Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Gara-gara Lipstik


__ADS_3

Sudah hampir 1 minggu Raniyah berada di kota Kelahirannya, waktu cutinya juga sudah habis, dia harus segera kembali ke kota dimana dia mengabdikan diri kepada negara. Raniyah sudah bersiap dengan pakaian rapi. Keberangkatan ke Banten kali ini hanya untuk mengambil barang-barang disana. Hal ini sudah di perbincangkan dengan Daiyan. Selain itu, Daiyan juga yang akan mengantar Raniyah ke Banten.


Tas kecil diraih Raniyah dan dikalungkan di bahunya. Dia mengenakan platshoes berjalan keluar dari kamar. Dibawah sana, Daiyan dengan pakaian santai sedang bermain dengan ponselnya, sementara, Salsa digendong pembantu. Raniyah pun menuruni tangga, suara langkah kakinya membuat Daiyan menoleh dan memperhatikan penampilan Raniyah dari ujung kepala hingga kaki.


"Aku sudah siap!" Ucap Raniyah ketika sudah sampai di dekat pembantu sambil terus mengelus bayi kecil digendongan Bi Yum. Daiyan melirik jam tangannya menunjukan pukul 7.00 pagi.


Daiyan pun bangkit dari duduknya sambil meronggoh kunci mobil di sakunya. Raniyah berjalan mengekori Daiyan dibelakangnya beriringan dengan bi Yum, dia merasa berat hati meninggalkan Salsa di rumah, walaupun sehari saja.


"Nanti siang baby sitternya baru datang Bi!" Ucap Raniyah sambil mengendong Salsa untuk terakhir kalinya.


" Cepat!" Kata Daiyan yang memberikan tatapan tajam pada Raniyah.


"Iya..Iya.." Raniyah mengembalikan Salsa ke gendongan Bi Yum.

__ADS_1


Baru saja Raniyah hendak mencium pipi Salsa, tiba-tiba tengkuk Raniyah diraih oleh Daiyan, bibir keduanya saling bersentuhan, mata Raniyah melotot terkejut, terasa tersengat listrik.Wajahnya terasa hangat karena wajahnya berada dari jarak yang sangat dekat.


Daiyan melepaskan tangannya dari tengkuk Raniyah, dan menjauhkan wajahnya. Sentuhan 5 detik itu membuat Raniyah mematung, dan Bi Yum yang berada disana juga jadi slaah tingkah karena menjadi saksi adegan tersebut.


Mata Daiyan melirik ke arah Raniyah yang wajahnya sudah memerah, dia pun menghela nafas, Daiyan mengambil tisu di sakunya dan mengelap bibirnya yang terkena lipstik merah dari bibir Raniyah.


"Bisa bisanya kamu ingin mencium anakku dengan bibir merahmu!" Gerutu Daiyan sambil membuang tisunya dan berjalan menuju mobil.


Raniyah dengan tergesa-gesa menuju ke mobil, perasaannya masih canggung dia berjalan ke kursi belakang, namun Daiyan menurunkan jendela kaca mobil.


"Di depan! Aku bukan supir!" Titah Daiyan membUat Raniyah mengurungkan niatnya yang sudah memegang pintu belakang kursi belakang.


Sambil mendengus kesal ditambah dia merasa tidak nyaman dengan Daiyan karena adengan yang baru saja terjadi, dia memasuki mobil tampa menoleh ke arah Daiyan yang terus memperhatikan gerak geriknya.

__ADS_1


Setelah Raniyah duduk, Daiyan langsung memasangkan sabuk pengaman, jelas saja jantung Raniyah berdegup kencang karena posisi tubunya yang berdekatan dengan Daiyan yang memasang sabuk. Belum lagi matanya melihat bibir Daiyan yang 5 menit lalu menyentuh bibirnya, Ranuyah terus merem melek karena tidak tahan.


Udara juga terasa panas, setelah memasangkan sabuk pengaman Daiyan terhenti tepat depan wajah Raniyah, dengan tatapan datar dan dinginnya.Raniyah semakin salah tingkah, dia pun menunduk.


"jangan mencium anakku! Apalagi bibirmu mengunakan lipstik! Bahan kimia tidak baik untuk bayi!" Jelas Daiyan.


"Iya, maaf!" Jawab Raniyah tanpa melihat ke arah Daiyan.


Diam-diam sudut bibir Daiyan tersungging tersenyum, namun segera dia menutupinya dan kembali ke posisinya, lalu memasangkan sabuk pengaman di badanya. Sambil mengucap basmalah mobil pun dijalankannya dan keluar dari garasi.


******


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2