Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Teman Lama


__ADS_3

Raniyah menatap pantulan dirinya yang baru selesai mandi setelah lari pagi. Tidak disangka hari pertama di rumahnya dia akan bertemu lagi dengan Ahsan. Tapi kali ini, ada perasaan menyesal dan bersalah dalam dirinya bergelanyutan.


Apa selama ini aku mengambil keputusan yang salah? Batin Raniyah.


Pikirannya kembali ke percakapan saat diatas jembatan itu.


"Datanglah ke pernikahanku Ran" ucap Ahsan.


"Sepertinya tidak bisa San, maaf."


"Kenapa?"


"Aku akan segera kembali ke kerja!"


Raniyah menghela nafasnya, mengeluarkan beban berat dipikirannya. Suara ibu memanggilnya untuk makan, membuatnya segera bergegas dan tidak lama-lama merutuki dirinya.


Ibu sudah menyiapkan sayur Asem, ikan asin goreng, sambal dan lalapan. Makanan sederhana tetapi Raniyah sangat menyukainya, dia menyantapnya dengan semangat. Haya duduk diam dengan khyusuk menyantap makanannya. Saat ini dirumah tinggal empat orang. Fraz dan Radit mereka jelas pulang ke rumahnya masing-masing kemarin karena sudah berkeluarga.


"Aku ingin pindah kesini!" Celetuk Raniyah menatap ke arah Haya yang tertunduk.


Ibu dan Pak Ansori tampak memperlambat kunyahannya dan saling berpandangan. Raniyah pun menatap kedua orang tuanya yang tampak tidak memberikan respon.


"Apa kamu ingin pindah karena tahu aku akan cerai dengan suamiku?" Ucap Haya sinis.


"Apa maksud kak Haya? Aku bekerja disini dari dulu, dan aku marah kakak mengatur-atur kerjaanku!" Kini Raniyah tidak dapat menahan emosinya.


"Bisakah kamu tidak membuka obrolan pagi dengan hal yang memuakkan!" Kini Haya bangkit dari duduknya dengan membanting sendok.


Setelah kepergian Haya ke dalam kamarnya, sarapan dilanjutkan dengan keheningan, Pak Ansori beberapa kali berdehem seperti ada yang hendak disampaikan.


"Ran,"


"Iya pak?"


"Kau masih ingat si Teguh?"

__ADS_1


"Oh iya pak, temen Ran waktu SMA, kenapa?"


"Teguh sekarang guru Sd disini, kemarin bapak ketemu dia di mushola, dia nanyain kamu. bapak bilang kamu ada disini!" Jelas Pak Ansor.


"Oh begitu."


"Dia pengen ketemu kamu katanya,"


"Ya nanti Ran jalan-jalan ke SD."


Setelah percakapan itu, tidak ada yang Raniyah pikirkan lagi. Obrolan tentang Teguh hanya bumbu percakapan sarapan pagi dimata Raniyah, tidak ada yang istimewa, atau mungkin karena Raniyah tida peka atau terlalu sakit hati.


Seharian Raniyah menghabiskan waktu ke kebun bareng ibunya, dia mengali ubi-ubi dan memetik cabe, tomat dan daun singkong. Pak Ansor dia menangkap ikan dia empang dekat kebun. Saat menjelang magrib barulah mereka bertiga pulang dari kebun. Pak Ansor pulang membawa ikan dan buah nangka. Sementara ibu membawa sayuran, Raniyah tersenyum, setidak kegiatan hari ini dia dapat menikmatinya dengan tidak banyak memikirkan tentang kekasih yang telah menikah dengan orang lain.


Menjelang malam hari, seperti biasa mereka makan malam dengan hasil kebun, Bu Ansor menyajikan goreng ikan, sup kacang panjang, tempe goreng, sambel dan lalapan terong dan daun singkong rebus.


Makan malam juga begitu khidmat, perang antara Haya dan Raniyah belum usai, tampaknya mereka sedang perang dingin. Selesai makan malam, Raniyah dan Haya masuk ke kamarnya masing-masing tinggal ibu dan Pak Ansor yang memilih menonton acara di televisi.


Sekitar pukul 04.00 pagi, Raniyah sudah terbangun, akhir-akhir jiwanya sedang tidak tenang, jadi dia bangun lebih pagi, selesai sembahyang Raniyah bersiap olahraga pagi. Setelah pakaian olahraga sudah melekat ditubuhnya.


Beberapa orang tampak berolahraga, Raniyah menikmati olahraganya. Tanpa disadarinya seseorang dirumah makan pinggir jalan raya terus memperhatikannya.


"San, lo masih suka?" Senggol Hasyim sambil mengikuti ekor mata Ahsan yang terus mengikuti pergerakan Raniyah.


"Melihatnya tampak tidak baik-baik saja, aku gak tega!"


"Inget, Lo udah mau nikah! Lo inget juga dia nolak lo pas di Banten! Udah lo jangan peduliin dia lagi!"


"Gue peduli sama dia!"


" Ah, kampret Lo!"


"Lelaki yang mengaku Raniyah bahagia denganya, tega dia membuatnya terluka!" Ucap Ahsan.


"Terus lo nyesel sekarang?"

__ADS_1


"Gak tau gue!" Dengus Ahsan sambil menatap layar ponselnya karena calon isterinya menelpon.


****


Raniyah masih berlari kencang, dia memutar arah larinya menuju sekolah dasar, dia teringat ucapan ayahnya tentang Teguh, teman sewaktu SMA nya. Raniyah berlari ke sekolah itu, karena hari libur jelas sekolah tidak ramai. Ada beberapa orang hilir mudik tampaknya sedang melakukan daftar ulang. Raniyah menyekat keringatnya yang bercucuran dari dahi. Dia berdiri di sisi jalan menatap ke arah sekolah yang posisinya dibawah jalan, tampak seorang lelaki tengah melayani pendaftaran. Senyuman tersunging dibibir lelaki itu.


Baru hendak pergi setelah menyaksikan beberapa saat, seseorang menghentikan langkah kakinya, Raniyah menoleh, rupanya Teguh berjalan ke arahnya, entah kapan Teguh menyadari kehadirannya.


"Ran, lama gak ketemu!" Sapa teman lama yang sudah tidak pernah bertemu.


"Emm.. Iya Teguh. Aku dengar kamu jadi guru disini!"


" hmm rupanya gosip cepat menyebar!" Canda Teguh menebarkan senyumannya disambut senyuman pula oleh Raniyah.


"Kenapa memutuskan kerja disini?"


"Mungkin karena aku rindu kamu Ran," Candanya menimbulkan gelak tawa Raniyah


"Baiklah kamu memang pandai merayu wanita dari dulu!"


" Eh tapi jangan salah, pandai merayu pun sampai saat ini aku belum menikah Ran!"


" What lelaki setampan kamu belum menikah!!" Kata Raniyah membuat panik Teguh karena Raniyah bicara setengah teriak.


" Kamu bicara kayak lagi ngasih pengumuman, menyebalkan!" Kata Teguh menutup mulut Raniyah dengan tangannya.


" Hey, singkirkan tanganmu!" Kata Raniyah membuat Teguh cengegesan.


" Kalau gak mau ditutup pake tangan, aku tutup pake mulut mau?" Goda Teguh sambil mengendipkan sebelah matanya membuat Raniyah mengelengkan kepalanya.


" Kamu masih mesum juga!" Membuat Teguh tertawa lebar.


Percakapan antara Raniyah dan Teguh terus berlanjut layaknya orang yang begitu akrab. Mereka mengenang masa lalu selama SMA.


#Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2