
Sepeninggalan Daiyan, Raniyah masih termenung mengingat kejadian sebelumnya, terasa manis dan indah hingga membuatnya beberapa kali berdesir mengingat setiap inci potongan episode kebersamaan dengan Daiyan.
"Astagfirullahazim" ucap Raniyah sadar langsung tersenyum dan menepuk jidatnya, dia segera beringsut mengingat dia tadi kedatangan ibu mertuanya.
Kakinya segera melangkah mendekati lemari dan bercermin, kilatan adegan panas itu kembali muncur saat dirinya membenahi pakaiannya, belum lagi ucapan Daiyan kembali membuatnya panas dingin.
" Ya Allah, Astagfirullah." Lagi- lagi Raniyah istigfar, dia segera keluar kamar menemui ibu mertua dan suaminya yang ada diruang tamu.
Terlihat tatapan Ibu Mertua dan Daiyan tertuju ke arah Raniyah saat dirinya muncul menuruti tangga, jelas ini membuat Raniyah tidak nyaman dan salah tingkah. Namun, disisi lain dia melihat ada Haya yang mengendong Salsa duduk bersebelahan dengan Daiyan, membuat Raniyah merasa kesal dalam hatinya, dia tidak bisa menapikan rasa itu, dia cemburu.
" Duduklah, jangan berdiri saja Raniyah." Ucap Ibu Mertuanya yang mendapati Raniyah mematung saat sudah sampai di ruang tamu.
" Iya bu," Ucap Raniyah melirik sekilas ke arah Daiyan lalu memilih kursi lain yang kosong dan duduk disana.
Hening beberapa saat, keadaan tampak canggung, namun terlihat Haya mengejek Raniyah dengan ekspresi wajahnya, yang menyiratkan bahwa dirinyalah pemenang hati Daiyan.
" Ekhem, maaf tadi ibu tidak sengaja masuk ke kamar kalian, karena dibuka pintunya jadi ibu langsung masuk saja." Tutur Ibunya Daiyan.
Seketika wajah Daiyan dan Raniyah langsung memerah mendengar perkataan itu, karena mengingatkan kembali adegan beberapa menit yang lalu.
" Iya, maaf juga Daiyan tidak menutup pintu."
"Ya sudahlah tidak apa lupakan saja, anggap saja tadi ibu tidak melihat apapun." Sambil mengulum senyumam.
Melihat percakapan dan ekspresi ibunya Daiyan, Haya tampak curiga dan wajahnya merah padam. " Apa yang sudah mereka lakukan dibelakangku?" Apa mereka bermesraan!" Batin Haya mulai memanas membayangkan keduanya melakukan hubungan suami isteri.
" Ah iya kenapa ibu datang kesini tanpa mengabariku dulu, ada apa bu?" Tanya Daiyan mulai mengalihkan pembicaraan.
" Oh itu, ibu kangen sama cucu ibu. Sini Salsa, nenek gendong ya" Ucap Ibunya Daiyan membuat Haya tersenyum dan memberikan Salsa.
__ADS_1
Sementara dirinya semakin mendekatkan diri ke Daiyan yang duduk disebelahnya. Haya sengaja melakukannya untuk memanas-manasi Raniyah yang berada disebrang. Tapi tampak Raniyah hanya tertunduk menatap lantai tidak ingin melibat suaminya.
" Oh iya Ran, kamu bisa besok lusa bantu mama buat acara syukuran."
" Syukuran? " Raniyah beralih menatap mertuanya.
" Iya, adiknya Daiyan besok pulang dari Rusia. Dia udah wisuda. Jadi ya kita syukuranlah ngundang tetangga dekat saja. Bantu ibu ya."
" Iya, bu Rani bisa."
" Saya juga bisa bu!" Serobot Haya tidak mau kalah.
" Loh, Haya memang kamu tidak sibuk dengan kerjaan di sekolah, ibu tidak mau menganggu pekerjaanmu disana."
" Tidak kok bu, aku bisa datang."
Setelah puas Ibunya Daiyan berbincang-bincang dan bermain dengan Salsa, dia segera berpamitan. Raniyah Haya dan Daiyan mengantarkannya sampai depan pintu.
Sebelum pergi ibunya Daiyan, tampak berbincang sebentar dekat mobil dengan Daiyan.
" Daiyan, kamu tidak lihat Haya masih menyukaimu!"
" Aku tau bu."
" Kamu sudah punya Raniyah, rumah tanggamu tidak akan baik-baik saja jika kamu masih seatap dengan mantan isteri kamu."
"Daiyan sudah berniat membiarkan Haya pulang, tapi dia tampaknya sulit bu."
" Semua keputusan ada dikamu Daiyan. Hanya saja jangan menghancurkan pernikahan kamu lagi."
__ADS_1
" Aku tidak akan melakukannya."
" Bagus, bangun rumah tanggamu dengan baik! Jadilah suami yang lembut tapi tegas bahagiakan isteri kamu. ibu tunggu cucu kedua." Bisik ibunya membuat Daiyan tersipu.
" Lagi usaha bu, makanya jangan diganggu kayak tadi." Ucap Daiyan membuat ibunya menjewer telinganya. Daiyan pun mengaduh kesakitan sambil tersenyum, begitu pun ibunya.
Sambil menyaksikan adegan ibu dan anak disana, Raniyah berbicara dengan kakaknya.
"Berkemaslah besok kak, aku akan menjaga Salsa disini, disini juga ada baby sitter. Kalau tidak percaya aku, kakak bisa mengurusnya sendiri, aku sudah membicarakan ini dengan kak Daiyan."
Tidak ada tanggapan dari Haya, dia memutar bola matanya dan meninggalan Raniyah.
*****
Malam sudah menunjukan pukul 9.00. Daiyan tampak masih sibuk diruang kerjanya, Raniyah memasuki kamar tidur mereka berdua. Dia beringsut naik ke kasur dan menyelimuti tubuhnya dan tidur menyamping.
Baru saja dia menutup kelopak matanya, terasa pelukan hangat dari belakang, tangan kekar itu memeluknya dan mengelus perutnya dengan lembut, kelopak mata Raniyah terbuka lebar, apalai terasa lehernya dikecup.
" Udah ngantuk?" Suara lembut dekat telinganya.
"Belum," Ucap Raniyah, membuat Daiyan memutar tubuh Raniyah menghadapnya.
"Besok masuk kerja jam berapa?"
" Biasa aku berangkat pagi. Kenapa kak? mau aku buatkan sarapan?"
" Boleh, kalau kamu sempet, kalau kita gak bergadang."..
Bersambung..
__ADS_1