Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Siasat Haya


__ADS_3

Sepanjang hari, Raniyah hanya melamun saja. sikap kakaknya yang menamparnya masih terus menguasai pikirannya. Kata-kata yang dilontarkan kakaknya bagaikan sembilu yang mengiris hatinya.


"Bukan aku yang memilih menjadi isterinya, kenapa Kak Haya seolah lupa, dulu dia yang memohon agar aku menikah dengan kak Daiyan." Gumam Raniyah sembari duduk termenung didekat gerbang karena akan pulang ke rumah.


tin tin


Suara klakson menyadarkan Raniyah, dia menoleh disana suaminya menurunkan kaca mobil, tanpa bicara, dengan isyarat tatapan datar dan dingin ke arahnya menunjukan agar Raniyah segera ikut bersamanya.


Tidak ada suara penolakan Raniyah langsung bergegas memasuki mobil, dan dalam keheningan pun keduanya tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sekilas Daiyan mencuri pandang pada Raniyah yang duduk memeprhatikan jalanan yang dilewatinya.


"Kakakmu meminta barang sehari dua hari lagi tinggal di rumah kita."


Suara Daiyan cukup mengalihkan perhatian Raniyah menoleh padanya. Dia tidak membalas perkataan Daiyan, hanya mengangguk pelan. Sikap ini membuat Daiyan merasa tidak nyaman.


"Kamu tenang saja, ini hanya dua hari."


" Iya gak apa-apa"


Suara lemah Raniyah membuat Daiyan menyerah membiarkan Raniyah kembali dalam kesibukan pikirannya. Meskipun sebenernya Daiyan ingin tahu masalah yang sedang dihadapi oleh Raniyah.


"Ada cerita apa hari ini?" Tanya Daiyan untuk pertama kalinya bagi Raniyah yang sontak menoleh keheranan.

__ADS_1


"...Emm.. soalnya aku lihat kamu sedang ada masalah"Ucap Daiyan.


" Iya aku hanya punya sedikit masalah, tapi nanti juga selesai. Hari ini cukup melelahkan, aku mengajar full"


Raniyah memilih tidak menceritakan kejadian tadi pagi. Daiyan pun mengangguk. Kembali lagi hening.


Rumah


Haya mondar mandir dia mencari akal, bagaimana pun dia sangat ingin berlama-lama di rumah ini. Kembali pada Daiyan adalah harapannya, entah kenapa dia merasa sangat cemburu melihat adiknya begitu mesra, dia juga sadar dulu dirinya yang meminta cerai dari Daiyan karena terlilit hutang, dan meminta adiknya mengurus anaknya dengan menikahi Daiyan.


Suasana di rumah juga terasa sangat canggung, setelah makan malam Raniyah menyempatkan diri ke kamar Salsa, dia bermain dengan Salsa di atas kasur hingga tidak sadar ketiduran.


oek oek oek


Haya dengan deru nafas memburu langsung merebut Salsa dari gendongan Raniyah, sambil memberikab tatapan sangat tajam.


" Kamu emang gak bisa jaga anak aku! Kamu masih mau mas percayakan anak kita ke dia!" Ucap Haya sambil melirik ke arah Daiyan yang tampak tanpa ekspresi.


" Maafin aku kak, tadi aku ketiduran..dan ak.."


"Cukup!" Kata Daiyan dengan dinginnya.


Dalam hati Haya tersenyum mendengar Daiyan tampak marah pada Raniyah. Sambil terus mengendong anaknya Haya tersenyum tipis.

__ADS_1


" Kamu keluar dari kamar ini!" Ucap Daiyan membuat Raniyah berkaca-kaca.


"Aku tau, aku salah kak. Tapi tolong maafkan aku." Ucap Raniyah mengiba.


" Aku bilang keluar!" Ucap Daiyan membuat Raniyah perlahan meninggalkan kamar tersebut.


Dalam hati Raniyah mengutuk atas kelalaiannya, dia juga tidak mau membuat keponakannya terjatuh ke lantai. Raniyab pun duduk di sofa ruang tengah dan mulai terisak.


"Aku sama sekali tidak berniat mencelakai Salsa." Ucap Raniyah.


"..aku juga menyayanginya."


Samar-samar terdengar percakapan dilantai atas antara Haya dengan Daiyan, Raniyah pun mulai menajamkan pendengarannya.


" Mas aku gak bisa lagi percayain Salsa sama Raniyah!"


" Ya terus?"


" Ya jalannya, ayo kita rujuk!"


Jantung Raniyah berdebar kencang dan ada rasa sakit yang menusuk hatinya mendengar ucapan kakaknya. Sudah dapat ia menduganya, Kakaknya masih menyimpan rasa pada Daiyan yang kini sudah menjadi suaminya. Diam-diam sambil menahan isak tanggisnya, Raniyah mencoba mendengarkan percakapan kelanjutannya, tapi tampaknya tidak ada balasan dari Daiyan.


kenapa kak Daiyan tidak menjawabnya? Batin Raniyah.

__ADS_1


Dia pun segera mengambil posisi terlentang diatas sofa depan televisi. Kantun sudah menghantuinya, saat ini yang diinginkannya hanyalah istirahat. Dia tidak ingin banyak berpikir apapun. Dalam hitungan menit dia pun terlelap tanpa menghiraukan serangan nyamul dan udara dingin yang menyerang tubuhnya.


__ADS_2