
Menatap pantulan badannya dicermin membuat Raniyah tersipu. dia segera membersihkan diri sambil bersenandung kecil, selesai mandi sambil mengenakan handuk, Raniyah turun ke ruang makan, disana Daiyan sedang menyantap sarapan pagi. Kakinya pun melangkah mendekati Daiyan. Mendapati isterinya berada di depannya Daiyan menatapnya tanpa berkedip, tidak lama kemudian langsung menatap makanan dihadapannya.
Raniyah berdiri depan Daiyan dan menelisik wajah Daiyan yang terlihat salah tingkah.
"Kak, kenapa leherku dan disini begitu banyak warna merahnya?"
"Aku gak tau! Itu kan tubuh kamu masa gak tau." Jawaban Daiyan membuat Raniyah mengangga.
"Ekhem. Kakak kan pelakunya! Benar kan?"
"Apa maksudmu!" Daiyan melirik dengan tatapan tajamnya membuat Raniyah tersenyum.
"Gak suka tulang, tapi apa ini," Kata Raniyah sambil tersenyum-senyum.
"Jangan pake baju yang semalam lagi!" Tegur Daiyan kembali menyantap makanan dan tidak melihat ke arah Raniyah.
"Kenapa? Kakak takut kalap?" Goda Raniyah dan duduk dikursi depan Daiyan sambil menopang wajahnya.
"Kenapa kamu malah pake handuk saja disini! Cepat pakai baju, gak enak dilihat orang."
"Benarkah begitu? Atau kakak takut tergoda?" Raniyah semakin gencar mengoda suaminya.
"Diam! Cepat pakai baju sekarang juga!"
"Pakein dong" Ucap Raniyah dengan suara manja membuat Daiyan kesal.
Daiyan yang sudah tidak sabaran langsung bangkit dari duduknya dan membuat Raniyah sedikit panik. Daiyan tidak segan-segan langsung mengendong Raniyah, sontak Raniyah terkaget-kaget, dia menatap wajah datar dan dingin yang mengendong tubuhnya. Jambang tipis dirahang Daiyan sangat mengodanya, tangannya terulur mengelus jambang Daiyan.
"Ekhem!" Daiyan mendehem dengan detak jantungnya yang bergejolak.
Raniyah tersipu dapat merasakan Daiyan menahan hasrat godaan dari Raniyah. Tangannya pun beralih dikalungkan ke leher Daiyan yang terus berjalan lebih cepat menuju kamar Raniyah.
"Hati-hati kesandung." Ucap Raniyah rasanya puas mengoda suaminya, tapi Daiyan tetap fokus dan tidak menyahuti Raniyah.
Begitu sampai kamar Daiyan langsung melemparkan Raniyah ke atas kasur dan mengulungnya dengan selimut, sontak Raniyah gelagapan.
"Kak, Kak!!"
"Diam! Gini kalau kamu gak nurut sama Suami!" Ancam Daiyan sambil bertolak pinggang.
"Iya aku nurut-nurut deh!" Kata Raniyah kesal.
Daiyan bergerak hendak keluar kamar, tapi dicegah oleh Raniyah. Dan langsung keluar dari selimut mendekati Daiyan sambil membenarkan handuknya yang melorot, terlihat jakun Daiyan naik turun membuat Raniyah mengulum senyumannya.
"Kenapa lagi? Mau aku gulung lagi?" Suara Daiyan terdengar serak.
"Enggak-enggak kok!" Ucap Raniyah beralih menatap Daiyan yang berada dihadapannya. Dia segera menepuk kemeja yang dikenakan oleh Daiyan dan merapihkannya.
Kemudian tangan Raniyah terulur meraba kening Daiyan yang terasa hangat, Daiyan yang diperlakukan demikian mematung dan menatap wajah gadis mungil didepannya. Tangannya langsung meraih pinggang Raniyah sehingga dekat dengan tubuhnya. Dalam hitungan detik sentuhan lembut itu menyentuh bibir ranum Raniyah. Sentuhan itu disambutnya dengan senang hati.Keduanya pun bercumbu.
__ADS_1
Daiyan menguraikan jarak, dia langsung mengelap bibir Raniyah. Wajahnya terlihat malu.
"Aku berangkat." Ucapnya langsung melepaskan tangannya dari pinggang isterinya dan berlalu meninggalkan Raniyah didalam kamar yang masih terkejut dengan aksi tiba-tiba dari suaminya.
Degup jantungnya berdebar kencang, senyuman merkah mewarnai bibirnya.
"Kak Daiyan" Gugamnya tersipu dan menepuk-nepuk pipinya yang terasa hangat. Saat ini kalau dia melihat wajahnya akan terlihat pipi meronanya.
*****
Hiruk pikuk disekolah baru mulai terasa, anak-anak yang bekeliaran saat jam pelajaran tampak mengendap-ngendap menuju gerbang belakang. Raniyah yang diberikan jadwal piket saat itu berkeliling, pikirannya sedang tidak beres karena teringat kejadian tadi pagi. Sedikit-sedikit dia tersenyum sambil menepuk jidatnya menyadarkan dirinya. Namun, matanya melotot melihat anak laki-laki yang sedang memanjat pagar.
Raniyah yang berbadan kecil, dia berlari ke arah gerbang belakang yang tidak ada penjaga sekolah itu, dan langsung menarik celana anak yang memanjang gerbang tersebut.
"Woy siapa pegang-pegang pantat gue! Lepasin Gue kentutin loh!" Teriak si anak lelaki yang berpakaian SMA itu.
Benar saja tanpa melihat ke belakang, suara kentut keluar dari lubang yang sudah menjadi tempatnya.
"Rasain loh!" Puas anak itu, tapi Raniyah dengan kesal langsung memukul dan menarik kuat celana anak tersebut.
Brebett week
Celana anak tersebut robek dan dia rubuh, terjatuh. Raniyah bertolak pinggang, anak tersebut terlihat panik melihat celananya robek dan melihat Raniyah.
"Maaf bu, Maaf!"
"Mau kemana! Bukannya belajar malah keluyuran!"Tegur Raniyah.
"Halah tadi gak malu apa kentutin ibu!"
"Maaf bu gak sengaja!"
"Apaan gak sengaja, Kamu sengaja! Ikut Ibu sekarang!" Raniyah menjiwir pakaiam seragam anak lelaki tersebut.
Mau tidak mau anak tersebut bangun dan mengikuti langkah kaki Raniyah sambil memegangi celananya yang robek, anak-anak didalam kelas yang dilewatinya langsung tertawa melihat anak remaja itu melewati kelas mereka. Suara gaduh didalam kelas membuat kegiatan pembelajaran terganggu. Bahkan beberapa anak sampai keluar kelas karena ingin melihat lebih jelas anak yang diseret ke ruangan BK oleh Raniyah.
"Bu atuh bu, aku malu. jangan jalan lewat sana ada kabogoh (Pacar) aku disana teh!"
"Emang ibu pikirin!" Ketus Raniyah terus berjalan melewati satu kelas lagi menuju ruangan BK.
"Ih Ibu mah meuni galak . Da geulis Ibu mah, da bageur (Ibu kan cantik baik)" Rajuk anak tersebut.
"Ibu udah cantik gak usah dipuji juga!" Kata Raniyah terus menarik baju anak tersebut.
Baru beberapa langkah melewati kelas tersebut, suara gaduh langsung terdengar karena ada provokator yang memancing anak-anak didalam kelas melihat ke arah kaca dan melihat anak lelaki tersebut.
"Wooooy, itu kabogoh si Gege calana bolong Haha!" Teriaknya.
"Selamat masuk BK, kami ucapkan, Selamat panjang umur kami doakan!!" Secara bersama-sama anak-anak di dalam kelas tersebut menyanyikan lagu tersebut membuat anak lelaki itu cengir dan melambaikan tangannya berasa artis.
__ADS_1
Suasana belajar jadi tidak kondusif karena Raniyah membawa anak tersebut. Begitu sampai BK, langsung mengetuk pintu. Guru BK langsung membukakan pintunya. Dia terlihat terkejut melihat penampilan anak tersebuh.
"Eh Dudung, masuk masuk." Ucapnya langsung membawa anak tersebut ke dalam.
Raniyah pun melepaskan tangannya dari menjiwir seragam anak tersebut dan ikut duduk. Guru BK yang kalem itu langsung membawakan secangkir air dan menyodorkannya ke anak tersebut.
"Ini kenapa bu?" Tanya Guru BK.
"Anak ini mau mabal!" Balas Raniyah sambil menatap anak didepannya.
"Begini bu, kita bicara berdua dulu ya."
Guru BK tersebut langsung mengajak Raniyah ke ruangan yang lainnya untuk bicara empat mata. Terlihat guru tersebut gusar.
"Bu Ran gak tau ya siapa Dudung itu?"
"Emangnya siapa bu?"
" Dia anak anggota DPR dan ibunya guru Penjas disini."
"Iya terus kenapa bu, anak ini memang salah."
"Loh, ibu jelas melakukan kesalahan."
"Salah saya apa? Masa saya harus diam aja melihat anak mau bolos dijam pelajaran."
"Kesalahan ibu, satu ibu bawa anak itu lewat jalan kelas sehingga mempermalukan anak ini dan orang tuanya. Kedua, kelas jadi ribut, ketiga ibu merusak pakaian anak ini. Ini dapat masuk kedalam kekerasan."
"Bu, sebentar biar saya jelaskan duduk perkarabta."
"Cukup, saya gak ada waktu, sekarang ibu minta maaf ke anak ini dan orang tuanya."
"Apa? Aku gak paham, kok harus saya yang minta maaf!"
"Karena ibu salah, bu kalau sampai menyinggung anak dari keluarga ini, bahaya sekolah kita, bisa masuk berita!" Tegur guru BK.
"Keadilan diperlakukan untuk semua anak disekolah ini. Kalau mereka anak orang biasa saja dihukum karena kesiangan, lantas anak yang mau bolos tidak dihukum!"
"Ibu masih baru disini, tolong pahami aturan yang dipegang disekolah ini!"
"Saya gak ngerti, aneh kok bisa gitu!"
"Cepat atau lambat Ibunya Dudung akan datang kesini, bersiap saja bu Ran!"
Guru BK tersebut keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Raniyah didalam ruangan BK. Raniyah menyusul keluar dan melihat sekilas anak yang cengegesan tersebut karena di bela oleh Guru BK, Raniyah langsung kembali ke tempat piket. Guru-guru mulai bergunjing tentang sikap Raniyah.
"Biasa guru baru so so an haha" Bisik-bisik itu terdengar oleh Raniyah.
Hari ini, kebetulan guru penjas tidak ada disekolah sehingga Raniyah tidak bertemu dengan orang tua anak tersebut.
__ADS_1
***
#Bersambung...