Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Pilihan Orang Tua


__ADS_3

Tampak di ruang keluarga, Daiyan sudah mengenakan kemeja berwarna putih menenteng jas kedokteran. Setelah melirik sebentar orang tuanya yang sedang membaca berita di tablet di ruang tengah, Daiyan langsung duduk dan mengeluarkan kotak cincin berwarna biru.


" Ayah! Ibu!" Kata Daiyan membuat kedua orang tuanya teralih dari layar tablet.


" Kenapa?" Kata Ayahnya yang merupakan seorang direktur perusahaan mie Instan.


" Seperti yang sudah Dai minta sama Ayah dan Ibu untuk melamarkan Raniyah puterinya Pak Ansor."


" Oh itu! Okey Ayah sudah cancle meeting jam satu siang, jadi kamu berangkat saja kerja dan selesaikan ujian sidang master kamu!" Tutur ayahnya.


" Iya Dai, percayakan pada ayahmu soal itu!" Kata Ibunya mendukung suaminya.


" Baiklah ayah, ini cincinnya."


Kotak cincin itu diambilnya oleh ayahnya Daiyan sambil mengulas senyuman, mereka senang akhirnya putera mereka mau menikah juga, padahal mereka sempet takut puteranya tidak akan menikah.


Daiyan pun mencium tangan kedua orang tuanya dan berpamitan berangkat kerja. Dalam hatinya masih tidak tenang, seharusnya dia datang sendiri melamar Raniyah tidak diwakilkan ke ayahnya.


Tapi malam itu, Profesor yang menguji ujian sidangnya justru menghubunginya untuk memajukan ujian sidangnya, karena Profesornya akan berangkat ke Belgia. Terpaksa Daiyan mengiyakan permintaan Profesor karena waktu juga.


****

__ADS_1


Siang itu selepas jam istirahat bagi para pekerja, kedua orang tua Daiyan sudah bertamu ke rumahnya Pak Ansor. Terlihat rona kebahagiaan terpancar dari keluarga Pak Ansor. Karena tampak kedua orang tua Daiyan bukan orang sembarangan.


Pak Ansor menjamu tamunya dengan hidangan terbaik, setelah bercakap-cakap cukup panjang. Selama itu pula, orang tua Daiyan melirik ke arah dua puteri Pak Ansor yang duduk ikut bergabung.


" Pak Ansor apakah mereka puteri anda?"


" Iya benar, yang ini Haya dan ini Raniyah." Kata Pak Ansor membuat kedua orang tua Daiyan mengangguk.


Haya dan Raniyah pun memberikan senyuman ke arah orang tua Daiyan. Ibunya Daiyan tampak mengamati dua gadis dihadapannya dan menimbang-nimbang.


" Dua anakmu belum menikah pak?"


" Belum bu, Haya anak ketiga saya masih lajang, dan Raniyah ini anak bungsu."


Ibunya Daiyan meminta ijin ke toilet setelah itu, tidak lama juga ayahnya Daiyan mendapatkan telpon, segera dia pun mengangkat telponnya diluar rumah. Rupanya yang menelpon adalah isterinya yang berada di toilet.


" Loh kenapa nelpon bu?"


"Gini loh Mas Ini pendapat ibu, kayaknya Haya itu lebih cocok buat Daiyan daripada Raniyah!"


" Iya bu, tapi Daiyan minta Raniyah yang dilamar."

__ADS_1


"Mungkin Daiyan salah lihat kali Mas,"


" Ish, aku tanyakan sekali lagi sama Daiyan kalau gitu!"


"Janganlah Mas, Daiyan lagi ujian sidang! Jangan diganggu! Udah sekarang ikutin kata ibu! Lamar Haya saja! Daiyan pasti bakal setuju!"


"Ya kalau gak setuju gimana bu?"


" Masa enggak ayah, tapi emang Haya lebih cocok buat Daiyan, Haya itu cantik, cerdas body oke, mereka bakal jadi pasangan serasi kalau nikah!"


" Apa masalahnya dengan Raniyah juga, dia guru di sekolah.Kerjanya lumayan!"


" Ya beda Mas. Kalau sama Raniyah nanti anak kita disangka nganter anak SMP, atau bapaknya!"


" Ibu kok gitu ngomongnya!"


" Udah pokoknya ibu mau ayah lamarin Haya buat Daiyan."


Tut tut tut


Telpon langsung diputuskan oleh ibunya Daiyan, sementara ayahnya hanya mengelengkan kepalanya. Dia kembali masuk ke rumah dan disana sudah duduk manis istrinya. Setelah meminta maaf karena terlalu lama mengobrol ditelpon, ayahnya Daiyan langsung ke intinya.

__ADS_1


" Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa kedatangan saya ini untuk melamarkan gadis untuk anak saya Daiyan, maka saya disini hendak mewakilinya melamar nak..."


Bersambung.....


__ADS_2