Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Penundaan


__ADS_3

Pertemuan dua keluarga kembali terjadi, Haya tidak berani keluar kamar dia hanya mendengar didalam kamar, orang tua Daiyan disana sedang mendengarkan perkataan dari Pak Ansor yang menyatakan penundaan pernikahan Daiyan dengan Haya.


Pada hari itu, Daiyan juga hadir disana, wajah Daiyan tampak tenang mendengar berita tersebut, tidak seterkejut orang tuanya, tapi kemudian orang tuanya bisa memahami keputusan tersebut.


Raniyah baru pulang sekolah diantarkan oleh Kak Radit, Namun kak Radit langsung berangkat lagi ke tokonya menemani isterinya disana. Raniyah masuk dan tampak terkejut karena sedang ada pertemuan.


Raniyah menganggukkan pelan kepalanya sambil tersenyum, dan mencium tangan kedua orang tuanya dan tamu, kecuali Daiyan, Raniyah memberikan salam dengan kedua tangan di dada. Lalu pamit masuk ke dalam kamar, dia tidak mau ikut campur. Daiyan masih saja memperhatikan gerak-gerik Raniyah sampai masuk ke dalam kamarnya.


Terdengar di ruang tengah suara pamitan kedua orang tua Daiyan, Raniyah baru bisa keluar kamar, sementara Haya masih mengurung diri. Sekali lagi Daiyan melirik ke arah Raniyah.


"Rani! Panggil kakakmu Haya!" Seru ibunya, membuat Raniyah masuk ke kamar Haya dan mengajaknya keluar.


Setelah keluar, Haya tampak sembab. Dia tidak berani menatap Daiyan yang berada dihadapannya.


"Haya kita hanya menunda saja!" Ucap Daiyan dengan mata justru menatap Raniyah.


Perkataan Daiyan membuatnya teringat akan kejadian dulu dengan Ahsan. Semuanya terasa sama percis. Tatapan Daiyan padanya seolah membangkitkan kembali moment waktu itu.


"Setahun itu lama Daiyan!" Ucap Haya akhirnya buka suara.


"Kenapa harus takut, sesuatu sudah berada dalam gengamanNya Haya. Kita serahkan segala urusan kita kepada Allah!" Kata Daiyan.


Setelah menyelesaikan kalimat tersebut, Daiyan berpamitan. Tidak ada yang berubah dari raut wajah Daiyan, dia sama sekali tidak terlihat sedih dengan keputusan yang ada. Hal itu yang membuat Haya dan Raniyah juga bingung.


******


Malam harinya, sorenya Mela dibawa ke rumah oleh Fraz, ibu dan pak Ansori menyambutnya dengan senang hati. Mereka banyak mengobrol tentang persiapan pernikahaan.


Setelah Mela pulang, barulah Haya dengan wajah sinis menatap nanar ke arah Fraz kakak sulungnya.


"Haya!" Kak Fraz begitu senang melihat Haya akhirnya keluar kamar.


"Ooh jadi itu ceweknya!" Kata Haya.


"Iya, Mela." Kata Fraz dengan senyuman merkah.


"Pas lagi butuh aja dateng ya!" Ledek Haya.


" Haya" Lirih Kak Fraz.


"Kak Fraz gak inget gimana nyakitinnya dia! Dan kakak sekarang masih mau nikahin cewek kayak gitu!Aku gak habis pikir!" Ucap Haya dengan nada tinggi.


"Hayaa!!! Kamu yang sopan ke kakakmu!" Tegur Pak Ansori yang datang dari ruang keluarga.


" Haya kesal dengan adat ini Pak!" Kata Haya meluncur begitu saja.


"Kamu ini! Jangan membangkang!" Bentak Pak Ansori.


" Sudah pak, Haya lagi kesal wajarlah!" Kata Fraz.


Haya langsung melangkah masuk kembali ke kamarnya, sementara semua orang terdiam diruang tengah.Kak Radit yang baru pulang tampak kebingungan karena orang rumah tampak sedang tidak baik-baik saja.


" Ran, ada apa?" Bisiknya ke Raniyah.


"Kak Haya marah!" Jawab Raniyah singkat.


"Kenapa marah?"


" Ya masih masalah kemarin."


" Ooh sudah kuduga!"


Kak Radit tampak tersenyum lebar, dia segera pergi ke kamar mandi hendak mandi karena merasa bau keringat setelah seharian kerja. Raniyah juga kembali ke kamarnya, pesan masuk lewat handphonenya.


Pak Dokter (Daiyan):

__ADS_1


Besok kita bertemu!


Raniyah menghela nafasnya, Raniyah tidak membalas pesan teraebut, memilih membuka laptopnya dan membuka beberapa tugasnya yang belum selesai. Lagi-lagi ponselnya berbunyi. Raniyah meliriknya Daiyan menelponnya.


"Assalamualaikum!" Angkat Raniyah.


"Waalaikumsalam, besok ketemu di taman!"


"Buat apa?"


"Aku ingin bicara denganmu!"


"Aku sibuk!"


Raniyah langsung mematikan panggilan, dia benar-benar tidak mau berhubungan dengan calon kakak iparnya itu. Lalu memilih tidur, dia merasa lelah juga seharian kerja dan juga di rumah sedang ada masalah.


Esok harinya, Daiyan yang keras kepala rupanya sudah menunggunya di depan gerbang sekolah, Raniyah membulatkan matanya, dan Daiyan juga menahan tangan Raniyah yang hendak mengabaikan kehadirannya.


"Kenapa kak?" Tanya Raniyah merasa risih.


"Kita perlu bicara!"


"Kenapa kakak tidak langsung bicara dengan kak Haya saja?"


" Aku hanya ingin bicara denganmu!" Kata Daiyan.


"Yah, nantilah!" Kata Raniyah sambil melepaskan tangan Daiyan dilengannya.


Raniyah langsung berlari masuk ke dalam sekolah, dia tidak mau ada gosip baru muncul disekolahnya. Setelah itu, Raniyah mengintip keluar melihat Daiyan yang tampak pergi dengan membawa mobil putihnya.


"Sedang apa bu!" Kata seseorang yang memergoku Raniyah tengah mengintip.


Sontak Raniyah berbalik dengan canggung dan malu, Pak Vikram tersenyum melihat tingkah konyil Raniyah. Raniyah menjadi salah tingkah.


"Ah bukan apa-apa Pak." Kata Raniyah langsung berlalu.


*****


" Jadi ada apa?" Tanya Raniyah tidak sabar.


" Apa kamu benar-benar tidak bisa balikan dengan Ahsan?" Tanya Daiyan sambil menyimpan cangkirnya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Raniyah.


"Ahsan sangat mencintaimu!" Kata Daiyan.


Raniyah menghela nafasnya berat, Daiyan menatapnya tajam, entah apa yang sedang diperhatikannya dari Raniyah, tapi semua yang ada pada Raniyah sangat menarik perhatiannya.


" Kenapa kamu ingin membahas hal ini Pak Dokter Daiyan? Apa kamu psikiater? Atau anda mak comblang?" cerocos Raniyah.


" Terserah apa menurutmu!" Jawab Daiyan singat sambil tersenyum.


"Aku benar-benar tidak mengerti denganmu! Dan ada satu hal yang tidak aku pahami, kenapa kamu tampak tenang saat penundaan pernikahan dengan kakakku?" Tanya Raniyah sambil memberikan tatapan tajam.


Daiyan tersenyum lalu menyenderkan punggungnya dikursi, dia mengatur nafasnya dengan tenang, lalu menyilangkan tangannya didada dan menatap lekat Raniyah.


"Kenapa kau juga selalu menatapku begitu?" Tanya Raniyah merasa tak nyaman.


"Aku suka!" Jawab Daiyan.


"Baiklah lakukan saja yang pak dokter sukai, jadi tolong jawab pertanyaanku, anda tidak berniat mempermainkan kakakku kan? Kau tahu kakaku sangat menyukai anda, anda adalah cinta pertamanya!"Jelas Raniyah yang dibalas senyuman menawan Daiyan.


"....Berhentilah kau terus tersenyum, jawab pertanyaanku!"


"... Eh tunggu bukannya kau yang mengajak bertemu dan ingin bicara denganku tapi kenapa seolah aku yang memiliki hal penting denganmu, dan kau sedari tadi diam saja! Aku sangat sibuk tau!" Kata Raniyah.

__ADS_1


"Kau terus bicara, apa kau canggung denganku?" tanya Daiyan sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Raniyah.


Seketika rasanya Raniyah tidak bisa bernafas, karena wajah Daiyan sangat dekat, sementara Daiyan menatap kedua bola mata Raniyah bergantian.


" Apa kau mengosok gigimu?" Tanya Daiyan membuat Raniyah salah tingkah sekaligus kesal.


" Apa maksudmu? Aku mana sempat gosok gigi, aku bahkan belum mandi kau tahu! Aku langsung kemari dari sekolah karena berjanji denganmu!" Bela Raniyah.


" Harusnya kau sering gosok gigi, karena kau sangat bawel! Nanti orang-orang tidak nyaman denganmu!" Kata Daiyan sambil kembali duduk santai.


Semua kekesalan dan malu semakin memuncak dikepala Raniyah. Tanpa aba-aba Raniyah bangkit dari duduknya hendak pergi, sontak Daiyan tercengkat.


"Mau kemana?"


"Pulang, mandi gosok gigi! Kamu gak nyaman kan dengan aku yang bau!" Kesal Raniyah.


Daiyan mengulum senyumannya, dia menyuruh Raniyah duduk kembali.


"Aku hanya bercanda!"


"Tapi itu tidak lucu!"


"Matamu sangat indah!" Kata Daiyan tanpa ekspresi membuat Raniyah berkedip-kedip tidak mengerti.


"Ha ..Ha Ha.." Raniyah tertawa canggung, rasa aneh mendengar pujian yang dilontarkan oleh Daiyan.


"Aku tidak menyuruhmu tertawa!" Kata Daiyan dingin.


"Ekhem .. Oke, jadi apa yang akan kita bicarakan?"


"Kenapa kamu tidak ingin kembali dengan Ahsan?"


"Ahsan sudah tunangan!" Kata Raniyah padahal dia tahu Ahsan sudah membatalkan tunangan dengan Jesika.


"Dia sudah membatalkannya!"


"Oh, begitu ya."


"Apa kamu benar-benar tidak bisa menerima Ahsan lagi?"


Raniyah terdiam menatap cangkir yang dipegangnya, pikirannya masih bimbang dengan keputusan yang akan diambil, bahkan saat ini rasanya luka kemarin masih mengangga, dan tidak mudah mengobatinya dengan membiarkannya kembali ke sisinya.


"Aku tidak bisa sebaik kak Fraz yang dengan mudah menerima seseorang yang menyakiti kembali lagi!" Tutur Raniyah.


"Kalian bisa mulai dari awal lagi," Kata Daiyan.


"Aku tidak tahu."


"Tapi aku juga tidak akan memaksa, apa mungkin kamu menyukai seseorang?" Tanya Daiyan.


"Aku juga tidak tahu."


"Baiklah, ini sudah sore, kamu bisa pulang."


"Jadi hanya ingin mengobrol itu saja?" Tanya Raniyah.


"Emm!" Jawab Daiyan sambil mengangguk pelan.


"Apa kak Daiyan tidak akan meninggalkan kak Haya?"


"Kenapa?"


"Aku takut kak Haya bernasib sepertiku!" Kata Raniyah.


"Jika sesuatu tidak akan menjadi miliku, sampai kapan pun aku tidak akan memilikinya. Kamu tahu aku sudah berniat melamarmu, tapi orangtuaku melamar Haya! tapi kemudian aku juga tidak bisa menikahinya. Mungkin saja ini cara Allah mengembalikan rencanaku! Aku punya kesempatan lagi untuk melamarmu bukan?" Kata Daiyan dengan cukup panjang lebar.

__ADS_1


Raniyah terdiam, dia mencoba mencerna semua perkataan Daiyan, dia takut Daiyan mengerjainya seperti waktu itu, dia takut Daiyan sedang mempermainkan perasaannya. Raniyah mencoba tidak terbawa suasana dan baper.


#Bersambung...


__ADS_2