Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Sang Mantan Datang


__ADS_3

Raniyah baru saja selesai mengajar dikelasnya, tiba-tiba petugas piket memanggilnya karena seseorang mencarinya, semua rasa bercampur dalam dirinya, dia menebak-nebak siapakah yang datang untuk mencarinya.


Raniyah berjalan sambil berdebar jantungnya, dia terhenti begitu melihat kepala seseorang yang membelakanginya tengah duduk di kursi tamu. Dua lelaki yang datang mencarinya.


Langkah Raniyah mulai memelan, saat itu pula lelaki yang tengah duduk itu menoleh, mereka tampak terkejut. Ahsan langsung berdiri dan senyumannya mengembang dia mendekat ke arah Raniyah lalu memegang bahunya.


" Ran, ini kamu kan?" Kata Ahsan berkaca-kaca, Raniyah tampak bengong.


"... Aku nyari kamu kemana-mana, kenapa kamu pergi Ran? Kenapa kamu menjauhi aku Ran?" Seru Ahsan.


" Mari kita bicara sambil duduk " Kata Raniyah menenangkan dirinya yang terkejut dengan kedatangan Ahsan.


" Weh teh," Kata Hisyam tersenyum dan mengangguk dibalas juga oleh Raniyah yang mengangguk.


Ahsan duduk disamping Raniyah, Ahsan benar-benar sangat merindukan Raniyahnya. Tapi tidak dengan Raniyah yang tampak bingung dengan kedatangan Ahsan.


" Ahsan kenapa kamu harus mencari aku?" Kata Raniyah menatap bola mata Ahsan.


Disanalah Raniyah bisa melihat kesehatan Ahsan sebelumnya, tampaknya Ahsan dalam kondisi tidak baik-baik saja. Seketika Raniyah pun menunduk dia tidak tega.


"Aku rela melepaskan dan menetang keluargaku, demi bersama kamu Ran." Ucap Ahsan membuat Raniyah sedikit mendongkakkan kepalanya.


" Itu tidak benar Ahsan, Kamu harus tetap berbakti kepada kedua orang tuamu." Ucap Raniyah menahan sesak dihatinya.


" Kamu mencintai aku kan Ran?" Kini Ahsan mempertanyakan perasaannya Raniyah berkerut dahi.


"Sebenernya aku hampir tidak memahami perasaanmu padaku! Terkadang kamu terlihat mencintaiku, tapi kamu tidak ingatkah waktu kita akan tunangan. Dan bukankah kita sudah mengakhiri semuanya?" Jelas Raniyah.


" Raniyah..." Ucap Ahsan.


" Kamu mau apa kesini Ahsan?" Tanya Raniyah.


" Aku akan menikahimu!" Ucap Ahsan membuat Raniyah membuang pandangannya.


" Sudahlah Ahsan, lupakan saja! Dan pulanglah!" Ucap Raniyah berdiri hendak pergi, namun Ahsan langsung menarik tangan Raniyah dan memeluknya.


" Ahsaaaan!" Tegur Raniyah langsung memberontak.


" Ran, sebentar saja please!" Bisinya menyandarkan kepalanya dibahu Raniyah.


" Ahsan Please!" Ucap Raniyah dengan bibir bergetar.


Seketika Ahsan melepaskan tangannya yang memeluk Raniyah. Dia menatap Wajah Raniyah dan memegang wajah Raniyah. Raniyah tidak pernah tampak sefrustrasi ini.


" Aku akan mendapatkan hatimu lagi," Ucap Ahsan.


"J**angan mengoyahkan pertahanan yang telah aku bangun Ahsan!" Batin Raniyah menantang tatapan Ahsan.


*****


Di Rumah Haya dan Daiyan


Tampak Daiyan yang masih bersikap dingin, dia sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit dan pulang larut malam saat Haya sudah terlelap. Sebulan sudah berlalu pernikahan keduanya, tapi Haya tampak mulai merasa jenuh dengan pernikahannya. Daiyan tampak cuek dengannya.

__ADS_1


Malam itu, Haya sengaja menunggu Daiyan pulang, dia menonton televisi, sampai suara mobil terdengar memasuki garasi. Haya terdiam dia melihat ke arah pintu, Daiyan masuk, dia tampak terkejut. Selama ini Daiyan dan Haya tidak pernah banyak bicara.


" Baru pulang?" Tanya Haya sambil berdiri dan dibalas anggukan oleh Daiyan.


" ... Aku dengar ada perawat magang di rumah sakit?" Lanjut Haya memancing Daiyan berbicara.


" Iya ada, aku mandi dulu." Ucap Daiyan sambil berlalu.


" Aku belum selesai bicara Dai!" Ucap Haya mulai berdiri dihadapan Daiyan.


" Ya sudah bicaralah." Ucap Daiyan.


" Perawatan magang itu mantan kamu kan?" Tanya Haya.


" Iya." Jawab Daiyan tenang.


" Perfect! Jadi benar bahwa kamu.." Haya mulai tidak tenang.


" Jangan berpikir yang tidak-tidak, kita hanya rekan kerja." Ucap Daiyan sambil berjalan melalui Haya.


" A..Aku bosan dengan pernikahan kita yang dingin seperti ini Dai!" Seru Haya sontak membuat langkah Daiyan terhenti.


" Kamu mau yang seperti apa?"


" Kamu jujur sama aku Dai, bisa gak sehari aja kasih waktu kita bersama?" Keluh Haya mulai bercucur air mata.


" Aku juga mau kamu jujur Haya!"


" Dimana Raniyah? Kamu tidak pernah menjawab pertanyaan aku yang ini!"


" Untuk apa aku menjawabnya? Kamu mau mencarinya lalu menceraikan aku dan menikahinya?Begitu!" Cerocos Haya.


" Bisakah kamu berhenti berpikir aku masih mengejar adikmu! Aku bertanya untuk kebaikan temanku!" Ucap Daiyan.


" Alesan!" Ucap Haya langsung berlalu dan membanting pintu kamar.


*****


Ibu Ansori termenung menatap foto keluarga, fito wisuda kedua puterinya, wajah ceria dan aku tpak dalam potret tersebut, sebutir air matanya menetes, dia menatap potret putri bungsunya, seribu rindu membuncah, sebulan tidak ada kabar dari puteri tercintanya.


Pak Ansori memasuki kamar, dia melihat isterinya yang murung sekali, belum lagi suasana di rumah semakin sepi, tidak ada anak-anaknya, Radit memilih berpisah rumah, dan Fraz sudah memilih tinggal di perumahan dekat restorannya. Haya sudah memiliki rumah sendiri mereka tidak di rumah lagi setelah menikah. Dan Puteri bungsunya sekarang tidak di kota antah berantah.


" Sudah bu, jangan ditangisi terus!" Ucap Pak Ansori.


" Kapan Rani, pulang pak? Rani juga gak ada kabar Pak!" Seru ibu.


Pak Ansori menghela nafasnya, dalam hatinya dia juga mulai gelisah ketika mendengar dari pemilik kontrakan yang dipesankan untuk menitipkan puteri bungsunya. Ternyata Raniyah hanya beberapa hari saja tinggal disana.


" Rani bakal pulang, mungkin sekarang dia masih marah!" Ucap Pak Ansori.


" Ibu pengen ke Banten!"


" Buu.. Banten itu jauh!" Kata Pak Ansor mengelus bahu isterinya.

__ADS_1


*****


Pertemuan dengan Ahsan membuat Raniyah sedikit murung. Dia memasuki kamar kontrakannya dan merebahkan badannya dikasur. Jam dinding menunjukan pukul 17.00 dia segera mendudukan badannya, lalu mandi.


Setelah selesai mandi, dia melihat ponselnya, rupanya Fahrul menelponnya berkali-kali, Raniyah pun langsung menelpon balik.


" Kenapa A?"


" Lagi apa?"


" Baru selesai mandi, lampu kamar mandi aku mati, kayaknya aku mau beli dulu"


" Oke tunggu 15 menit lagi!"


" Kenapa?"


" Tunggu aja!" Kata Fahrul sambil menutup telponnya


Raniyah mengelengkan kepalanya, Fahrul ini memang kadang selalu begitu. Raniyah langsung memakai pakaian tidurnya. Dia melihat beberapa pakaiannya yang dijemur, dia segera mengangkatnya. Sambil melipat pakaiannya, ternyata benar Fahrul mengirimnya pesan.


Fahrul:


Aku didepan kontrakan Ran!


Raniyah langsung memakai jilbabnya dan menurunintangga lalu, membuka gerbang, Fahrul tampak diatas motornya dan dia segera turun lalu menyimpan helmnya.


"Nih!" menyodorkan lampu.


" Kenapa repot repot beliin segala, aku bisa jalan ke supermarket depan!"


" Emang kenapa kalau aku beliin? Aku kan pengen ketemu kamu juga!"


" Hahah jangan lebay deh!"


" Enggak, emang bener aku kangen!" Raniyah mengelengkan kepalanya sambil tertunduk tersipu.


"Ekhem.. Haus nih!" Kode Fahrul membuat Raniyah terkesiap.


" Baiklah tunggu, aku bawakan air!" Kata Raniyah tapi tangannya langsung digengam oleh Fahrul.


" Tidak usah, aku akan beli diluar, aku hanya bercanda." Ucap Fahrul sambil menebarkan senyumannya.


" Emm.. Aku tidak bisa memasangkan lampunya, bisa bantu aku sebentar?" Kata Raniyah sungkan.


" Tentu saja, kau anggap aku apa sih, sini biar aku pasangin!" Kata Fahrul.


Keduanya pun naik ke kamar kontrakan Raniyah. Mereka menuju ke kamar mandi, Raniyah menyentermya dengan senter dan Fahrul memasangkan lampunya.


" Gini aja kita udah kayak pasangan suami isteri ya," membuat wajah Raniyah memerah.


" aku jadi gak sabar pengen nikah, kapan aku bisa ke rumah kamu ya..?" Ucap Fahrul seketika membuat Raniyah terdiam membisu.


# Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2