
Denting suara jam terdengar jelas, keheningan dua insan di dalam ruangan tersebut, hingga suara angin pun terasa nyaring. Tak sepatah kata pun ingin keluar dari bibir Raniyah. Diam adalah cara terbaiknya, menyembunyikan segala rasa yang mungkin bisa saja membuatnya terbuai dengan pesona lelaki dihadapannya.
"Rani!" Suara pelan itu memanggilnya dengan lembut.
"Aku harus pulang!" Ucap Raniyah seraya bangkit dari duduknya.
Tampak raut wajah kecewa dari Daiyan, dia duduk diam tidak menimpalinya. Raniyah pun berbalik tidak menunggu jawaban dari Daiyan.
" Aku menyukaimu!" Ucap Daiyan membuat Raniyah terdiam sejenak lalu memilih pergi.
Seorang dokter pun masuk sambil tersenyum menyapa Daiyan yang sedang duduk termenung. Dia membawakan sedikit cemilan dan duduk santai dihadapan Daiyan.
"Siapa wanita itu? Sampai membuatmu galau?" Tanyanya.
Daiyan tersenyum tipis dan mengambil roti yang disodorkan dimeja kerjanya, langsung melahapnya. Sepertinya berhadapan dengan Raniyah cukup menguras energinya.
"Aku sering lihat dia kemari? Apa dia pacarmu?" Tanyanya, langsung disambut gelak tawa oleh Daiyan.
"Bukan bro!" Jawab Daiyan.
"Yaelah terus gebetan?" tanyanya.
"Maybe!" Jawab Daiyan sambil mengangkat kefua bahunya.
****
Petang hari, Raniyah baru sampai rumah, dia melewatkan makan malam bersama. Dia segera masuk ke dalam rumah, ibu dan ayahnya sedang berada di ruang televisi menonton acara dangdut di tv. Raniyah langsung mencium tangan keduanya, lalu berpamitan untuk pergi mandi.
Selesai mandi, Raniyah mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut sambil menatap cermin dihadapannya, kata-kata Daiyan di rumah sakit masih tergiang-ngiang. Lamunannya buyar begitu Haya masuk dan menyilangkan tangan di dada sambil bersender di pintu.
"Udah ketemu Daiyan?" Tanya Haya dingin.
__ADS_1
"Iya kak!" Jawab Raniyah sambil memutar tubuhnya menghadap Haya.
"Kayaknya asyik banget kalian ngobrolnya sampe lupa waktu!" Sinis Haya.
"Em kita cuma ngobrol tentang Ahsan!" Jawab Raniyah.
"Halah gak usah bohong! Daiyan bilang suka kan ke kamu!"kata Haya dengan nada tinggi.
" Kak Haya jangan salah paham!" Kata Raniyah bangkit dari duduknya dan menghampiri Haya.
"Cukup! Kamu tuh dek sama kayak Kak Fraz! Suka menghancurkan rencana! Kalian gak suka lihat aku senang!" Tegas Haya langsung keluar kamar dan membanting pintu.
" Astagfirullah! Kalian ada apa? Jangan bertengkar!" Seru ibu dari ruang keluarga berjalan mendekat ke kamar Raniyah.
" Gak ada apa-apa Bu!" Balas Raniyah memasang senyuman palsu.
"Kalian jangan berantem!" Tegur Ibu kembali ke ruang keluarga.
Suara pintu kamar kembali terdengar, Raniyah terpaksa kembali bangkit dari rebahannya, pintu terbuka dan terlihat kak Fraz sudah menampilkan wajah murungnya, Raniyah dapat menebaknya pasti ada yang tidak beres lagi.
" De!" Panggilnya.
"Iya kak Fraz?"
" Kamu udah ngomong belum ke Haya?" Tanyanya lesu.
Raniyah tercengkat, dia melupakan hal penting itu, dia belum sempat berbicara mengenai permintaan kakak pertamanya itu, dan sekarang akan semakin sulit bicara dengan kak Haya karena sedang marah padanya.
"Rani lupa kak!Maafin ya" Jawab Raniyah jujur.
"Loh kok kamu bisa lupa sih De, pernikahan kakak bentar lagi loh De!" Tegur Kak Fraz.
__ADS_1
"Rani juga susah ngobrol sama kak Haya sekarang!Kak Fraz aja ya!" Keluh Raniyah.
"Loh kok De! Kan kamu tahu sendiri mana bisa kakak ngobrol sama Haya!" Kak Fraz bangkit dan tampak marah pada Raniyah.
Raniyah terdiam hanya bisa menatap kosong pinty kamarnya yang terbuka lebar. Dalam satu malam, dia sukses membuat dua kakaknya kecewa padanya. Raniyah menghembuskan nafas beratnya. Ponselnya berdering, Raniyah meraihnya dan mengangkat telpon dari nomor yang tidak dikenalnya.
" Ya, dengan siapa?" Kata Raniyah.
"Ran, kamu hapus nomor aku?"
" Iya, kenapa?" Jawab Raniyah yang sedang dongkol.
Ahsan yang mendengar jawaban spontan Raniyah merasakan kecewa, rupanya selama ini Raniyah sudah memutuskan hubungan dengannya, tapi dia tidak menyalahkan sepenuhnya tindakan Raniyah, dia sedikit menyungingkan bibirnya.
"Ran, simpan lagi nomor aku ya!"
"Kenapa aku harus menyimpannya?"
"Ayolah Ran jangan bikin aku bingung jawabnya, setidaknya kita berteman lagi."
"Baiklah! Aku tutup telponnya! Aku ingin istirahat!" Kata Raniyah menutup telpon sebelum Ahsan sempat menyampaikan kata perpisahannya.
Raniyah merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya, rasanya sulit memejamkan mata, pikirannya tidak tenang karena membuat kedua kakaknya marah padanya. Tangannya meraih ponsel, disana banyak notifikasi di grup sekolah yang tampak ramai.
Raniyah membukanya, rupanya ada orang yang diam-diam memotret adengan dirinya yang berada dekat pintu dengan Pak Vikram. Semua orang sedang membahasnya, dan menyingung perasaan Pak Rasya yang kemungkinan akan cemburu dengan adegan tersebut.
Raniyah memilih tidak membalas pesan-pesan di grup itu. Dia mematikan ponselnya dan memilih memejamkan matanya.
#Bersambung....
🌻 Terima Kasih Sudah membaca episode ini🌻
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote yea...