Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Panas Hati


__ADS_3

Perjalanan dengan mobil pribadi menuju Banten barulah pertama kalinya Raniyah rasakan. Daiyan tampak serius mengemudi, suasana canggung dan sunyi masih mengisi ruang dimobil itu, padahal perjalanan mereka sangat jauh.


"Kamu berubah ya, dulu sangat bawel!" Celetuk Daiyan yang tiba-tiba membuka suaranya membuat Raniyah menoleh.


"Aku hanya tidak mau memicu perdebatan, dan apa juga yang harus kita bicarakan." Ucap Raniyah sambil memperhatikan wajah bagian samping Daiyan.


Kagum dan terpesona jelas tergambar diwajah Raniyah, bahkan adegan pagi juga masih terus berputar dikepalanya. Pipinya pun tiba-tiba merona. Daiyan tiba-tiba saja menoleh. Jantung Raniyah rasanya mau copot.


"Itu benar! Urus anakku dengan baik!" Ucap Daiyan membuat Raniyah mendengus.


Seandainya bukan karena permintaan orang tuanya, Raniyah pastinya memilih tidak menjadi ibu sambung Salsa, keponakannya, tapi apa daya. Dia tidak kuasa menolak keinginan ibundanya.


"Kamu tidak senang mengurus anakku?" Tanya Daiyan sambil mengkerutkan alisnya.


Raniyah yang memperhatikan jalanan melalui jendela mobil kembali menoleh ke arah Daiyan. Wajah lelaki dingin yang hanya menjadikan posisi isteri seperti baby sitter.


"Dia keponakanku, mana mungkin aku tidak senang! Hanya saja aku ingin diperlakukan seperti seorang isteri! Bukan pengurus bayi!" Jelas Raniyah.


"Tapi itu memang alasan kamu menikah denganku! Jangan berharap yang lain! Dan ingat ciuman pagi tadi tidak ada arti apapun! Jangan berpikir berlebihan!" Tandas Daiyan membuat hati Raniyah rasanya terbakar.


" Ya aku tau! Dan kenapa kamu harus mengunakan bibirmu kalau hanya ingin menjauhkan aku agar tidak mencium anakmu! Bukankah kamu cukup bisa menegur ku saja!" Emosi Raniyah tiba-tiba mengebu-ngebu.


Seketika Daiyan terdiam dan pura-pura fokus dengan jalanan dihadapannya, lalu tangannya terulur dan menyalakan musik dimobil, kesal bukan main Raniyah langsung memutar bola matanya. Ditambah musik yang diputarnya membuat Raniyah ingin meluapkan emosinya.


Bahagia denganmu


Kini senyap jiwa tak bertuan


Tanpa berpamitan kamu


Menghilang bagaikan ditelan samudera


Ku ingat ingat apakah aku salah


Dan menyinggung perasaanmu


Meski sejuta senja aku menangis merindukan bayanganmu


Namun hidupku harus terus berjalan dengan hati rela... (Rela_Shenna Shannon)


Daiyan dengan ekor matanya dia mengintip eksprrsi Raniyah yang memandangi keluar jendela mobil. Ada sejuta tatapan yang penuh arti dari Daiyan, antara rasa iba, penasaran semuanya tampak tergambar. Sejauh ini, Daiyan tidak mengetahui semua kehidupan Raniyah selama di Banten. Terkadang dia terpikir, mungkin saat menikahi Raniyah, bisa jadi dia sudah memiliki kekasih. Tapi hingga kini Daiyan gengsi untuk bertanya perihal pribadi dengan Raniyah.


Tiba-tiba terlihat raut wajah Raniyah tampak murung sepanjang lagu diputar, Daiyan terus memperhatikannya, tangan Raniyah terlihat bergerak ke sudut matanya dia menghapus setitik air mata yang bisa meluncur bebas. Setelah itu tanganya terulur ke arah pemutar musik, dia ingin menghentikannya tapi tangan Daiyan lebih sigap, sehingga tangan keduanya tumpang tindih, Raniyah menoleh dengan wajah keheranan.


"Haus! Ambilin air!" Seru Daiyan membuat Raniyah berlaih tangannya ke jok belakang dan mengambil air ditumbler lalu menyodorkannya.


"Lagi nyetir, ambilin sedotannya!" Ucap Daiyan membuat Raniyah diam diam menghela nafas kesal.


Raniyah mengambil sedotan dan memasukannya ke tambler, Daiyan memberikan kode agar Raniyah mendekatkan sedotan ke mulutnya. Terpaksa Raniyah mengikuti keinginan suaminya. Mata Daiyan melirik Raniyah yang tampak bengong memegangi tumblernya. Segera Daiyan menjauhkan tumbler darinya.


"Kamu juga minum!" Serunya membuat Raniyah tersadar dan menatap Daiyan lalu meminum air dari sedotan yang sama digunakan Daiyan.


Sudut bibir Daiya tercengkat senang melihat tindakan Raniyah namun segera dia menyembunyikannya lagi.

__ADS_1


"Ekhem, nanti kita makan siang dulu di rest area! Aku lapar." Ucapnya membuat Raniyah mengangguk setuju.


*****


Malam hari mereka sudah kembali lagi ke kota asal. Karena Raniyah hanya berpamitan sebentar dan membawa barang-barang yang ada di kontrakannya. Meskipun belum genap setahun tinggal di kota Banten tetap saja ada rasa sedih meninggalkan kota yang membuatnya mengenal seseorang disana.


Besok paginya, Raniyah disuruh ibunya Daiyan untuk datang ke rumahnya tanpa membawa Salsa, karena Haya akan menemui Salsa. Tampak di rumah megah itu Raniyah terduduk di sofa, sementara ibunya Daiyan masih berkutat didalam kamarnya, Raniyah yang mulai bosan mulai memainkan ponselnya. Dia melihat postingan suaminya berada di sebuah cafe. Terus dia juga melihat postingan Haya kakaknya, yang ternyata menunjukan potret berada di pintu masuk cafe yang sama dengan Daiyan.


Deg


Melihat hal tersebut, rasanya dia ingin menangis, hatinya teriris. "kenapa aku harus cemburu?" Bisiknya.


"Mereka jalan-jalan dan ketemuan, wajar saja!" Batin Raniyah.


Tangannya bergerak bimbang, matanya sudah berkaca-kaca, hatinya terbakar api cemburu, ingin mengirim pesan pada suaminya tapi bimbang juga, dia mengelap air matanya karena ibunya Daiyan datang.


"Maaf ya menunggu lama." Ucap ibunya Daiyan sambil membawa sebuah kotak.


"Gak apa-apa bu."


"Oh ya gimana kabar Daiyan sama salsa!"


Deg


Hanya mendengar nama itu rasanya dia langsung teringat postingan suaminya yang ketemuan dengan mantannya. Raniyah menahan raut wajahnya agar tidak terlihat sedih.


"Baik bu."


"Maafin ibu ya, suruh kamu kesini, padahal baru pulang dari Banten."


"Emm.. Oh ya, kamu ada rencana kapan punya anak Ran?" Tanyanya.


"Punya anak? Duh bahkan belum terencanakan, kak Daiyan belum mengingunkan anak!"


"Emm.. Rani fokus sama Salsa dulu Bu, kalau salsa sudah gedean baru Rani sama kak Daiyan akan memikirkannya."


"Yeah itu pemikiran yang bagus, tapi kamu juga harus memikirkan tentang kamu, rumah tangga juga kamu harus punya keturunan agar pernikahan lebuh terikat. Kamu harus pinter dandan, bikin suami senang dirumah" Ujar Ibunya Daiyan.


Raniyah hanya mendengarkan perkataan ibunya Daiyan sambil menunduk. Setelah selesai menceramahi Raniyah, Ibunya Daiyan mengajak Raniyah ke dapur.


"Dulu Haya kalau kesini suka bantu ibu masak, dia juga jago bikin pancake. Kamu bisa bikin pancake? Daiyan suka loh sama pancake buatan Haya!" Ucap Ibunya Daiyan membuat Raniyah tertegun.


"Rani gak bisa bu," Jawabnya pelan.


"Oh ya sudah gak apa-apa!"


"Haya juga bisa bikin soto yang enak!"


Sekali lagi Raniyah dibuat cemburu dengan sikap ibu dan anak itu. Kini dirinya harus bisa mencerminkan diri seperti kakaknya, sakit.


Kalau bukan menikah karena ibu, aku tidak ingin naik ranjang! Lihatlah bagaimana mereka terus membicarakan kakakku.


Selama ibunya Daiyan mengoceh, Raniyah hanya diam saja mendengarkan, meskipun kupingnya sudah sangat panas dan hatinya juga panas sekaki. Ditambah sekali lirik dia mengecek status baru suaminya dan kakaknya itu memamerkan tiket nonton. Semakin dia ingin menangis, Raniyah menutup ponselnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku gak melihat apapun, dan gak terbawa hati!"


Air matanya kini meluncur sambil mengupas bawang, hatinya perih dan bergemuruh, api cemburu memenuhi jiwanya, dia mengupas sambil sesekali menghapus air matanya, terdengar Raniyah tampak terisak kecil, Ibunya Daiyan yang sedang memotong sayuran menoleh.


"Kamu nangis?"


"Ah ini karena bawang bu!"


"Aduh gak biasa ngupas bawang ya, ya udah gantian cuci sayuran aja!"


Raniyah mengangguk dan mengambil alih sayuran dan mencucinya. Pikirannya sudah melanglang buana, hatinya terus sakit karena terlintas terus status yang dibuat suaminya.


Dua jam berlalu..


Raniyah dan ibunya Daiyan sudah selesai memasak dan menghidangkan masakannya dimeja makan. Tidak lama kemudian muncul Daiyan yang mengendong Salsa disamping Haya memasuki ruang makan.


"Nah kalian datang juga, sini makan, tadi mamah sama Rani sudah masak." Ucap Ibunya Daiyan.


Raniyah yang hatinya masih sesak, kesal bukan main, bahkan rasanya kesal melihat wajah dua irang dihadapannya. "Aku disuruh masak buat nyiapin mereka rupanya!" Batin Raniyah.


"Wah aku kangen banget masakan ibu!"


"Ya udah duduk sini, mumpung masih hangat! Ranu ambil piringnya!" Seru Ibunya Daiyan.


Raniyah pun mengangguk dan mengambil piring ke dapur, begitu kembali kekesalannya bertambah, Daiyan duduk berdampingan dengan Haya dan Ibu. Ingin sekali Raniyah melemparkan piring saat ini juga, tapi segera dia berjapan dan menyimpan piring dimeja. Raniyah mengambil piring untuk Daiyan tapi dicegah oleh Haya.


"Biar aku aja!"


"Kenapa? Aku kan isterinya!" Tatap Raniyah tajam pada Haya.


"Sudah jangan berantem! Rani kamu duduk aja!" lerai Ibu membuat Raniyah duduk dan menyimpan piring untuk Daiyan.


Sementara Daiyan terus menatap ke arah Raniyah, Haya mengambil piring untuk Daiyan dengan diisi oleh lauk pauk.


"Sudah aku ambil sendiri!" Daiyan merebut piringnya.


Haya melihat reaksi dingin Daiyan hanya bisa menghela nafas.


Acara makan pun berlangsung sangat tegang, tapi ibunya Daiyan berusaha mencairkan suasana dengan memgobrolkan Salsa pada Haya. Sementara Raniyah hanya makan dalam diam, dia tidak bersemangat.


Setelah waktu berlalu, malam tiba Daiyan dan Raniyah pamitan kembali ke rumahnya. Raniyah tidak banyak berbicara pada Daiyan. Dia membawa Salsa langsung masuk ke dalam kamar dan menidurkannya.


Ada perasaan aneh dengan sikap Raniyah yang pendiam. Dia masuk ke kamar Raniyah saat Raniyah berada di kamar mandi. Dia duduk melihat wajah puterinya yang tertidur.


ceklek


Raniyah sudah keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidur, sejenak tampak terkejut melihat Daiyan tapi kemudian dia mengacuhkannya dan memilih berjalan ke kasurnya, namun


sret


Tangannya ditahan Daiyan, Raniyah terhenti. Daiyan membuatnya menghadap ke arahnya, Raniyah membuang muka.


"Kamu menghapus foto profil di akun chat?" Pertanyaan itu keluar dari Daiyan.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2