
"Ran, kamu itu kok udah nikah sama Daiyan belum kelihatan hamil?" Seru Ibunya Daiyan sambil memetik cabai di kebun keluarga.
Setiap hari libur, Raniyah selalu diundang ke rumah mertuanya untuk melakukan berbagai macam hal, seperti hari ini, Raniyah diminta ikut panen cabai dikebun kecil milik keluarganya Daiyan.
"Em.. Lagi diusahain bu." Kata Raniyah yang membuntuti ibu sukmini, nama dari mertuanya Raniyah yang juga ibunya Daiyan.
"Tapi ibu lihat kamu kayaknya masih perawan aja Ran!" Kata bu Sukmini.
Deg
Kali ini Raniyah hanya bisa diam, karena memang dia masih perawan. Bu Sukmini membalikan badan dan melihat Raniyah menunduk menatap ke arah cabai yang berada dalam baskom yang dibawanya. Melihat gelagat Raniyah, bu Sukmini mengelengkan kepalanya.
"Daiyan pendiam, kamu yang harus aktif! Berpahala juga loh mengoda suami!" Ucap Bu Sukmini.
"Apa gak terlalu cepat juga bu, Kan Salsa masih kecil kalau aku juga harus hamil."
"Enggaklah, biar Salsa ada teman mainnya! Lagian kan Salsa ada pengasuhnya juga sekarang kalau kamu hamil ya gak masalah. Ran, ibu pengen punya banyak cucu."
Begitulah gerutu ibu mertuanya sambil terus memetik cabai. Mertuanya bukan sekali dua kali membicarakan masalah anak. Tapi akhir-akhir ini jadi lebih sering. Raniyah bukan tidak menginginkannya tapi posisinya suaminya, justru dia yang tidak menginginkannya. Rumah tangga yang dibangun hanya sekedar hubungan Raniyah dengan Salsa, status hanya dalam buku nikah saja.
__ADS_1
"Ran bawa baskomnya kesini!" Seru bu Sukmini yang ternyata sudah jauh dari jangkauannya.
Dengan sedikit berlari kecil Raniyah menghampiri bu Sukmini. Tangan bu Sukmini menepuk tempat disebelahnya yang kosong, Raniyah segera duduk disana.
"Coba ini!" Bu Sukmini menyodorkan tomat merah.
Raniyah meraihnya, meskipun dia tidak menyukai tomat, tapi saat itu dia langsung melahapnya. Bu Sukmini memilih beberapa tomat segar dan memasukannya ke kresek.
"Bawa ini nanti pulang, Daiyan suka jus tomat." Ucap Bu Sukmini sambil menyodorkan Kresek.
Berbicara Daiyan, dia setiap hari minggu harus jalan-jalan dengan Salsa, dan tidak lupa Haya akan berada disana. Dalam hati, memang kondisi membuat Raniyah merasakan cemburu, tapi mau bagaimana lagi, Daiyan sendiri tidak menolak menghabiskan libur bersama dengan Haya yang notabene mantan isterinya.
Setelah selesai memetik semua cabai dikebun, Keduanya masuk ke rumah. Raniyah membantu mertuanya membuat beberapa hidangan, yang lebih tepatnya Bu Sukmini mengajarkan Raniyah memasak makanan kesukaan Daiyan. Menurut Bu Sukmini suami itu harus dipuasakan perut dan dibawah perut. Setiap mendengar itu Raniyah memerah wajahnya.
"Iya bu makasih."
" Ah, kamu juga malam ini pokoknya harus melayani Daiyan!"
Mata Raniyah membulat terkejut dengan mertuanya yang bersemangat perihal hubungannya dengan suami. Langkah kakinya melebar merangkul pundak Raniyah.
__ADS_1
"Ibu ada lingerie yang baru dibeli, bawa ya, malam ini dipake!"
"I..Iya bu!" Raniyah mendemgarnya merem melek.
Bu Sukmini terlihat puas, dia kembali lagi ke aktivitasnya, sementara Raniyah pikiranya tambah kalut, permintaan mertuanya sangat memberatkannya.
***
Dalam kamar mandi
Raniyah sudah mengenakan lingerie warna hitam, baju yang transparan dan mini, tubuhnya yang tidak pernah terekspose membuatnya tidak nyaman mengenakannya.
"Yang benar saja aku memakai ini depan kak Daiyan, apa dibuka lagi aja ya? Tapi nanti kalau ibu nanyain giman! Duh!!" Raniyah mengerutu bingung.
Tok tok tok
Pintu kamar mandi diketuk dengan keras dariluar.
"Ran kenapa lama banget! Salsa nangis, aku mau beresin laporan!" Suara Daiyan diluar.
__ADS_1
"I..Iya bentar!" Raniyah mondar mandi didalam kamar mandi.
#Bersambung...