Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Emosi


__ADS_3

Hari libur, yang menjadi tanda hari terakhir Haya berada di rumah tersebut. Sementara, pagi itu Raniyah sudah merenggek pada Daiyan untuk mengantarnya ke pasar. Karena ada banyak keperluan rumah yang harus dibeli.


"Kenapa aku harus mengantar kamu?" Pertanyaan yang bodoh dalam pikiran Raniyah saat mendengar kalimat tersebut meluncur bebas di bibir suaminya.


"Kenapa kakak masih bertanya. Ya Jelas dong, kan kakak suami aku!" Jelas Raniyah.


"Suami? Apa baru kali ini aku mendapatkan pengakuan sebagai suami?" Ucap Daiyan sambil melipat tangannya di dada menyender di pintu ruang kerjanya.


"Apa maksud kakak. Please gak usah banyak drama! Ayo berangkat!" Ucap Raniyah sambil menyeret tangan Daiyan.


Namun, Daiyan menarik kuat tangannya sehingga Raniyah terjerembab ke dalam pelukannya. Seketika wajah Raniyah memerah. Bayangan hari kemarin terputar lagi. Raniyah langsung melepaskan diri dari Daiyan.


" Hari ini aku tidak bisa! Pekerjaanku numpuk!" Tandas Daiyan sambil membuka pintu kerjanya dan menunjukan ke berkas di atas meja.


" Aku kira seorang dokter tidak perlu memiliki pekerjaan yang dibawa ke rumah! Kakak hanya beralasan saja!" Ketus Raniyah

__ADS_1


Daiyan tidak bersuara tapi dia memberikan tatapan yang sangat tajam pada Raniyah, kalau sudah ditatap begitu Raniyah tidak bisa berkutik, dia hanya menghela nafas dan berjalan keluar dari kamar dengan kesal.


"Lain kali aku antar, hari ini aku sibuk, ada seminar online juga!" Jelas Daiyan berbicara saat Raniyah berjalan keluar, meskipun Raniyah sama sekali tidak menyahutinya.


Haya memperhatikan pasangan suami isteri yang tidak lain adiknya sendiri itu diam-diam. Melihat Raniyah akan berangkat sendiri, dia tersenyum samar. Disana pintu kamar Daiyan juga tidak ditutup membuatnya semakin senang.


Raniyah berjalan menuruni tangga dan sesekali dia melirik ke atas ke arah kamar Daiyan dan memasang wajah cemberut lalu menendang kesal pada bahu tangga, seketika dia meringgis, lalu dia pun buru-buru keluar dari rumah.


Cuaca hari libur kali ini memang lebih pantas bersantai dan bergulung di dalam selimut. Tapi mau bagaimana lagi, kebutuhan rumah sudah menipis, Raniyah berangkat bersama ART menaiki kendaraan umum.


Pasar


Tidak menyangka dia juga sempat memotret beberapa orang yang berada di Pasar. Siapa lagi, fotografer yang merupakan mantan dari Raniyah. Fahrul dia memotret sana-sini namun belum menyadari keberadaan Raniyah. Setelah memotret dia menelisik hasil jepretannya satu-satu takut ada yang kurang. Dan sesekali memperbesar lensanya untuk melihat objek yang dipotretnya tidak ngeblur. Sampai disatu titik dia terdiam saat memastikan wajah wanita yang terpotret sedang memegang tomat.


"Raniyah?" Ucapnya pelan dan jantungnya seketika berdebar, entah kenapa rasanya sesak melihat seseorang yang ditinggalkannya dan kini bertemu tak sengaja.

__ADS_1


Fahrul langsung tercengkat, matanya menyapu setiap sudut untuk mencari keberadaan Raniyah, berjalan kesana kemari, sampai dia berhenti karena menemukan yang dicarinya sedang asyik menunggu ayam potongnya ditimbang oleh si penjual. Sesekali tampak wanita yang diperhatikannya bercanda dan menampilkan senyuman manis yang selalu dirindukannya.


Aku selalu berharap kamu bahagia Ran. Syukurlah kamu bisa tertawa lepas saat ini. Jujur ini membuat aku tenang Ran. Batin Fahrul.


Pelan-pelan Fahrul bergerak mendekat ke arah Raniyah, namun tinggal beberapa langkah lagi, Fahrul terhenti karena disana tampak Raniyah bertegur sama dengan teman wanitanya. Akhirnya, Fahrul hanya bisa berdiam diri melihat Raniyah dari kejauhan.


Sementara di Rumah


Haya mengobrak abrik lemari Raniyah dan menemukan lingerie. Tanpa ragu langsung memakainya, sangat ketat sekali dibadannya, Lingerie warna hitam dipadukan dengan warna kulit tubuhnya yang putih menambah keseksian. Haya tersenyum, dia menyemprotkan parfum diseluruh tubuhnya.


Dengan ini mana ada yang bisa tahan, kecuali lelaki yang tidak normal. Batin Haya


Setelah itu dia memoleskan make up dan mengerai rambutnya, perlahan dia berjalan keluar dari kamar dengan mengendap-endap, karena dibawah ada baby sitternya Salsa sedang mengasuh, dia tidak ingin rencananya gagal. Merebut kembali Daiyan adalah tujuan utamanya.


Ceklek

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Haya memasuki kamar Daiyan dia melihat ke arah ruang kerja sambil menyerigai, langkahnya pelan namun pasti dia perlahan membuka ruang kerja, yang ternyata Daiyan tampak sedang bertelponan menghadap ke jendela dan tidak menyadari Haya masuk. Tanpa menunggu lama Haya langsung memeluk Daiyan dari belakang. Sontak Daiyan terkejut dan ....


Bersambung....


__ADS_2