
Tangan Raniyah memeluk erat tubuh yang berada di sampingnya. Aroma maskulin dari tubuh itu menyeruak menusuk indra penciumannya, matanya mulai mengerjap tersadar dari tidurnya. Tanganya terasa menyentuh kulit yang sangat halus dan pipinya juga terasa menyentuh kulit.
"Aku seperti mendengar detak jantung, apa itu suara jantungku?" Batin Raniyah.
Tangannya mulai menyusuri tubuh itu dan wajahnya menegadah melihat ke arah wajah lelaki yang kinu tubuhnya menjadi sadarannya. Mata Raniyah langsung terbelalak. Dan dia langsung melihat tubuh bagian atas Daiyan yang terbuka, pikirannya langsung memeriksa dirinya, tapi langsung menghela nafas saat dia melihat masih lengkap. Saat ingin melepaskan diri dari Daiyan, dia sadar tangan Daiyan memeluk pinggangnya.
" Kak, kita harus bangun!" Ucap Raniyah menatap mata yang masih rapat itu.
" Emmm..." Daiyan hanya bergeming sejenak.
" Kaaaak!!" Raniyah memanggilnya lebih keras.
Bukannya Daiyan bangun justru kini badan Raniyah diangkatnya dan diperlakukan selayaknya guling yang dibanting lalu dipeluknya sambil meringkuk. Raniyah sontak linglung. Tangan Daiyan yang kekar kini mengungkungnya, memeluk dari belakang.
Raniyah mencoba melepaskan diri dari pelukannya Daiyan, tapi rupanya justru semakin membuat Daiyan memeluknya lebih erat lagi seperti takut gulingnya hilang. Raniyah pun kesal dan mengelitiki Daiyan.
"Emwma.." Daiyan mulai terusik.
__ADS_1
"Bangun kak ayo bangun aku harus ke kantor."
" Hem??" Daiyan mulai terbangun dengan kesadaran masih belum terkumpul.
" Ayoo.."
Daiyan yang setengah sadar melihat wajah Raniyah, dia menyerigai dan langsung mengungkungnya, Wajah Raniyah memerah dan matanya membulat penuh. Leher putih Raniyah yang menjadi serangan pertama Daiyan, Raniyah sontak terkejut saat merasakan ada sentuhan di leher. Tangan kecilnya menahan dada bidang suaminya, Daiyan langsung meraih tangan mungil itu dan mencengkramnya disamping kepala Raniyah. Kini Raniyah tidak bisa bergerak leluasa.
"Kak, belum sikat gigi ih!" Renggek Raniyah.
" Kak aku malu, Kak.." Ucap Raniyah suara serak bangun tidur.
Daiyan pun bangkit dan menatap wajah Raniyah yang sudah semerah kepiting rebus. Keduanya saling bertatapan. Daiyan yang tersadar langsung bangkit lalu bergegas ke kamar mandi Sontak Raniyah melonggo melihat aksi Daiyan yang pergi begitu saja tanpa suara.
" Apa- apaan ini," Raniyah bangun dan terduduk.
Tidak lama kemudian, Daiyan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya, Raniyah terus memperhatikan gerak gerik Daiyan. Merasa diperhatikan dia pun menoleh ke arah Raniyah yang masih berada di atas kasur.
__ADS_1
" kamu mau mengodaku?" Sambil mengangkat satu alisnya.
" Mengoda?" Raniyah keheranan.
" gak bakal mempan!"
" Apaan mengoda, siapa juga yang menyerangku!"
" Cepat mandi, kancingkan bajumu juga!"
Sontak Raniyah melihat ke arah bajunya, benar saja dadanya terbuka, dia segera turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Rasanya sangat malu sekali tadi.
"Siapa yang buka kancing baju aku!" kesal Raniyah sambil terus membasuh wajahnya karena malu. Sesekali dia juga melamun mengingat kejadian baru bangun tidur tadi.
Kembali lagi, Raniyah mengelengkan kepalanya, rasanya aneh sekali. Ada yang mengelayar dalam dirinya saat sentuhan demi sentuhan dilayangkan suaminya itu. Dia lekas mandi untuk menghilangkan pikirannya yang sudah berbaur dengan kejadian tadi pagi.
Saat melihat sekeliling kamar sepi, Raniyah lantas keluar dari kamar. Rupanya Daiyan tengah tadarus Al quran. Raniyah segera berpakaian dan menunaikan kewajibannya.
__ADS_1