Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Terkejut


__ADS_3

"Ran Cepetan!" Suara Daiyan semakin lantang dan mengedor kamar mandi.


Jelas Raniyah yang berada didalam kamar mandi semakin panik. Perlahan dia membuka pintu kamar mandi, karena tidak sabar Daiyan mendorong pintu hingga akhirnya membuat Raniyah yang baru nonggol terdorong disertai lantai kamar mandi licin membuatnya terjatuh kelantai dan kepalanya membentur keramik, Daiyan yang hendak menahan tubuh Raniyah malah ikut terjerambab dan menindihhnya.


"Aww!Sorry Ran" Ucap Daiyan yang langsung bangkit, tapi tidak ada suara dari Raniyah.


Rupanya Raniyah pingsan, Daiyan ikut panik langsung mengendong tubuh Raniyah dan membaringkannya di kasur, tubuhnya diselimuti selimut sampai leher, karena pakaian yang dikenakan Raniyah cukup membuat jantungnya berdebar jika melihatnya lama-lama.


Daiyan segera menghubungi dokter, dia meminta dokter ke rumahnya. Tidak butuh waktu lama dokter wanita datang. Melihat Raniyah yang terbaring, Dokter langsung memeriksa sambil tersipu.


" Bagaimana dok?"


"Otak kecilnya sedikit terbentur, makanya pingsan, biarkan saja istirahat."


"Makasih dok."


"Em.. Jangan terburu-buru melakukannya, tunggu sampai siuman!" Ucap dokter tersebut tersipu sambil merapihkan alatnya


wah dokter ini mikir yang aneh-aneh! Batin Daiyan.


Setelah mengantar dokter keluar, Daiyan kembali ke dalam kamar. Dia menatap wanita yang berada dikasur itu, pakaian itu membuatnya tergerak mendekat ke arah Raniyah. Gejolak jiwa kelelakiannya mulai bergelora. Hasratnya yang sudah lama belum tersalurkan sudah meronta-ronta.


"Sial! Kenapa harus memakai baju begini!" Umpat Daiyan menarik tangannya yang hendak menyentuh Raniyah.

__ADS_1


Sekali lagi Daiyan yang duduk dipinggir kasur melirik ke arah Raniyah. Lama-lama wajahnya pun mendekat ke wajah Raniyah dan mengikis jarak diantara keduanya. Pertautan pun terjadi, Daiyan menyapu bibir isterinya dengan lembut sambil mengelus kepalanya.


****


Pagi hari


Raniyan membuka kelopak matanya, dia tertidur menyamping, pemandangan pertama wajah Daiyan yang terlelap. Separuh nyawanya belum terkumpul, Raniyah masih linglung. Baru beberapa detik kemudian matanya membulat melihat Daiyan berada dalam satu selimut dengannya dan tidak mengenakan baju.


"Apa yang terjadi? Apa semalam terjadi sesuatu?" Batin Raniyah sambil menutup mulutnya karena terkejut.


"Apa benar-benar terjadi? Ke-kenapa aku tidak mengingat sesuatu?"


Raniyah yang masih perang batin, Daiyan tiba-tiba membuka matanya, dia terbangun, tapi wajahnya terlihat tenang tidak seterkejut Raniyah. Dia mengumpulkan nyawanya, sementara Raniyah wajahnya sudah merah bagaikan kepiting rebus.


"Ki..kita habis..." Ucapan Raniyah mengantung.


"Apa?"


"Se-semalam?"


"Kamu pingsan!"


"Terus?"

__ADS_1


"Ya udah ketiduran kamu, sama kayak aku ketiduran disini! Tidak ada yang terjadi semalam!"


"Be..beneran gak terjadi apa-apa?"


"Gak percaya! Aku gak mungkin nyentuh kamu!"


"Kenapa gak? Aku kan isterimu!" Kali ini Raniyah tertantang untuk meminta haknya.


"Aku tidak bernafsu sama tulang!" Ucap Daiyan sambil menyingkap selimut yang langsung memperlihatkan badan Daiyan yang atletis dengan celana komprang.


Raniyah mulutnya membentuk huruf o, dia tidak berkedip sampai Daiyan menghilang dibalik pintu. Barulah Raniyah memeriksa badannya, yang ternyata masih mengenakan lingerie. Dia menghela nafasnya sambil menyenderkan tubuhnya.


"Duh bisa-bisanya aku pingsan!"


Raniyah menatap jam dinding menunjukkan pukul 5.00 pagi. Dia masih merasa enggan untuk beranjang dari kasurnya. Tapi dia pun memaksakan membangunkan Salsa dan membisikkannya.


Setelah mengendong Salsa sebentar dan membiarkan si bayi terlelap kembali setelah diberi ASI. Raniyah barulah masuk ke kamar mandi, tapi mencuci wajahnya terlebih dahulu di washtafel, melihat pantulan dirinya di cermin, barulah Raniyah menyadari ada yang tidak beres.


Sekitar leher dan pundak bahkan hampir ke bagian dada terdapat beberapa bercak merah. Raniyah berkerut dahi.


"Ini apa?"


#Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2