Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Mereka adalah pelajaran


__ADS_3

Dalam belaian ibunya, Raniyah masih menangis, dia menumpahkan semua sesak di dadanya. Bu Ansor dengan sabar menenangkan puterinya, seumur hidup anak bungsunya, jika dia sampai menangis hebat berarti dia sangat terluka.


"Buu.." Lirih Raniyah.


"Iya Ran?"


Dia bangkit dan menatap ibunya yang sudah terlihat garis garis di wajahnya. Raniyah menguatkan dirinya bercerita pada ibunya. Ia menarik nafasnya kuat-kuat.


"Rani bertemu seseorang disana.." Mulailah Raniyah menceritakan pertemuan dengan Fahrul sampai akhir kisah tragisnya.


"Sabar Ran," Ucap ibu Ansor memeluk puterinya yang kembali menangis.


"Dia memilih orang lain buu, apa ini salah Rani yang terlalu mudah mencintai?"


Bu Ansor tidak membalas dia hanya terus berusaha menenangkan puterinya yang semakin menangis hebat. Bu Ansor menyadari saat anaknya di usir dari rumah ini pun dia sudah terluka ditambah dengan keadaan percintaannya yang tidak mulus. Bu Ansor mulai mengingat kembali bagaimana saat Ahsan datang ke rumah hendak melamarnya tapi malah ditolak oleh Pak Ansor. Bu Ansor pun mulai merasa banyak bersalah kepada anak paling bungsu yang harus mengorbankan segala hal dalam hidupnya.


Setelah Raniyah tenang, Bu Ansor mengurai pelukannya dan menghapus air mata anaknya. Ia memberikan senyuman pada puterinya, agar melupakan rasa sakitnya.


"Rani, dalam hidup ini kamu akan ketemu dengan orang yang terbaik, yang membuatmu banyak belajar. belajar jatuh cinta, belajar sedih, belajar bahagia, dan belajar patah hati. Tapi ketika kamu sudah bisa melewati semua itu, kamu harus berpisah." Jelas ibunya menghentikan ucapannya sejenak, sambil menatap lekat dan hangat pada puterinya.


Kehilang cinta memang sangat menyakitkan, seribu kata mutiara dari para punjangga saja rasanya tidak akan mampu memuaskan hati yang terluka.


Raniyah masih terduduk, wajah lesu habis menangis terpangpang jelas. Dia pasti lelah, lelah hati, pikiran dan fisiknya.


"Orang yang dianggap tepat belum tentu akan menetap," Lanjut ibunya.


"Rani, lelah bu." Lirih anaknya putus asa dia kembali menidurkan kepala di paha ibunya.


"Wajar Ran, tulisan aja harus ada spasinya agar terbaca. Kamu pun istirahatlah kalau lelah nak, biarkan semuanya mengalir. Berdoa sama Allah, agar kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik." Bu Ansor tidak berhenti memberikan petuahnya.


"Iya buu.." Lirih Raniyah.


"Pindah lagi ngajar disini saja ya Ran."


"Apa bisa bu?" Tanya Raniyah.

__ADS_1


"Bisa.."


"Bagaimana kalau kak Haya..." ucapan Raniyah dipotong.


"Gak usah dengerin dia!" Ucap ibu terlihat sedikit kesal.


Raniyah sedikit heran dengan sikap ibunya. Apa yang membuat ibunya tampak marah. Tapi disisi lain dia merasa senang, bekerja jauh dari orang tua sangat menyiksa baginya.


Matahari sudah tergelincir ke arah barat. Waktu makan siang hampir terlewatkan. Raniyah segera bergegas mandi lalu makan. Mengingat besok dia akan kembali ke Banten, dia segera bersiap-siap merapihkan pakaiannya ke dalam koper. Bu Ansor dan Pak Ansor yang tahu anaknya akan kembali ke Banten, dia menyiapkan beberapa makanan untuk dibawa oleh anaknya.


"Bu jangan banyak-banyak, perjalanan Ran jauh Bu." Ucap Raniyah melihat bu Ansor sudah menyiapkan sekarung beras.


"Kamu akan butuh setelah disana, biar tidak semuanya beli. Uangmu juga harus ditabung, Ran." Ucap ibunya.


Raniyah tidak bisa membantah ibunya, dia melirik ke arah karung yang sedang diikat oleh Pak Ansor.


"Ini apa pak?"


"Ini makananmu, didalamnya ada pete, pisang, jeruk, opak. setelah disana kamu pasti sangat menginginkannya." Raniyah mangut-mangut didibekali makanan begitu banyak sampai dua karung. Seperti orang yang baru saja mengeruk kekayaan desa.


"Sekarang kamu siap-siap, baju kamu bereskan!" Kata Bu Ansor.


*******


Pagi telah tiba, matahari telah disambut oleh ayam berkokok. Raniyah berpamitan sambil membawa koper dan dua karung makanan. Dia naik ojeg sampai di bus tujuan Jakarta. Menunggu 10 menit, bus sudah datang, dia segera masuk dan membawa dua karung itu dibantu kendektur. Perjalanan ke Jakarta saja bisa memakan waktu sekitar 6 jam. Selama perjalanan Raniyah terkadang tertidur tapi kemudian bangun lagi. Sampai di kampung Rambutan, dia segera turun dan naik bus tujuan Merak.


Perjalanan Raniyah pun dilanjutakan sekitar 1 jam setengah. Sekitar pukul setengah 3 Raniyah baru sampai depan kontrakannya, dia naik ojek begitu dari terminal Patung karena barang bawaannya banyak.


Dia masuk, langsung bertemu dengan pemilik kontrakan yang melihat Raniyah kesulitan membawa barang-barangnya. Dia membantu mengangkatnya sampai lantai dua.


" Neng seminggu yang lalu, ada lelaki bolak-balik ke sini terus nanyain neng. Dia suruh neng telpon dia kalau sudah disini." Ucap Pemilik kosan sambil menyerahkan secarik kertas berupa nomor telpon.


"Oh begitu pak, terima kasih ya pak." Kata Raniyah.


Pemilik kontrakan berlalu, Raniyah memasukkan secarik kertas ke sakunya dia segera membuka pintu kontrakannya. Dia menyeret dua karung masuk kekontrakannya, udara panas sudah menyeruak, dia menyalakan kipas angin. Baru terduduk sebentar dia melihat ada kertas depan pintu, Raniyah meraihnya. Ternyata tiket liburan ke Palembang. Raniyah ingat betul, itu adalah rencana liburannya bersama Fahrul dulu. Kemudian Raniyah meronggoh sakunya mengambil kertas yang diberikan oleh pemilik kontrakan.

__ADS_1


Barisan nomor itu, dia pandangi. Lalu dia mengambil ponselnya dan menelpon, beberapa kali terdengar nada sambungan, sampai ada suara seorang lelaki menyapanya.


"Assalamualaikum!"


Deg


Raniyah terdiam, itu suara Fahrul yang dulu sangat di cintainya. Rasanya dia ingin mematikan ponselnya.


"Halo!"


"Iya, Terima kasih tiketnya!" Ucap Raniyah singkat.


"Raniyah..Kamu sudah kembali ke sini?"


"Iya. Udah dulu ya mau istirahat." Tutup Raniyah kesal pada Fahrul dia malas meladeninya.


"Tunggu tunggu Ran, dengerin aku dulu..."


"apa?"


"Aku pengen minggu nanti kamu ikut liburan bareng kita ya, itu tiket ke Palembang yang kamu pengen banget ka liburan ke way kambas. Aku sekalian kerja dan liburan juga sama isteri."


Deg


Hanya mendengar dia menyebut nama isterinay langsung terasa sakit ke hatinya. Raniyah meramas tiket di tangannya.


"Gila, apa maksudnya!"Kesal dalam.batin Raniyah.


"Aku butuh kamu jadi model juga Ran!"


"Sorry aku sibuk Fahrul. Silahkan cari yang lain. dan terima kasih untuk tiketnya aku gak bisa dateng."


Raniyah langsung menekan tombol merah mematikan ponselnya. Sekarang kesal bukan main dengan Fahrul. Bisa-bisanya dia masih mengajak liburan bareng, seperti lelaki yang tidak punya perasaan saja. Raniyah langsung membuang tiketnya ke tong sampah.


Darahnya serasa mendidih dia segera, merebahkan badannya dilantai yang terasa hangat, namanya juga Bantan tidak akan menemukan lantai.yang dinhin sekalipun kamu mengunakan AC. Musim hujan sekalipun Banten akan tetap hangat. Lelah membawa Raniyah ke dalam kantuk.

__ADS_1


#Bersambung


..


__ADS_2