Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Bentuk Perhatian?


__ADS_3

Melihat Raniyah langsung terdiam, kepala sekolah itu tergelak tawanya sambil mengelengkan kepalanya dan menepuk pahanya dengan satu tangan.


"Bu Rani serius sekali, saya bercanda bu! Maaf ya memang saya suka bercanda, mana mungkin saya berniat begitu sama isteri orang." Ucap Kepala Sekolah Ryan tersenyum.


Perasaan Raniyah menjadi lega karena tadi hampir saja dia merasa ucapan kepala sekolahnya yang terlalu sensitif.


"Oh Iya pak." Ucap Raniyah tersenyum lega.


"Nah gitu dong bu, santai saja sama saya. Ibu udah lama menikah?"


Pertanyaan itu membuatnya terdiam, mana mungjin dia bilang baru sebulan dengan kondisi sudah memiliki anak, kemudian dia menjelaskan perihal anak juga, rasanya terlalu pribadi jika dibicarakan dengan seorang atasan kerja. Sejenak Raniyah memilah dan memilih kata yang tepat menjawab pertanyaan yang menjebak.


"Baru pak, saya menikah dengan seorang lelaki yang sudah memiliki anak." Tutur Raniyah agar kepala sekolah tersebut tidak banyak bertanya.


"Ooooh jadi tipe bu Rani suka duda juga ya.Pantas saja saya juga gak percaya kalau bu Rani sudah melahirkan, wajah masih imut kayak anak SMA begini" Canda kepala sekolah, Raniyah hanya menimpalinya dengan senyuman.


"... Ah Bu Rani, ibu harus belajar dari rumah tangga saya, saya bicara begini takut ada yang sama seperti saya nasibnya." Ucap Kepala sekolah itu membuat Raniyah mulai mendengarkannya dengan seksama.


".. Sebagai seorang isteri memang tidak ada salahnya punya pekerjaan tapi jangan lupa juga dengan tanggungjawabnya, jangan mentang-mentang punya gaji suami gak diurus, gaji lebih besar dari suami, jadi gak nurut. Rumah tangga itu harus saling merangkul, membangun kehidupan bersama-sama, saling menutupi kekurangan."


"Iya pak, insya allah saya akan berusaha tidak mengabaikan tanggungjawab saya sebagai isteri."


"Iya bu.. sekarang ibu bisa bicara begitu, tapi lihat 10 tahun lagi saat ujian melanda. Saya dulu hanya seorang honorer dan isteri saya kerja jualan online, penghasilannya lebih besar dari saya, seminggu bisa dapet pemasukan 4 juta, saya cuma 2 juta sebulan itu pun di dua sekolah." Tutur kepala sekolah mulai menceritakan kehidupan pribadinya.


Kisah yang diceritakan kepala sekolah itu cukup membuat Raniyah tertarik, dia mulai mencondongkan badannya dan membuka lebar-lebar pendengarannya.


"Suatu hari motor saya rusak, motor itu biasa saya pake buat kerja pindah pindah sekolah. Kebetulan gaji dua bulan belum cair, saya ngandelin uang isteri. Saya pulang ke rumah dan bilang ke isteri minta uang 500rb buat benerin motor. Disitulah saya melihat perigai isteri saya, dia bilang kamu jadi suami kok minta duit ke isteri terus sih, kalau gini mah saya mendingan gak punya suami aja, saya juga mampu buat membiayai kehidupan saya tanpa kamu, ada kamu kayanya tambah beban." Pak Riyan tampak terdiam dulu memenggal ceritanya, dia melihat ekspresi si pendengar.


"... Perasaan saya tersinggung disana, isteri saya merendahkan saya. Itulah awalnya saya jadi duda, dan sampai sekarang saya memilih cari isteri yang mau jadi ibu rumah tangga, disini banyak yang ngedeketin tapi saya gak tertarik."


Emm pak Ryan narsis juga Batin Raniyah.


"Kisah bapak ternyata sangat menyentuh saya." Ucap Raniyah.


"Nah ibu sebagai seorang isteri jangan kaya mantan saya ya"


"Iya pak insya allah,"


"Suami kerja apa bu Rani?"


"Dokter spesialis pak di RSUD"


" Wah ini mah atuh cocok ya, pantesan da ini mah duren sawit bu Rani."


"Duren sawit?"


" Iya, Duda keren sarang duit" Gelak tawa Pak Ryan memenuhi ruangan yang dibalas oleh senyuman oleh Raniyah.


Setengah jam sudah berlalu, Raniyah dan Ryan selaku kepala sekolah membicarakan pekerjaan dan perihal kehidupan pribadi. Barulah Raniyah dapat keluar dari ruangan itu. Ketika membuka pintu Raniyah lagi-lagi berpapasan dengan guru piket bernama Tiara itu, gincu merah mentereng dibibirnya, dia menyilangkan tangan di dadanya dengan menampilkan wajah jutek.

__ADS_1


" Lama banget, habis ngapain aja?" Ketusnya saat menyapa Raniyah yang baru keluar.


Raniyah hanya memutar bola matanya, rasanya malas menimpali wanita dihadapannya.


" Bu Tiara kesini!!" Seru Pak Ryan.


Untunglah Ryan memanggil Tiara, sehingga Raniyah bisa lolos dari serangan pertanyaan dari guru piket itu. Tiara yang dipanggil tampak langsung berubah wajahnya jadi ramah dan menerobos masuk ke ruangan sambil menyenggol bahu Raniyah.


****


Pukul 20.00


Raniyah sedang mengendong Salsa yang tampak rewel tidak bisa tidur, Daiyan belum pulang, hujan masih menguyur deras, ditambah petir mengelegar. Raniyah mengendong Salsa di ruang tengah sambil membaca sholawat. Bi Yum dari belakang menghampiri.


"Bu, neng Salsanya rewel terus pengen susu mungkin bu!"


"Iya bi, persediaan ASI dikulkas sudah habis, baru besok kayaknya kak Haya ke sini."


"Waduh gimana bu?"


"Bikinin teh aja coba bi!"


"Ya udah bu saya buatkan teh."


Bi Yum pun langsung bergegas ke dapur, Raniyah kembali bersholawat dan mengayun Salsa yang terus menangis, dia usap kening bayi mungil yang manis itu. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.


Drum drum


"Salsa pasti rewel ya," Ucap Daiyan langsung mengendongnya.


" Iya kak," Raniyah memberikan Salsa dan menutyp pintu.


"Ambil ASInya di tas aku!"


"Oh iya kak, tadi kakak.." Ucapan Raniyah mengantung.


"Aku ke Haya dulu minta ASI buat Salsa, tapi keburu hujan jadi nungguin dulu sebentar, tadi aku sudah makan juga di rumah Haya, kamu sudah makan?" Tanya Daiyan melihat raut wajah Raniyah yang langsung berubah dan terdiam.


"Lain kali langsung pulang kalau sudah dapat ASInya, aku tadi sudah masak buat kakak!" Jelas Raniyah.


"Oh sorry, aku gak tau kamu masak. Nanti kabarin kalau kamu masak!" Ucap Daiyan sambil mengendong Salsa ke kamar.


Raniyah membawakan tas Daiyan dan disimpan di kamar Daiyan, dia menatap tas Daiyan yang didalamnya terdapat kotak bekal. Entah kenapa hatinya menjadi teriris sekali. Raniyah mengeluarkan kotak tersebut yang berisi masakan. Raniyah masuk ke kamar Salsa.


"Ini dari kak Haya juga?" Kata Raniyah sambil menunjukan kotak makan.


"Iya, buat kamu katanya." Kata Daiyan menoleh lalu kembali lagi mengasuh Salsa.


Raniyah memilih membawanya ke dapur dan dia mulai makan malam sendirian, dalam hati dia sangat ingin suaminya menyantap masakannya, tapi rupanya suaminya malah lebih dulu makan di tempat makan mantan isterinya. Selesai makan malam Raniyah kembali ke kamarnya, dia melihat Daiyan menidurkan Salsa. Raniyah beralih ke meja kerjanya dan membuka laptopnya. Daiyan memperhatikan sikap Raniyah.

__ADS_1


"Bagaimana di sekolah baru?" Ucap Daiyan menatap ke arah Raniyah yang berada disampingnya.


"Bagus, mereka baik. Tadi cuma ngobrol sama kepala sekolahnya" Ucap Raniyah.


"Pak Ryan cerita apa saja?" Tanya Daiyan tiba-tiba membuat Raniyah terdiam karena suaminya tahu nama kepala sekolahnya, dia pun menoleh ke arah Daiyan.


"... Dia dulu pernah berobat di rumah sakit, dia juga pasien rawat jalan!" Tutur Daiyan dengan tatapan dalam ke arah Raniyah seolah dia ingin menyelami pikiran wanita dihadapannya.


"Oo.. Pak Ryan membicarakan urusan pekerjaan saja"


"Benarkah?"


"Memangnya apa yang harus dibicarakan kak, pastilah soal pekerjaan" Kata Raniyah.


"Kamu tidak berbohong?" Ucap Daiyan mendekatkan wajahnya ke arah Raniyah.


Sontak wajah Raniyah memerah karena ditatap dalam jarak yang dekat, bola mata Daiyan bergantian menatap bola mata jernih milik Raniyah.Tatapan Daiyan juga beralih ke bibir merah alami milik Raniyah, membuat si empunya jafi semakin panas dingin. Tapi kemudian Daiyan beralih menatap jam dinding.


"Sudah malam, jangan tidur terlalu larut malam, nanti kesiangan! Pak Ryan tidak suka orang terlambat!" Seru Daiyan menjauhkan badannya dari Raniyah dan berlalu keluar dari kamar.


****


Kali ini Raniyah berangkat bareng Daiyan menuju sekolah seperti biasa Salsa akan di asuh oleh pengasuh yang mengasuhnya sampai Raniyah pulang. Sampai depan gerbang Daiyan menghentikan laju mobilnya, Raniyah bergegas hendak keluar. Tapi Daiyan menahan tangannya.


"Bibir kamu kemerahan!" Tegur Daiyan membuat Raniyah mengeluarkan kaca di tasnya.


"Masa?"


"Iya!" Ucap Daiyan sambil meraih tisu dan menyodorkannya pada Raniyah.


Mau tidak mau Raniyah mengambilnya dan menghapus lipstiknya yang dianggap kemerahan oleh Daiyan, selesai menghapus lisptik, tangan Daiyan mengeluarkan lipstik dengan warna nude ke arah Raniyah.


"Pakai lipstik ini! Kemarin lagi ada promo pas ke mall!" Ucap Daiyan.


Membuat Raniyah menoleh ke arah Daiyan yang tampak dingin dan datar, pandangannya juga sama sekali tidak melihat ke arah Raniyah. Rasanya lucu sekali melihat sikap Daiyan yang sok cuek.


"Makasih," Ucap Raniyah tersenyum membuat Daiyan berdehem.


"Pakai sekarang kalau mau bilang makasih!"


Lagi-lagi Raniyah tersenyum, dan langsung memoleskannya di dibibirnya menghadap ke arah Daiyan, tapi terlihat Daiyan langsung pura-pura memainkan ponselnya.


"Kak lihat bagus gak?" Tanya Raniyah.


"Bagus." Balas Daiyan tanpa menoleh sedikit pun membuat Raniyah geregetan.


Tangan Raniyah pun terulur dan membuat wajah Daiyan menoleh ke arahnya, tidak lupa Raniyah mendaratkan kecupan singkat di bibir suaminya yang seketika membuat Daiyan terpaku. Setelah melakukanya Raniyah tersipu malu langsung keluar dari mobil. Wajah Raniyah memerah karena dengan lancang mencium suaminya.


"Apa dia akan marah nanti?" Batin Raniyah baru tersadar.

__ADS_1


Begitu Raniyah menoleh ke arah mobil, disana mobil langsung melesat meninggalkan Raniyah.


#Bersambung...


__ADS_2