
Lidah Raniyah terasa kelu, tapi langkah kakinya menuju motor Ahsan yang langsung berhenti depan gerbang. Ada rasa rindu yang membuncah dalam diri Raniyah.
"Ahsan, ka..kamu" Perkataan Raniyah mengantung, wajahnya penuh hari bisa bertemu dengan Ahsan.
"..Sehat, jangan khawatir." Ucap Ahsan menatap ke dalam bola mata Raniyah.
"Aku senang Ahsan, kamu kemana saja selama ini" Kata Raniyah memukul dada Ahsan yang diam terpaku.
"Ada," Pelan sekali jawaban Ahsan sambil mengengam kepalan tangan Raniyah yang terus memukul dadanya hingga terhenti.
"Kamu tidak tahu betapa aku rindu kamu!"Segala unek-unek itu tumpah.
Tapi kebahagiaan yang baru saja diraih Raniyah, harus terhenti ketika mendengar seruan wanita dengan gaya bicara manja dibelakangnya. Ranuyah berbalik, disana Jesika sudah berdiri dengan melipat tangannya didada.
"Ahsan.. Kamu telat ya!" Dengan nada dibuat-buat.
" Maaf," Seketika Raniyah berbalik menengok Ahsan yang masih mengengam tangannya.
" Ya Udah yuk! Nanti keburu tutup tokonya!" Seru Jesika.
Tepat saat itu juga, Ahsan melepaskan tangan Raniyah dan beralih menunggangi sepeda motornya,Jesika dengan senyuman mengejek duduk dibonceng Ahsan.
"Bye bye!" Ucap Jesika melambaikan tangan begitu motor itu pergi dengan Ahsan sama sekali tidak melirik lagi Raniyah.
Motor itu melaju dengan cepat, sementara Raniyah masih berdiri menatap kepergian mereka. Air matanya sudah penuh, dadanya terasa sesak. Tanpa penjelasan, tanpa kata perpisahan Ahsan pergi dengan wanita lain dan mengabaikan.
Aku kecewa Ahsan, Batin Raniyah sambil berurai air matanya.
*****
Pesan masuk: 08****
Saya Daiyan, bagaimana kondisi pak Ahsan?
Raniyah menatap layar ponselnya berkaca-kaca, hanya melihat nama Ahsan saja sudah cukup membuat hatinya sesak. Raniyah memilih mengabaikan pesan itu.
Setelah kejadian didepan gerbang itu, Ahsan tampak biasa saja menjemput Jesika setiap hari ke Sekolah. Akhirnya semua orang di sekolah mengetahui hubungan Ahsan dengan Raniyah sudah retak. Banyak yang merasa iba pada Raniyah, tapi Raniyah berusaha tegar menghadapi kenyataan itu, bahkan dia pura-pura biasa saja dengan pemandangan itu.
__ADS_1
" Ran! Tuh lihatin!" Seru Karin dengan mata mengarah ke sebuah motor beat warna merah yang sedang terparkir dengan seseorang tampak menunggu.
"Kenapa?"
" Kamu gak mau nanya gitu, atau minta penjelasan ke Ahsan?"
" Tidak perlu, semuanya sudah jelas!"
Raniyah berjalan melewati motor Ahsan, tanpa meliriknya sedikit pun, dia melakukannya agar tidak pecah tangisannya. Dia menguatkan diri hanya untuk lewat depan Ahsan. Namun, kini mata Ahsan yang tertuju ke ponselnya beralih menatap sepanjang langkah Raniyah yang berjalan lewat dihadapannya sampai menghilang dibalik gerbang.
"Ran, Ahsan lihatin kamu terus!" Seru Karin yang mengejar langkah cepat Raniyah.
Aku tidak mengerti denganmu Ahsan, kalau itu caramu menyakitiku, lakukan saja.Batin Raniyah sambil diam membisu melambaikan tangannya ke arah angkot yang sedang melaju.
Melihat Raniyah diam saja, Karin pun terdiam rasa tidak enak juga terus membahas Ahsan pada Raniyah, sudah jelas saat ini Raniyah butuh memulihkan hatinya yang terkoyak oleh kelakukan Ahsan, Raniyah sedang belajar kuat, masa dia malah ingin memperkeruh keadaan.
Mata Karin menengok ke arah belakang angkot, tampak disana motor Ahsan mengikuti angkot yang ditumpanginya. Kembali Karin melirik Raniyah yang tampaknya belun sadar kalau angkotnya diikuti oleh Ahsan. Menariknya Ahsan tidak memboncengi Jesika, dia berkendara seorang diri, dengan matanya terus tertuju ke arah Raniyah yang berada didalam angkot.
Tangan Karin sudah gatal ingin menepuk Raniyah agar sedikit menoleh ke kaca belakang angkot, agar dia tahu Ahsan ada disana. Dan mungkin saat ini Ahsan ingin menjelaskan semua yang dia lakukan selama ini.Tapi lagi-lagi Karin rasanya tidak memiliki keberanian, dan diam saja membiarkan takdir menjelaskan kepada keduanya.
*****
"Hm!! Siapa tuh!" Pergok Mia.
"Bukan siapa-siapa!" Sambil memasukanya ke saku baju khaki yang dikenakan oleh Haya yang merupakan kepala sekolah.
"Hayooo!! Ngaku loh!" Todong Mia.
"Udah ah!"
" Ayolah Aya, siapa namanya?"
" Dokter Daiyan!" Jawab Haya dengan ekspresi sedatar mungkin. Padahal dalam hatinya sangat bergemuruh.
" Asyikkk! Dokter Daiyan ! Semoga kamu berjodoh!"
Dalam hati Haya mengaminkan doa sahabatnya, dan wajahnya kini berubah seperti kepiting rebus karena malunya. Mia menyipitkan matanya melihat Haya yang tampak tidak biasa kalau membahas Dokter Daiyan.
__ADS_1
"Jadi dia temen SMA kamu?" Tanya Mia sambil mencondongkan tubuhnya, benar-benar sangat menarik sekali membahasnya, karena Haya tidak pernah terlihat begitu semalu itu kalau nenbahas lelaki. Haya membalas pertanyaan Mia dengab sebuah anggukan.
"... Hubungan kalian sudah sejauh mana?"
" Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya, sesekali aku mengirimkan pesan bertanya soal kesehatan."
"Kalian belum membahas soal hati? Kalian belum saling mengungkapkan perasaan?" Haya mengelengkan kepalanya.
"Terus... Kamu lihat dia suka kamu enggak?"
"Enggak tau Mia, aku bukan paranormal!"
"Hey, Haya aku hanya tidak mau cinta kalian bertepuk sebelah tangan."
"Mia aku gak mungkin dong bahas soal cinta ke dia! Gengsi aku!"
"Gengsi digedein! " Ketus Mia.
****
Langkah kaki Raniyah lesu, dia berjalan menyusuri jalanan setapak menuju rumahnya. Pemandangan pesawahan yang membentang luas dengan sungai kecil di bahu jalan. Gunung hijau menjulang tinggi menambah keelokan alam.
Headset menancap ditelinga Raniyah, sebuah lagu sedang mengiringi langkah kakinya, tanpa dia sadari Ahsan berjalan dibelakangnya dengan langkah seirama dengannya. Musik ditelinga Raniyah cukup membuatnya membuatnya hanyut dalam lamunan.
"Raniyah!" Suara itu keluar dari mulut Ahsan yang berada dibelakangnya.
Sejenak Raniyah terhenti, dia berpikir mungkin karena pikirannya sedang memikirkan Ahsan, sampai-sampai merasakan Ahsan memanggilnya. Raniyah mengacuhkan panggilan itu. Dia terus berjalan sampai ke rumahnya, sementara Ahsan mengikutinya sampai pagar kayu dan melihat Raniyah menuju rumahnya.
"Assalamualaikum bu," Kata Raniyah yang melihat ibunya baru keluar dan langsung menyalaminya.
"Waalaikumsalam, dianterin Ahsan!" Seru ibunya membuat Raniyah berkerut dahi.
"Enggak"
" Masa iya itu Ahsan!" Seru Ibunya.
Sontak Raniyah berbalik, benar saja Ahsan sudah berlalu, matanya langsung membulat penuh, rasa sekarang pikirannya semakin kacau. Pandangan Raniyah tertuju ke arah punggung yang semakin menghilang dibelokan.
__ADS_1
"Ahsan apa mau mu!" Batin Raniyah
#Bersambung...