
Waktu berputar begitu cepat, bulan berganti bulan. Di pagi yang cerah, dimusim memasuki musim kemarau, angin berhembus sangat kencang. Wanita dengan perut membuncit keluar dari mobil mewah. Di tengah usia kehamilannya yang memasuki ke 8 bulan. Dia masih memaksakan diri untuk bekerja.
Ting
Ting
Ting
Pesan beruntunan masuk kedalam ponselnya. Tapi ia mengabaikannya. Dia memilih memimpin rapat sekolah yang dianggapnya lebih penting.
"Beberapa siswa tidak bisa naik kelas karena memenuhi syarat KKM!" Cetus seorang guru.
"Silahkan jika bapak ibu merasa dua siswa yang ditekankan ini tidak layak untuk naik! Tapi coba pertimbangkan dulu, sebelum kita memasukannya ke rapat final kita!" Jelas Haya sambil mengelus perutnya karena cabang bayi terus menendang - nendang.
Suasana rapat masih panas, guru-guru dan wali kelas masih berdebat. Tidak lama seseorang datang menghampiri Haya dan berbisik. Haya tampak mengangguk lalu segera meminta wakilnya untuk melanjutkan memimpin rapat.
Haya segera kembali ke dalam ruangannya, disana Daiyan sudah terduduk dengan melipat tangan di dada. Sebelum Haya duduk, Daiyan bangkit di mengeraskan rahangnya.
"Kenapa kamu tidak mendengarkanku!" Ucap Daiyan dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Hayolah kita sudah membicarakan hal ini!" Balas Haya tampak malas.
"Haya, aku mau kamu berhenti kerja, cukup aku saja yang kerja!" Ucap Daiyan.
"Tidak mau! Aku tidak mau berhenti kerja, Kerja adalah hidupku!" Bantah Haya.
"Dengarkan aku Haya! Aku masih mampu menafkahimu! Sekarang kamu fokus dengan anak kita saja!"
"Maaf, kali ini aku tidak bisa menuruti keinginanmu! Berada dirumah itu bukan kebiasaanku!"
"Haya aku memintamu hal ini sebagai suamimu!"
"Kamu hargai dong prinsip aku! Lagian dulu kamu gak pernah permasalahin hal seperti ini!"
"Cukup! Jangan terus mengaturku! kamu terlalu mengekang kehidupanku Dai!"
Alis Daiyan berkerut mendengar perkataan Haya yang dianggapnya kurang pantas berbicara demikian kepadanya dengan nada tinggi. Haya berlalu tanpa kata meninggalkan Daiyan didalam ruangan. Kini Daiyan merasa frustrasi dia mengacak rambutnya. Kakinya melangkah keluar dari ruangan Haya.
Terlihat tidak jauh dari dirinya berdiri Haya sedang bercengkrama dengan rekan kerjanya, dia tertawa lepas, terlihat bahagia. Daiyan hanya menatap sebentar lalu memilih pergi, Haya bukan tidak tahu Daiyan memperhatikannya, tapi dia sedang merasa jengah dengan segala aturan Daiyan. Dia nerasa kesal karena diminta berhenti kerja.
__ADS_1
*****
Sementara jauh disana, Raniyah sedang mengerjakan laporan administrasi guru yang harus diselesaikan satu minggu ini. Dia masih saja berkutat di ruang guru, disisi lain guru yang lain sudah memilih pulang dari sekolah. Jarak sekolah dengan kontrakan Raniyah memang dekat, jadi baginya tidak masalah pulang malam juga.
Jari jemarinya terus menekan tut keyboard mengetik setiap halaman, disamping mejanya segelas susu hangat dan potongan kue pie kesukaan Raniyah. Sesekali Raniyah membenarkan kacamatanya.
Hubungan dengan Fahrul tampak semakin jauh, hampir tidak pernah berkomunikasi, terakhir komunikasi Raniyah hanya lewat telpon sebulan lalu. Rasa rindu menyeruak tapi melihat sikap Fahrul yang tampak menjauh membuat Raniyah enggan membuka obrolan dengan Fahrul.
Suara musik di headsetnya yang terhubung ke laptop terus diputar untuk menemani kerjanya. Seorang lelaki dimeja paling ujung belakang, diam-diam memperhatikannya, sesekali dia tersunging tatkala Raniyah tanpa sengaja mengikuti alunan musik dan menyanyi.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering, Raniyah melirik, tidak biasanya kali ini jantungnya terasa berdebar saat melihat nama yang tertera di layar ponsel itu Fahrul. Dia segera mengeser tombol hijau.
" Assalamualaikum halo A!"
" Waalaikumsalam Ran."
"Kenapa A?"
"Aku ada hal penting yang mau diobrolin, sebelumnya aku minta maaf Ran!" Suara disebrang itu hampir tidak jelas terdengar oleh Raniyah karena detak jantungnya terpacu dan pikirannya sudah melanglangbuana.
__ADS_1
Hati wanita bisa membaca apa yang akan terjadi meskipun lelaki itu belum mengucapkannya, air mata Raniyah mulai meleleh saat mendengar untaian kata itu.
#bersambung...