
Daiyan memakirkan mobilnya didepan pekarangan rumah, Haya mengendong Salsa. Begitu mobil berhenti. Daiyan keluar dari mobil, Raniyah yang duduk didepan memgira Daiyan akan membukakan pintu untuknya tapi salah, Daiyan justru membuka pintu belakang untuk Haya.
Kesal bukan main, tapi segera Raniyah pendam kekesalannya dia membuka kunci rumah dan memasuki rumahnya. Haya mengendong Salsa dan masuk ke kamar tidur Salsa. Dia memperhatikan sekeliling yang tampaknya dia dapat membaca kalau Raniyah dan Daiyan tidak pernah tidur sekamar. Senyuman kemenangan terukir di bibirnya.
Dia melangkah gontai dan menidurkan Salsa di box tempat tidur bayi, dia mengelus wajah mungil puteri semata wayangnya. Kecantikan dirinya tampak turun ke puterinya.
"Aku tidur dimana?" Tanya Haya melirik ke arah Raniyah dan Daiyan yang berdiri bersebelahan.
"Em.." Raniyah melirik ke arah Daiyan.
"Disini." Jawab Daiyan.
"Lalu aku?" Raniyah protes.
"Dikamar aku."
Mata Haya membulat penuh dan Raniyah juga tidak kalah terkejutnya.
"Kenapa begitu, aku bisa tidur ditempat lain." Ucap Haya tergagap.
"Salsa membutuhkanmu saat ini, jadi kamu harus berada didekatnya."
"Lalu kenapa.kamu sekamar dengan Rani?" Ucap Haya tampak tidak setuju.
"Dia isteriku apa yang salah? Mungkin kita bisa melakukan malam pertama yang tertunda bukan?" Ucap Daiyan sambil melirik Raniyah yang wajahnya sudah bersemu merah.
Haya tampak kesal dengan ucapan Daiyan, dia memutar bola matanya, sementara Raniyah menunduk.
__ADS_1
"Cepet ke kamarku, dan ganti dulu bajumu kotor!" Seru Daiyan meninggalkan kamar tersebut.
Raniyah segera masuk ke kamar mandi menganti bajunya, dia pun menjelaskan peralatan Salsa pada Haya yang terlihat engan mendengarkannya. Setelah selesai Raniyah pun keluar kamarnya dan berdiri depan kamar Daiyan. Jantungnya berdebar kencang, selama hampir tiga bulan tidak pernah tidur bersama. Rasanya akan sangat canggung. Raniyah pun mengetuk pintu kamar Daiyan sekali ketukan dan langsung dibukakan oleh Daiyan.
"Masuk!" Ucap Daiyan lalu berlalu.
Pintu kamar ditutupnya, dia melihat Daiyan duduk dipinggiran kasur dengan celana selutut. Bulu-bulu kakinya terlihat jelas dengan kulit putih yang kontras.
"Gak pake baju kemarin lagi?" Ucapnya sambil memainkan ponselnya tanpa menoleh ke arah Raniyah.
"Ba..baju ke..marin?" Raniyah tergagap jantungnya berdebar dia duduk ditepi ranjang juga.
"Kemarin kamu sangat berani mengodaku, kenapa sekarang jadi ketakutan begini? Kemana keberanian kamu yang kemarin?" Ucap Daiyan sambil menoleh ke arah Raniyah.
"Ekhem.. Aku ngantuk kak." Kata Raniyah langsung merebahkan tubuhnya, dia menghindari percakapan dengan Daiyan.
"Lelaki yang pernah menikah, sulit untuk menahan hasratnya!" Ucap Daiyan sambil menoleh dan melihat wajah Raniyah memerah.
Mata Raniyah dialihkan menatap langit-langit, lalu merubah posisinya membelakangi Daiyan. Senyuman terukir dibibir Daiyan melihat reaksi Raniyah yang salah tingkah.
"Semoga kamu selamat malam ini!" Ucap Daiyan.
Raniyah membelalakan matanya mendengar ucapan Daiyan. Setelah ucapan tersebut tidak terdengar lagi suara Daiyan. Raniyah memberanikan diri membalikan badan, namun kaget bukan main dia berpapasan dengan wajah Daiyan disana.
"Kamu kira aku sudah tidur?" Sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kak gak ngantuk?" Ucap Raniyah.
__ADS_1
"Apa kamu mengantuk?" Daiyan balas bertanya balik.
"Aku ngantuk, tapi aku gak bisa tidur karena ada kakak." Jawab Raniyah jujur.
"Kenapa? Takut?"
"Bukan, aku gak pernah tidur sebelahan sama cowok."
"Kamu harus membiasakannya, karena aku suamimu!" Ucap Daiyan.
"Ta...pi aku tetep belum biasa."
Mendengar demikian, Daiyan menarik kepala Raniyah ke dadanya dan menepuk punggung Raniyah dengan pelan, bukan tenang tapi jantung Raniyah semakin berdebar kencang. Tangan Daiyan bergerak mengelus kepala isterinya. Inilah posisi yang tidak pernah mereka lakukan.
"Tidurlah" Ucap Daiyan lembut.
Raniyah bukannya tidur malah memainkan jemarinya diatas dada Daiyan, dia tidak sadar tindakan itu sangat berbahaya dilakukan karena akan membangkitkan birahi yang tertidur. Namun, Daiyan mencoba menahannya, tapi dalam hatinya mengutuk Raniyah yang mengodanya.
"Aku pernah mendaki gunung waktu jadi mahasiswa. Itu pengalaman pertamaku dan juga pengalaman yang menyakitkan." Ucap Daiyan membuat Raniyah mendongkakkan kepalanya.
"Ada apa kak, kenapa begitu?"
"Aku kehilangan temanku, dia tersesat dan besoknya ditemukan dia sudah meninggal."
"Innalillahi wa innailahi rojiun." Ucap Raniyah.
Mulailah keduanya bercerita tentang pengalaman hidup mereka dimasa lalu, dari yang menyenangkan sampai yang menyedihkan, hingga tidak terasa waktu sudah larut dan keduanya terlelap tanpa sadar. Raniyah tidak terganggu sama sekali dengan dengkuran Daiyan, dia memeluk tubuh suaminya.
__ADS_1
#Bersambung...