
Ojek pun berparkir didepan rumah megah itu, Raniyah turun dan lalu menyodorkan helm ke tukang ojek lalu meronggoh dompet didalam tasnya.
"Berapa pak?"
"Sudah dibayarkan bu!"Sahut tukang ojek.
"Oh ya?"
"Iya bu ini udah masuk di apk!" Kata Tukang Ojek sambil menunjukan pesanan ojek online itu.
"Begitu ya," Raniyah masih kebingungan.
"Ya sudah bu saya pamit ya" Sahutnya sambil menancap gas.
"Oh iya makasih pak!" Teriak Raniyah ke tukang ojek.
Setelah mematung didepan rumahnya, Raniyah pun masuk, disana pembantu sudah merapihkan rumah yang tadi berantakan karena insiden pagi. Raniyah melihat beberapa pegawai yang mengotong lemari kaca. Dia sedikit heran, Bi Yum pun sambil berjalan terpongoh-pongoh menghampiri Raniyah.
"Itu bu, lemarinya sudah di ganti." Ucapnya dibalas dengan anggukan oleh Raniyah.
"Sudah dibayar?" Tanya Raniyah.
"Anu bu, bapak yang bayar, tadi saya telpon bapak. Bapak langsung minta saya beli lemari baru untuk didapur."
"Hmm Baiklah, ya sudah aku ke atas dulu ya bi!"
" Oh ibu tidak makan dulu? Saya sudah menyiapkan makan, tapi saya tidak tahu menu yang ibu sukai, jadi silahkan ibu berikan saya list masakan apa yang ibu sukai, agar saya bisa menyiapkan dengan baik." Ucap Bi Yum sambil tertunduk.
Raniyah terdiam beberapa saat mencerna perkataan dari pembantunya yang sudah berumur sekitar 45 tahun, tubuhnya gempal dan memakai daster oren. Lalu Raniyah pun tersenyum.
"Aku suka sayur-sayuran dan ikan, sesekali saja sediakan daging, saya juga suka sambal. Saya hanya tidak suka masakan terlalu asin!" Ucap Raniyah, yang tampaknya langsung diserap oleh Bi Yum terlihat mangut-mangut.
"Baik bu. Kalau ibu tidak suka masakan yang saya sajikan, sampaikan saja bu." Ucap Bi Yum.
"Iya Bi. Emm.. Apa Pak Daiyan punya makanan khusus yang biasa dimakan?"
"Iya bu, Pak Daiyan suka sup jamur, tumis pete, sawi hijau chili oil, udang asam manis, ikan salmon, salad buah untuk santapan pagi."
"Oh,begitu ya. Baiklah, lain kali aku ingin membuatkan sarapan untuknya, jadi mohon bantuannya ya bi!"
"Iya Bu."
"Ya sudah saya ke atas dulu Bi"
*****
Raniyah langsung menengok ke kamar bayi, tadi pagi dia menitipkan ke bi Yum. Salsa rupanya sedang terlelap diatas box bayi, setelah beberapa kali pipis dan minum susu. Tubuh bayi mungil yang semakin hari bertambah berat itu sangat mempesona.
__ADS_1
"Bayi yang manis! Bagaimana nantinya kalau aku punya anak? Apakah akan semanis ini?" Kata Raniyah sambil memperhatikan wajah bayi disana.
"Tentu saja berbeda, bayimu mungkin lebih jelek!" Ucap Daiyan yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya membuat Raniyah tersentak kemudian dia cemberut.
"Menyebalkan!" Gerutu Raniyah.
"Anakku sudah minum susu?" Tanya Daiyan sambil menatap wajah lelap puterinya.
"Tentu saja kak Daiyan! Kalau dia lapar pasti akan menangis!" Kata Raniyah.
"Berhenti panggil aku kakak, aku suamimu!" Ucap Daiyan.
"Hah? Suami? Emang ada suami yang kayak ginu?"
"Apa? Apa maksudmu?" Daiyan merasa tersulut.
"Apa aku salah bicara? Sudahlah lupakan!" Ucap Raniyah membuat Daiyan langsung melangkah pergi ke luar kamar.
"Kenapa dia? Apa aku sudah membuatnya marah? sedih? sakit hati?" Raniyah bertanya-tanya seorang diri.
Dia pun bangkit mengekori Daiyan, Raniyah masuk ke kamar Daiyan setelah mengetuknya, tampak disana Daiyan sedang membuka kemejanya, namun Raniyah tidak memperhatikan hal tersebut.
"Maaf kak,"
"Untuk hal apa?"
"Oh."
"Dan.. Emm aku harus segera kembali ke Banten, pekerjaanku disana menunggu!"
"Kamu sudah dimutasikan kesini!" Daiyan sambil melemparkan kemeja ke keranjang kotor, tubuh berototnya terpangpang jelas, dia berbalik menghadap Raniyah.
"Benarkah?"
"Iya, besok kamu ke Banten, bereskan barang-barangmu disana!"
"Oke kak! Oh ya satu lagi mengenai Salsa, kita butuh pengasuh selama aku disekolah, kalau aku sudah dirumah, aku yang mengurusnya!" Jelas Raniyah.
Daiyan melorotkan celananya menyisakan boxernya, tapi Raniyah yang tidak menyadari dan masih fokus dengan pembicaraannya. Daiyan mendekat sambil bertolak pinggang. Raniyah hanya menatap wajah Daiyan dengan penuh harapan akan jawaban Daiyan.
"Iya!" Balas Daiyan sambil terus mendekat ke Raniyah.
"Oh terima kasih kak!" Sorak Raniyah.
"...Oh ya aku dipindahkan ke sekolah mana?" Ucap Raniyah penuh semangat dan masih belum menyadari situasi.
"Kau akan terus bertanya sambil aku terus menelanjangi diriku sendiri?" Ucap Daiyan membuat Raniyah berkedip berkali-kali, dan melihat penampilan Daiyan dari ujung kaki hingga ujung kepala hingga mulut Raniyah mengangga dia menelan ludahnya dengan kasar.
__ADS_1
"..Kau akan terus melihatku?" Tanya Daiyan dingun dan datar.
"Enggak.." Ucap Raniyah sambil mengelengkan kepala dengan polosnya.
"Lalu apa kau tidak akan keluar sekarang!"
"Oh Iya..I..Ya..!" Raniyah berubah gugup dan berjalan menuju pintu keluar.
"Oh ya, ojek tadi mengantarmu sampai rumah?" Seru Daiyan saat Raniyah sudah memegang gagang pintu.
Seketika Raniyah terhenti dan berbalik namun dia malah melihat penampilan Daiyan yang sudah menelanjangi dirinya dan menyisakan celana segitiga bermuda.
"Aaakhhh!!" Teriak Raniyah membuat Daiyan menghela nafasnya.
"Keluar!!" Ucap Daiyan dingin.
Raniyah bergegas keluar kamar dengan wajah memerah dan jantung berpacu dalam melodi. Dia memegang wajahnya yang terasa hangat, di depan pintu kamar Daiyan.
"Apa yang aku lihat tadi?" Kata Raniyah sambil menepuk-tepuk wajahnya.
*****
Diatas Ranjang kasur, Raniyah sudah bolak balik terlentang dan menyamping ke kanan dan kekiru mencari posisi tidur yang tepat, dia memejamkan matanya tapi terbuka lagi. Setiap menutup matanya bayang penampilan Daiyan langsung muncul dan membuat pipinya menghangat.
"Ih dasar mesum!!" Ucap Raniyah menepuh jidatnya berkali-kali.
Sekalipun Raniyah memiliki kakak laki-laki, tapi ini kali pertama dia melihat penampilan lelaki dalam kondisi hampir telanjang. Jantungnya berdebar-debar dan pipinya memerah setiap mengingatnya.
"Kenapa sangat besar? Astagfirullah!!" Ucap Raniyah tidak sengaja dan langsubg memukul mulutnya berkali-kali.
Saat dirinya sibuk dengan pikirannya yang melayang jauh. Tiba-tiba terdengar suara pintu didorong dari luar, Raniyah langsung pura-pura tertidur.
Daiyan memasuki kamar tersebut, sekilas dia melihat Raniyah yang tertidur di kasur, lalu dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju keranjang kasur bayi. Sejenak menatap wajag mungil itu. Lalu dia mengelus pipi gembul di bayi, terakhir dia mendaratkan kecupan dikening sibayi, dan tampaknya si bayi sedikit terusik.
"Stttt... Ini ayah sayang," Ucap Daiyan bisiknya ke si bayi.
Raniyah yang memperhatikan Daiyan dalam kepura-puraan tidurnya itu, dalam hatinya tersenyum dengan sikap Daiyan.
"kak Daiyan bisa manis juga sikapnya!" Batinya.
"eheke ehek" Tampaknya agar menangis, Daiyan langsung menganggkat bayi tersebut.
Dia mengayunkan beberapa kali agar si bayi tenang.Daiyan mulai melantunkan suara khasnya menidurkan bayi.
"Tidurlah tidur bayiku tersayang, bobo ya nak! Yun ayun ayun ambing, Diayun ku samping,!" Ucap Daiyan sambil mengayun bayinya, Raniyah sudah mengulum senyumannya.
#Bersambung....
__ADS_1