori.


" Karena Raniyah anak bungsu! Raniyah tidak boleh menikah lebih dulu dari kakak-kakaknya?" Kata Daiyan sambil melirik ke arah Pak Ansor.


" Iya!" Jawab Pak Ansor pelan.


" Daiyan! Apa yang kamu lihat dari Raniyah! Haya jauh lebih baik untuk kamu!" Tegur Ibunya membuat Raniyah tertunduk semakin dalam.


" Bu! Kalau tidak suka Raniyah! Jangan menyakitinya dengan membanding-bandingkan!" Bela Daiyan.


"Ibu pokoknya tidak merestui kamu dengan Raniyah!" Kata Ibunya Daiyan.

__ADS_1


*****


Saat itu Raniyah berdiri depan kamarnya yang terbuka pintunya, dua koper besar sudah dikeluarkan oleh Ibunya, Haya berdiri tidak jauh dari sana. Pak Ansori berada dekat pintu melipat tangannya di dadakan.


"Kenapa Ayah dan Ibu melakukan ini?" Tanya Raniyah sambil berkaca-kaca.


" Kami tidak mau, kamu memaksakan diri menikah dengan Daiyan! Itu akan melanggar adat kita! Dan ingat inilah akibat jika kamu memaksakan diri!" Ucap Pak Ansori.


"Tapi kan Raniyah tidak melakukannya Pak!" Kata Raniyah menahan air matanya.


" Kamu bilang tidak melakukannya?" Sambung Haya dengan sinis.


" Maksud kak Haya?" Raniyah mulai tidak mengerti.


"Kamu bikin keluarga kita malu Raniyah!" Lanjut Haya.


" Malu bagaimana Kaak?" Tanya Raniyah.


"Keluarga Ahsan kesini tadi! Mereka marah, karena kamu menghalangi rencana pernikahan Ahsan dengan Jesika!" Jawab Bu Ansori sambil sedikit berkaca-kaca.


"Astagfirullah, Bu. Raniyah gak ada hubungan lagi dengan Ahsan." Jawab Raniyah sambil memegang koper yang hendak di seret ke ruang tengah oleh ibunya.


"Gak cuma itu, kesalahan kamu adalah jalab bareng Daiyan! Padahal kamu tahu Daiyan adalah calonku Raniyah!" Kata Haya dengan tatapan dingin.


Kedua orang tuanya pergi ke depan pintu rumah, Raniyah mengekori dari belakang sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. Pak Ansor menyodorkan kunci ke Raniyah.


" Ini kunci kontrakan tempat kerja baru kamu! Kami sudah mengurus mutasi kerja kamu." Ucap Pak Ansor.


" Kenapa harus sampai mutasi Pak?" Tanya Raniyah.


"Ini untuk kedamian keluarga kita! Haya akan tetap menikah dengan Daiyan! Kamu tidak perlu hadir!" Kata Pak Ansori membuat Raniyah menelan kasar salivanya.


" Ini ponsel baru! Jangan menghubungi Daiyan atau Ahsan! Jangan pulang, sampai kami yang menyuruh pulang!" Kata Pak Ansori membuat Raniyah semakin terisak.


" Sudah nak, berangkatlah! Ini demi kebaikan kamu juga dan kakakmu!" Kata Kak Bu Ansori.


Raniyah mencium kedua tangan orang tuanya, sambil berderai air mata, dia mencium tangan kak Haya, lalu mengerek kedua koper, tukang ojeg membantunya. Raniyah pun terakhir kalinya melirik ke sekeliling rumah dan keluarganya. Pagi yang menjadi akhir dari kehidupannya di rumah itu. Raniyah tidak menyangka, tindakan dan semua permasalahannya harus berakhir dirinya di jauhkan dari keluarganya.


Hatinya terasa sakit sekali. Raniyah naik ke ojeg dan motor pun melaju meninggalkan pekarangan, saat itulah Ibu Ansori yang sedari tadi menahan air matanya langsung menghambur ke arah Pak Ansori menanggis sejadi-jadinya.


Mutasi kerja ini Raniyah tidak pernah tau sebelumnya, sudah direncanakan oleh kakaknya dan orang tuanya. Sepanjang jalan Raniyah tidak banyak bicara. Tukang ojeg hanya mengantarnya sampai bis datang.


Raniyah pergi ke tempat yang tidak dia ketahui keberadaannya. Siang berganti sore, Raniyah masih didalam Bis. Bis membawanya ke salah satu kota di Banten.

__ADS_1


Petang, Raniyah baru tiba ditempat dia akan mengabdikan diri sebagai pengajar. Setelah turun dari ojek. Raniyah membawa dua kopernya menuju kontrakan yang berbaris rapi.


Setelah membayar ongkosnya, Raniyah langsung membawa koper masuk ke kontrakan. Dia menyalakan lampu diruangan tersebut. Sekelilingnya terlihat kontrakannya baru dicat, bau cat masih tercium. Pintu kontrakan di tutupnya, Raniyah jongkok, kembali lagi dia terisak sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


Raniyah mengeluarkan ponselnya, tidak ada satu pun pesan masuk dari orang tuanya maupun keluarganya. Dia melihat kontak di ponsel baru hanya kontak Ayah dan Kak Haya.


Raniyah mengirim pesan ke Haya dan menyatakan dirinya sudah sampai. Tapi pesan hanya dibaca, berderai lagi air matanya. Raniyah mengeluarkan kartu dalam ponsel itu.


" Buat apa nomor ini! Jika mereka pun memutuskan tidak mau bicara padaku!" Kata Raniyah marah sambil menghapus air matanya.


Raniyah membuang kartu tersebut sembarang, dia pergi ke kamar dan membersihkan tempat tidur, dia mulai menata semua ruangan, barulah dia pergi mandi lalu istirahat. Kantuk cepat datang, setelah seharian dia menanggis.


*****


" APAH!!!" Geram Kak Radit.


" Ini untuk kebaikan Raniyah! Biar Raniyah gak ganjen!" Sela Haya tidak mau kalah menghadapi kakak laki-lakinya.


" Kamu Egois! Tega mutasikan Raniyah!" Geram Kak Radit sambil menunjuk-nunjuk tangannya ke wajah Haya.


"Sudah Dit! Ini juga keputusan Bapak!" Lerai Pak Ansori.


" Kenapa harus seperti ini keputusannya pak! Kita kayak ngebuang Raniyah kalau kayak gini!" Geram Kak Radit yang sangat menyayangi adik bungsunya itu.


" Kita memang sudah merencanakan mutasi kerja Raniyah! Disana peluang kenaikan pangkatnya cepat!" Kata Kak Haya.


" Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa, dia sudah hubungi kamu Haya?" Lirih Bu Ansori.


" Dia sudah sampai dengan selamat bu, tidak usah khawatir."


" Baiklah! Radit juga tidak akan tinggal disini Lagi!" Kata Kak Radit langsung meninggalkan ruang keluarga yang panas karena perseteruan.


Semua yang hadir langsung saling tatap.Mereka tahu Radit akan marah besar. Pak Ansori memijit ceruk pangkal hidungnya. Dia juga sebenarnya tidak tega, tapi ini desakan dari Haya yang menangis dan sujud-sujud padanya.


" Maafin aku Dek!" Batin Haya.


#Bersambung...


Maaf guys baru update lagi, Mrs sedang padat kerjaan ditambah suasana hati Mrs beberapa hari terakhir sedang terguncang, jadinya brain fog.


Seminggu kedepan, Mrs sepertinya tidak bisa Update, kerjaan Mrs sedang padat merayap. So, Terima kasih aja yang masih setia nunggu updatena cerita Mrs.


πŸ˜―πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž sampai ketemu nanti ya, selamat hari raya idul adha, jangan lupa Qurban!

__ADS_1


__ADS_2