Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Jalan dengan Fahrul


__ADS_3

Suasana angin pagi sangat menyejukan. Fahrul membonceng Raniyah sampai stasiun Serang. Dia menitipkan kendaraannya rodanya disana, lalu keduanya membeli tiket ke Rangkasbitung, harga tiket kereta masih murah hanya 3.500 rupiah. Setelah itu mereka masuk dan menunggu dikursi halte, pukul 6.00 pagi jadwal keberangkatan mereka.


Fahrul menatap tiket ditangannya, sementara Raniyah tampak memperhatikan sekelilingnya, dia mengagumi setiap keindahaan sudut kota dipagi itu. Cahaya mentari tampak malu-malu menyapa, bayangan Raniyah yang duduk dikursi diperhatikan oleh Fahrul yang tersipu. Dia diam-diam memotret pemandangan itu, bayangan sempurna wajah Raniyah dilantai.


" Cantik," Gumam Fahrul membuat Raniyah menengok memperhatikan Fahrul yang bermain ponsel.


"Aku ingin lihat," Kata Raniyah sambil tersenyum membuat Fahrul terperajat, dia takut kepergok karena diam-diam memotret Raniyah.


" Nanti aku akan tunjukan tempat yang cantik untuk kamu, Ran!" Ucapnya dengan senyuman lebar, Raniyah pun mengangguk dan tersenyum.


Fahrul menatap Raniyah, dia tampak menelisik wajah Raniyah, dia tertunduk dalam hatinya dia berbicara.


"Wanita ini biasa saja tapi sangat menarik" Batin Fahrul.


Tinuniniununt (Suara Kereta Api datang)


" Ayo!!" Fahrul langsung mengandeng tangan Raniyah, tampak Raniyah sedikit terkejut dan meringgis tidak nyaman.


Fahrul mengengam tangannya menuju pinggir rell kereta api. Selama itu pula Fahrul terus memegang tangannya, dalam hatinya dia tampak senang dan menikmati moment itu. Kereta Api pun berhenti, Fahrul naik ke atas kereta lalu mengulurkan tangannya ke arah Raniyah, setelah itu Fahrul sama sekali tidak melepaskannya sampai mereka mendapatkan tempat duduk.


Fahrul mengambil tempat duduk yang mengarah ke matahari terbit, Raniyah pun duduk dengan tangan Fahrul terus mengengamnya, dalam hati keduanya jantungnya herdebar.


"A tangannya gak dilepas?" Kata Raniyah kepalanya menoleh ke samping ke arah Fahrul, yang seketika dia ikut menatapnya.


" Ah iya, sorry!" Sambil tersenyum kemudian mengelua mengelus kepala Raniyah.


Raniyah mengangguk canggung dia memilih menatap ke arah jendela. Semburat berwarna jingga sudah tampak dilangit biru. Kereta Api melaju dengan cepat, padang ilalalng dan pesawahan menjadi sajian yang disaksikan. Raniyah tersenyum, kerinduan pada kampungnya setidaknya terobati dengan melihat penampakan sawah dan orang yang sedang menebar benih.


" Sudah kubilang, cantik bukan pemandangannya?" Kata Fahrul menatap samping wajah Raniyah.


" Iya benar A. Ini indah sekali." Kata Raniyah yang terus berdecak kagum karena melihat matahari terbit dengan pepohonan kelapa berbaris disepanjang jalan yang dilewatinya.


" Sebentar lagi sampai stasiun Walantaka, biasanya banyak yang naik disini!"


" Oh ya, ternyata masih banyak yang mengunakan kereta api!" Kata Raniyah kali ini menghadap Fahrul.


" Iya, banyak yang liburan juga kalau minggu Ran," Kata Fahrul.


"Ini liburan pertama aku disini A Fahrul." Kata Raniyah sambil menghela nafasnya.


"Benarkah? Kalau gitu minggu depan kita naik kereta ke Pelabuhan Merak, aku akan tunjukan tempat yang indah lainnya." Kata Fahrul.


" Wah beneran ya , aku gak sabar!" Kata Raniyah tersenyum.

__ADS_1


Fahrul menatap lekat wanita sunda yang baru ditemuinya ditanah rantau. Gadis ini memiliki potongan wajah seperti seseorang yang selalu dirindukannya. Hanya saja Raniyah lebih kalem.


" Ran, kamu punya pacar?" Tanyanya dalam keheningan.


Raniyah terdiam dia menoleh ke arah Fahrul yang sedari tadi terus memperhatikannya. Dia mengelengkan kepalanya.


" Aku tidak suka pacaran A!" Kata Raniyah.


" Oh ya, bagus itu." Kata Fahrul.


Semuanya kembali hening lagi, Raniyah mentap kembali jendela ,dia tidak ingin melewatkan semua keindahan dari pemandangan jalan yang dilewatinya. Sementara Fahrul tampaknya terdiam saja, Tidak lama Raniyah merasakan seseorang menyenderkan kepalanya dibahunya. Sontak Raniyah menoleh, rupanya Fahrul terlelap disana. Rambutnya melambai-lambai, jika ditelisik Fahrul ini hitam manis, matanya sedikit sipit.


******


Pasar Ikan


Setelah turun kereta Api, Fahrul tidak lepas mengengam tangan Raniyah, dia takut Raniyah terpisah darinya karena memang sedang padat padatnya distasiun pagi itu. Keduanya berjalan menuju keluar Stasiun.


Jalanan becek mulai dilaluinya, Fahrul mengenalkan tempat disekitar stasiun pada Raniyah, tidak jauh dari Stasiun rupanya ada pasar yang cukup ramai, Fahrul membawa Raniyah menyaksikan pasar pagi di Rangkasbitung. Ikan-ikan segar berbaris disana.


" Ramai sekali A Fahrul." Seru Raniyah memperhatikan aktivitas para penjual ikan.


" Iya, kalau mau beli ikan beli saja disini." Kata Fahrul.


" Mmm apa ikan laut enak?" Kata Raniyah dengan polosnya.


"Waduh pengantin muda ya, sini mau beli ikan apa? ibu juga kasih resep bumbunya deh!" Seru ibu iby penjual mengoda Fahrul dan Raniyah.


" Ekhem.. Ya udah kalau gitu kasih diskon ya bu buat pengantin muda." Kata Fahrul sambil merangkul bahu Raniyah dan memamerkan giginya.


" Hahaha, dasar kau anak muda, okelah 20 rb saja cuma besar ini, ibu kasih lebih seperempat cumi kecil!" Gelak tawa penjual itu.


Raniyah mengelengkan kepalanya melihat tingkah Fahrul yang pandai mengunakan kesempatan untuk menawar pedagang. Setelah berbelanja ikan, Fahrul membawa Raniyah berbelanja buah-buahan.


Setengah jam mereka kesana kemari mengelilingi pasar tradisional itu tidak lupa Fahrul mengabadikan moment itu, apalagi profesinya sebagai fotograhfer membuatnya tidak ingin menyia-yiakan pemandangan pasar tradisional.


Wajah Raniyah banyak tertangkap dalam jepretannya, dia merasa puas memiliki model dengan wajah natural manis seperti Raniyah.


Fahrul tersenyum melihat hasil jepretannya di lensa kameranya. Raniyah memergokinya dan seidkit berkerut dahi. Fahrul langsung membenarkan raut wajahnya yang terkejut.


" Maaf, aku memotretmu diam-diam, tapi kamu gak marah kan? Aku membutuhkannya untuk pameran dan perlombaan bulan depan." Jelas Fahrul membuat Raniyah menghela nafas.


" Aku merasa terhormat menjadi model dadakan!k Kata Raniyah tanpa diduga sama sekali tidak marah.

__ADS_1


Fahrul mengelus dadanya dan menghela nafasnya, " Aku pikir kamu akan marah." Katanya sambil tersenyum.


" Kenapa juga aku marah, Ayo kita lihat tempat lain!" Kata Raniyah berjalan mendahulu Fahrul.


Fahrul yang berjalan dibelakangnya sesekali memotret Raniyah yang menoleh ke belakang dengan kantong belanja ditangan kanan dan kirinya.


" Kau mendapatkannya lagi!" Kata Raniyah sadar Fahrul terus memotretnya.


" Terlalu indah untuk dilewatkan Rani!" Ucapnya sambil mensejajarkan langkahnya dengan Raniyah.


Fahrul memberhentikan Raniyah sebentar, dia memesan taxi online, Raniyah memperhatikan Fahrul.


" Kita akan pergi ke pantai, mumpung kita sudah disini Rani!" Kata Fahrul.


" Baiklah, tapi ikan-ikan ini bagaimana?" Kata Raniyah.


" Tidak masalah. Sebentar saja." Kata Fahrul setelah sebuah mobil yang dipesannya datang.


Keduanya pun masuk mobil dan pergi ketujuan yang hendak ditujunya. Pantai yang sangat indah, desir angin pantai dengan gemuruh ombak sudah menyapa. Raniyah turun dari mobil bersama dengan Fahrul. Decak kagum terus terucapkan dibibir Raniyah, dia berlarian menuju bibir pantai Fahrul tersenyum, dia juga memotret bagian tersebut.


Setelah puas bermain air laut, Raniyah dan Fahrul duduk di pasir putih itu, keduanya menikmati deburan ombak dengan semilir angin.


" Ran, kau ingin menikah?" Tanya Fahrul membuat Raniyah langsung menoleh, sesaat terdiam.


" Iya, semua orang diusiaku sudah menikah, bagaimana mungkin aku tidak punya keinginan yang sama seperti mereka." Jelas Raniyah.


Fahrul terdiam, dia menelisik raut wajah Raniyah. Kemudian memainkan pasir putih dan menuliskan nama R dan F dalam pasir itu, membuat semburat merah dipipi Raniyah.


"Jika kita berjodoh, aku akan datang menikahimu" Kata Fahrul membuat Raniyah berkaca-kaca, rasanya dia sedang dilamar Fahrul.


"... Apa kamu mau jadi isteriku?" Kata Fahrul membuat Raniyah mengangguk.


Fahrul senang dengan respon dari Raniyah dia mengeluarkan gelang dengan kupu-kupu menjuntai. Dia memasangkannya ditangan Raniyah dan satunya dia pasang ditanganya juga.


" Resmi!" Kata Fahrul membuat Raniyah tergelak.


"... Kenapa kamu tertawa," Kata Fahrul sambil tersenyum.


" Resmi untuk hal apa A Fahrul?" Tanya Raniyah.


" Kamu tidak boleh dengan yang lain, kamu hanya untuk aku Raniyah!" Ucap Fahrul serius dengan menatap lekat bola mata Raniyah bergantian.


Tanpa sadar Raniyah mengangguk, menyetujui perkataan Fahrul. Namun, tidak lama kemudian ponsel Fahrul berbunyi. Sekilas Fahrul melirik ponselnya lalu, dia menjauh dari Raniyah dan mengangkat telpon tersebut, Raniyah melihat dari kejauhan.

__ADS_1


" Apakah aku terlalu cepat ambil keputusan, menerima Fahrul." Batin Raniyah sambil melihat Fahrul yang tampak serius berbicara dengan seseorang ditelpon.


#Bersambung....


__ADS_2