
Tatapan Raniyah terpaku pada Daiyan yang berdiri tidak jauh darinya. Setelahnya dia menunduk, butuh waktu otaknya untuk mencerna kata-kata yang terlontar dari Daiyan.
" Aku menginginkan seorang anak, ta.." Belum selesai Raniyah berkata Daiyan sudah memeluknya.
"Kita coba" Bisik Daiyan membuat jantung Raniyah berdebar kencang.
Daiyan merengangkan pelukannya menatap wajah wanita dihadapannya, terlihat Raniyah gelagapan Daiyan tersunging melihat rona merah yang mewarnai pipi Raniyah.
" Sudah jangan bercanda." Ucap Raniyah sambil memalingkan wajahnya menahan malu.
Grep..
Daiyan langsung memangku Raniyah membuatnya terpekik karena kaget, Raniyah replwk mengalungkan tangannya dileher Daiyan. Perlahan Daiyan membaringkan tubuh Raniyah diatas kasur. Dalam posisi yang sangat intim. Daiyan menatap setiap i ci pahatan wajah wanita dihadapannya.
__ADS_1
cup
sebuah kecupan lembut mendarat dibibir Raniyah, membuatnya terdiam, tanganya sudah mengeluarkan keringat. Daiyan tersenyum melihat reaksi Raniyah ya b mematung, Dia pun memeluk Raniyah dan menyandarkan kepalanya di dada wanita yang sangat dicintainya dia inginme dengar detak jantungnya yang berirama.
" Aku berhak melakukan ini bukan?" Ucap Daiyan dalam posisi yang tadi tanpa bergeming.
" Iya." Jawab Raniyah singkat tapi bermakna.
Daiyan pun menengadah melihaf raut wajah Raniyah yang masih merona. Kembali bibir Raniyah dikecupnya oleh Daiyan, si empunya terlihat malu. Perlahan Daiyan pun mendekatkan wajahnya sejajar dengan Raniyan, dia menempelkan bibirnya tepat diatas bibir Raniyah. Tidak ada pergerakan. Raniyah juga tidak menolak sentuhan itu. Perlahan Daiyan memengan kepala bagian belakang Raniyah dan mulai ******* bibir Raniyah sambil menutup matanya untuk menikmati sensasi itu.
Pagutan keduanya terlepas, bibir sudah basah, kini beralih Daiyan menyerang leher putih Raniyah, membuat si empunya bergelinjangan. Daiyan senang mendapati Raniyah sudah memasuki rangsangan yang diberikannya.
" KALIAAAAN!!!"
__ADS_1
Tiba-tiba suara itu muncul diambang pintu, yang kedua insan bergumul dikasur tidak menyadari saat dibuka karena terlalu hanyut dalam kegiatan mereka. Saat mendengar suara itu, Raniyah dan Daiyan terkaget keduanya sontak melirik ke arah sumber suara.
Ibunya Daiyan tampak tercengang melihat adegan tersebut. Wajah malu langsung terpangpang jelas di wajah Daiyan dan Raniyah. Kembali keduanya langsung segera beringsut. Sementara Ibunya Daiyan langsung berbalik arah dan membanting pintu.
Daiyan membantu Raniyah mengancingkan baju yang sudah diobrak abrik olehnya, keduanya tampak cangung.Lagi-lagi mata Daiyan terfokus ke bibir Raniyah yang seolah-olah melambai-lambai minta disentuh.
Selesai merpaihkan pakaian Raniyah, Daiyan tidak ingin melepaskannya begitu saja. Dia langsung meraih pinggangnya. Lalu melabuhkan sebuah kecupan lembut. Membuat Raniyah tersipu.
" Udah, ada mamah malu."Ucap Raniyah tertunduk.
" Sekali lagi aja." Pinta Daiyan.
" Kenapa harus ijin.," ucap Raniyah pelan membuat Daiyan sumringah.
__ADS_1
Dia pun menarik tengkuknya Raniyah dan menciumnya dengan lembut bibir yang selalu didambakannya, sudah lama sekali dia menantikan adengan ini terjadi. Daiyan sudah sangat tidak bisa menahan diri, tangannya menelusup ke balik baju yang dikenakan Raniyah dan mulai menyentuh aset penting wanita dan memijatnya halus. Si empunya tampak terkejut, namun tidak mengusir tangan nakal itu. Tanpa sadar keluar suara manja dari mulut Raniyah. Setelah puas, Daiyan melepaskan pangutannya dan merapihkan baju Raniyah. Dia menyentuh bibir Raniyah yang basah karena ulahnya.
" kamu cantik banget. Tunggu malam ya," Ucap Daiyan beranjak dari kasur meninggalkan Raniyah yang masih syok.