Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Kak Fraz


__ADS_3

Fraz adalah anak pertama dari keluarga Ansori, dia memiliki restoran ikan bakar. Di usianya yang menginjak 45 tahun masih melajang. Fraz masih tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang meninggalkannya dan menikah dengan orang lain.


Sekitar pukul 8 malam, Fraz masih membuka restorannya, biasanya jam segitu masih banyak para pekerja pabrik yang baru pulang kerja dan mampir ke restorannya. Selain itu, Fraz memang sengaja buka restoran sampai jam 10.00 malam kalau malam minggu.


Namun, malam itu tidak seperti biasanya, restorannya hanya dikunjungi beberapa orang saja yang duduk dan minum kopi. Hujan di luar cukup deras. Tidak lama kemudian, terlihat seorang wanita masuk ke dalam restoran. Saat itulah dia melihat wajah yang tidak asing. Mata mereka saling bertemu.


Fraz langsung membawa daftar menu dan menghampir wanita teersebut dengan sopan. Tampak wanita itu melihat Fraz dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia tersenyum manis.


"Fraz!" Sapanya dengan suara serak membuat Fraz membalas senyumannya.


"Mela, apa kabar?" Kata Fraz sambil menyompan daftar menu di meja.


"A..aku!" Wanita itu tertunduk, wajahnya kembali murung.


" Ah, maaf, baiklah kamu mau pesan apa?" Kata Fraz mengalihkan pembicaraan.


"Bisa kita ngobrol sebentar Fraz?" Katanya sambil menatap Fraz penuh harap dan disudut matanya ada butiran air mata.


Fraz mengangguk pelan, karena tidak tega menolaknya. Fraz mengeser kursi lalu duduk berhadapan dengan wanita itu. Tidak lama kemudian wanita itu tampak terisak. Tak ada yang bisa Fraz lakukan, dia hanya menunggu wanita bernama Mela, yang tidak lain mantan kekasihnya itu berhenti menanggis.


Barulah setelah tenang dia bisa menatap mata Fraz, disanalah dia menatap dengan penuh harap. Fraz yang mencintainya dulu masih sama seperti sekarang, matanya selalu meneduhkan.


"Fraz, maafkan aku." Suaranya terdengar cukup pelan namun sangat tulus dituturkannya.


"Untuk apa Mel?" Tanya Fraz dengan tatapan sayu.


"Untuk segalanya, aku telah meninggalkanmu dulu, dan sekarang aku mendapatkan karmanya." Jawabnya sambil berkaca-kaca.


" Aku sudah memaafkanmu sejak lama Mel." Jawab Fraz dengan menatap lekat pada wajah ayu mantan kekasihnya itu.


"Terima kasih, Fraz!" Lirihnya dengan linangan air mata.


Hal ini membuat Fraz tak enak hati, dan kebingungan, karena mantan kekasihnya ini tampak sedang berada dalam masalah yang besar, sampai-sampai tidak berhenti menangis.


"Mel, kamu ada apa? Ceritakan padaku!" Tanya Fraz tidak tega melihat wanita yang dicintainya tampak begitu bersedih.


Mela pun mulai memberanikan diri menceritakan permasalahan hidupnya kepada Fraz. Selama lima tahun lamanya tidak berjumpa dan berpisah dengan Fraz, perjalanan hidup Mela rupanya tidak sebahagia yanh dibayangkan. Dirinya sudah menjadi janda, dan kini hendak menikah dengan seorang lelaki pemilik perusahaan kecantikan, tapi menjelang seminggu detik akan dilangsungkan pernikahaan, lelakinya memutuskan tidak melanjutkan pernikahan dengan Mela.


Sementara, Mela juga kini tengah mengandung anak lelaki tersebut, yang berusia 3 minggu. Keadaan ini membuat Mela frustasi berat. Fraz yang mendengar hal tersebut teramat terkejut.


"Aku gak tau harus gimana, Fraz. Keluargaku terkejut mendengar berita ini, papah aku serangan jantung dan sekarang di rawat di rumah sakit. Ini semua pasti karma aku sama kamu!" Kata Mela.


"Gak Mel, jangan ngomong kayak gitu. Ini hanya ujian hidup." Kata Fraz sebijak mungkin sambil menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


"Rasanya aku ingin menghilang Fraz, keluargaku akan tercoreng karena kelakukanku. Aku akan punya anak tanpa ayah, apa aku aborsi saja Fraz?" Tanya Mela putus asa.


" Jangan lakukan itu Mel! Allah gak suka! Janin itu punya hak untuk hidup!"


" Terus aku harus gimana Fraz! Ayah anak ini gak mau nikahin aku! Anak ini gak bakal punya ayah juga!" Tegas Mela sambil terisak dan menutup wajahnya.


"Aku! Ya Aku akan jadi ayahnya!" Kata Fraz sepontan sembuat Mela tercengkat.


"Fraz!! Kenapa kamu mau jadi ayah anak yang aku kandung?" Tanya Mela.


"Aku mencintaimu sampai saat ini pun Mel!" Tegas Fraz.


Berlinanglah air mata Mela, antara sedih dan bahagia bercampur dalam dirinya, " Bagaimana kalau keluargamu gak setuju Fraz?" Tanyanya.


"Mereka akan setuju!" Kata Fraz penuh keyakinan.


"Kamu mau gantiin posisi lelaki brengsek itu? Hari pernikahan seminggu lagi Fraz, semua biaya gedung, cathering, sudah lunas, apa kamu bisa nikah secepat itu?" Tanya Mela.


"A..aku bisa, insya allah Mela! Aku akan bicara pada orang tuaku!" Kata Fraz menyakinkan Mela.


" A..aku malu denganmu Fraz, harusnya aku tidak datang saat begini! Aku gak tau harus gimana membalas hati baikmu!" Kata Mela terharu.


" Jangan pernah ninggalin aku lagi!" Kata Fraz.


****


Ruang tengah, semua anggota di keluarga Pak Ansori sudah berkumpul. Hari itu sengaja berkumpul karena ada sesuatu yang penting untuk dibahas. Wajah Fraz tampak gugup saat harus berhadapan dengan ayah, ibu dan saudara-saudaranya.


" Fraz, apa yang hendak kamu sampaikan?" Kata Pak Ansori sebagai kepala keluarga.


" Fraz mau nikah pak!" Kata Fraz sekali tarikan nafas.


" Alhamdulillah, akhirnya nak kamu mau nikah juga!" Timpal ibunya yang sudah sejak lama menunggu anak sulungnya untuk menikah.


" Syukulah kalau kau sudah berpikiran untuk menikah." Jawab Pak Ansori.


Semua yang hadir juga tampak senang mendengar berita itu, mereka sangat bersemamgat menunggu berita selanjutnya dari kakak sulung mereka.


" Masalahnya, Fraz mau nikah minggu ini!" Kata Fraz.


" Loh kenapa cepet-cepet Fraz!" Kata ibunya.


" Iya, kan Haya mau nikah minggu ini juga." Kata Pak Ansori.

__ADS_1


" Loh emang nikah sama siapa?" Tanya Kak Radit.


" Iya kak, sama siapa kenapa secepat itu?" Tanya Raniyah.


" iya kak, jangan asal langsung nikah!" Timpal Haya.


" Ya tenang ajalah! Orangnya ditinggal nikah! Kakak mau menolongnya!" Tutur Fraz.


"Ya itu niatan yang bagus!" Timpal Pak Ansori.


" Iya, itu hal yang baik, kalau gitu bawa perempuannya kesini kenalkan dulu sama ibu!" Kata Ibunya.


" Terus pernikahan Haya gimana bu?" Tanya Haya mulai panik.


" Yah , Haya kamu ngalah dulu ya, sekarang kan kakakmu Fraz mumpung mau nikah!" Jawab Ibunya


"Iya Haya kamu ngalah dulu ya, lagian ngelangkahi gak baik juga!" Tutur Ayahnya


"Mulai lagi...Terusss aja gitu!" Sindir Kak Radit.


" Terus Haya gimana nikahnya Bu Pak!" Protes Haya.


" Kita tunda dulu ya Haya! barang setahun saja, jangan terlalu dekat ya!"Kata Ibunya.


"Ya masa Haya harus nunggu lagi, terus kan gak enak ngebatalinnya ke keluarga Daiyan Bu!" Kata Haya tidak terima.


"Kamu sebagai adek ya ngalah dululah Haya!" Tegur ibunya.


" Kamu ini Haya! Jangan takut! Kalau Daiyan jodohmu pasti gak masalah kapanpun menikahnya!"


"Terserah!!" Kata Haya langsung berdiri merasa kesal dengan keputusan itu.


Hari menunju ke pernikahannya tinggal menghitung sekitar empat hari lagi, dan tiba-tiba dengan mudahnya orangtuanya membatalkan. Haya langsung berlari dan menumpahkan segala emosinya di kamar. Semua keluarga disana hanya bisa menghela nafas.


" Jadi gak apa-apa bu?" Tanya Fraz.


" Ya gak apa-apa! Nanti juga baek lagi Haya!" Jawab ibunya.


"Akhirnya Haya ngerasain posisi kamu ya dek!" Kata Kak Radit tersenyum miring sambil menoleh ke arah Raniyah yang memilih tidak mau ikut campur.


" Hus! Kamu ya Radit!" Tegur Pak Ansori.


Radit pun langsung diam, tapi rasanya puas sekali hatinya, dia selalu merasa lucu melihat keluarganya yang masih memegang adat yang kuat. Dulu juga kalau tidak memaksa Radit tidak akan bisa menikah sampai saat ini, tapi bukan Radit namanya kalau tidak banyak akal. Dan sekarang dia miris melihat adik-adiknya sulit menikah gara-gara adat yang membelenggunya.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2