Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Dijodohkan?


__ADS_3

Semua hal yang sudah terjadi, Raniyah coba lupakan dan ikhlaskan. Mungkin memang jalan takdirnya belum berpihak untuknya menikah. Dan mereka yang datang hanya sekedar singgah.


Saat Raniyah menyantap mie ayam, Lusi datang sambil tersenyum-senyum, dan duduk disebelah Raniyah. Raniyah merasa heran dengan sikap Lusi.


" Bu Lusi kenapa?" Tanya Raniyah sambil terus melahap hidangannya.


"Mau aku kenalkan ke seseorang?"


"Tidak perlu!"


"Ah maksudku, ada seseorang yang ingin berkenalan denganmu!"


Raniyah memilih tidak menyahut, terlihat berpikir dan tetap mengunyah makanannya. Lusi menunggunya berharap Raniyah mengiyakannya. Namun, jawaban dari Raniyah tidak kunjung muncul.


"Bu Ran!" Tegur Lusi guru Fisika.


Raniyah menoleh, menghela nafasnya lalu minum dan membersihkan mulutnya dengan tisu. Lalu berdiri dan membuat streoform tempat makannya tadi ke tempat sampah. Lusi terus membuntutinya sampai Raniyah duduk kembali di kursinya.


" Jadi gimana?"


" Siapa?" Tanya Raniyah balik bertanya.


" Pak Rasya guru Biologi!" Kata Lusi sambil tersenyum.


" ... Ya emang dia udah 35 tahun beda 10 tahun denganmu, tapi dia masih lajang, agamis, tidak pernah pacaran. Dia keturunan Ustad juga kan!" Jelas Lusi dengan semangat menjelaskannya.


" Huh! Bu Lusi Bu Lusi! Tak perlu menghiburku seperti ini!"


" Yaah Rani disekolah ini hanya tinggal kamu yang belum menikah! Apa kamu tidak tertarik nikah?"


" Bu Lusi,aku tau! Setelah kakaku menikah hari selasa nanti, akan segera aku juga menikah!"


" Wah!! Kakakmu ada yang mau menikahinya?"


" Yah, teman waktu SMA nya!"


" Wah syukurlah!"


Raniyah melemparkan senyumannya, lalu berpamitan hendak solat dzuhur ke mushola. Lusi tersenyum dan kembali bergabung ke kelompok ibu-ibu yang sedang bikin rujak.

__ADS_1


*****


Jam pelajaran di sekolah sudah berakhir, Raniyah bergegas pulang, namun Lusi lagi-lagi menghadangnya, dengan pertanyaan yang sama di jam istirahat.


"Mau tidak aku jodohkan dengan Pak Rasya?"


Raniyah berusaha mengabaikannya, segera naik ojek online yang dipesannya, Raniyah tidak habis pikir Lusi begitu gigih ingin mendekatkan dirinya dengan Pak Rasya lelaki yang masih melajang di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Tidak cukup bicara langsung di sekolah,Lusi juga mengirimi pesan yang banyak kepada Raniyah tentang Pak Rasya. Raniyah hanya membaca pesan itu sekilas, tidak berniat membalasnya. Raniyah hanya ingin istirahat setelah banyak kejadian kegegalan dalam berhubungan dengan seorang lelaki.


Besok harinya lagi-lagi, Bu Lusi datang mencegatnya di di meja kerjanya. Raniyah menepuk jidatnya, sikap Bu Lusi semakin membuatnya bingung.


" Bu Rani aku tahu sebentar lagi Jesika akan menikah dengan mantanmu," Kata Lusi.


" Tidak apa-apa Bu Lusi, mereka memang berjodoh!"


" Aku tahu kamu sedih!"


" Sudah jangan khawatirkan tentang itu." pungkas Raniyah lalu berlalu.


Saat Raniyah hendak beranjak, Lusi menahan tangannya, matanya menilik sesuatu yang di meja Raniyah, ada Kotak Makan dengan diatasnya ada ada kertas yang bertuliskan, 'Semangat semoga harimu bahagia!'


Lusi mengambil kotak nasi itu, dan menunjukannya ke arah Raniyah yang ikut terkejut melihatnya, sedari tadi dia tidak mengindahkan apapun yang ada dimeja saking seringnya Lusi menganggunya.


"Aku baru melihatnya," Jawab Raniyah dengan tenang.


" Oh My God! Aku rasa seseorang sedang menjadi pengagum rahasiamu bu Rani! Lihatlah dia manis sekali mengatakan Semangat semoga harimu bahagia. Unch Unch Omo omoo!" Kata Lusi dengan suara nyaring membuat seisi ruangan menoleh ke arah mereka berdua.


Raniyah langsung menutup mulit bu Rani dan tersenyum ke arah semua orang yang hadir pagi itu di ruang guru. Ahsan yang mengantarkan Jesika sampai masuk ke ruang guru, langsung menatap lurus ke arah kotak makan itu.


" Jangan-jangan ini dari Pak Rasya!" Kata Lusi nyaring setelah melepaskan bungkamannya dari Raniyah. Raniyah sontak langsung mengelengkan kepalanya.


Semua orang langsung mengulum senyumannya mendengar hal itu, mereka langsung kembali lagi ke tempat kerjanya masing-masing, sementara Lusi terus mengodanya sambil memberikan kotak makan tersebut.


"Bu Rani, kau harus membalasnya besok, berikan kotak makan dengan isi yang penuh cinta!" Kata Lusi sambil berlalu, rasanya puas membuat Raniyah jengkel dan wajahnya memerah karena malu.


Raniyah pun duduk sambil menghela nafasnya, dia menatap kotak makan berwarna toska itu. Selagu dia melamun, seseorang datang menghampirinya.


" Kamu sepetinya bingung! Kalau kamu takut memakannya biar aku yang makan!" Seru Ahsan yang tiba di depan mejanya.

__ADS_1


Sontak Raniyah langsunh menoleh ke arah meja kerjanya Jesika, rupanya dia tidak ada disana, Ahsan tersenyum melihat Raniyah sepertinya panik melihat dirinya yang mendekatinya.


"Jesika lagi ke toilet! Lagi pula aku ingin dia mundur dari perjodohan!" Kata Ahsan dengan mata menatap lurus ke arah Raniyah.


" Harusnya kamu tolak dari awal! Sudah jangan ganggu aku lagi!" Kata Raniyah kesal sambil membuka kotak makan tersebut.


Isi kotaknya cukup cantik, ada sandwich dan buah-buahan, tertata dengan rapi dan indah. Potongan sandwich itu bertulisan mayones, " Senyummu milikku!" Raniyah mengulum senyumannya. Bisa-bisanya ada orang yang membuat kegilaan ini.


Tangan Ahsan dengan jahilnya langsung mencubit sandwich itu dan merusak tulisannya, dia langsung memakannya, potongan buah-buahannya juga dia mengambilnya.


" Aku melakukannya untukmu!" Saat Raniyah melotot dengan sikap Ahsan.


" Tidak sopan! Aku tidak memberimu ijin untuk ini!"


" Rani, sekarang jamannya orang ngirim-ngirim santet, sate beracun apa lagi pokoknya banyaklah! Kamu juga gak tau kan siapa yang ngirim kotak in!" Jelas Ahsan.


"Memangnya ini bukan darimu? Ini sangat alay sekali!" Gerutu Raniyah.


" Apa!! Oh kamu pikir aku alay gitu?"


" Ya begitulah!"


" Raniii! Jangan mentang-mentang kita sudah putus!" Kata Ahsan mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan Raniyah.


Nafas Ahsan saja terdengar karena sangat dekatnya jarak mereka, pipi Raniyah memerah, Ahsan tersenyum melihat perubahan raut wajah Raniyah. Sangat mengemaskan sekali Raniyah, sewaktu dekat dulu mereka tidak pernah seberani itu. Mereka hanya pergi jalan-jalan berdua, Ahsan bahkan tidak berani mengandeng tangan Raniyah.


Pikiran liar Ahsan bermunculan, naluri seorang lelakinya keluar melihat bibir merah Raniyah dalam jarak dekat. Hampir saja Ahsan khilaf kalau saja tidak ada Jesika yang menyerunya.


" Ahsaaan!!" Teriaknya.


Ahsan langsung membenarkan posisinya dia melirik ke arah Jesika, " Aku pulang!" Kata Ahsan bergegas.


Sementara Jesika langsung melangkah cepat ke meja Raniyah, dan hendak melayangkan tamparannya lagi, tapi kali ini tangan Jesika ditahan Pak Vikram guru Kimia yang lajang juga, namun usianya lebih muda seumuran dengan Raniyah, dia menatap sangar pada Jesika.


" Anda seorang guru! Harusnya mampu mengendalikan emosi, jangan asal ringan tangan! Wajah saja yang cantik! Perilaku kesetanan!" Tegas Pak Vikram membuat Raniyah terpaku.


Jesika terlihat menunduk malu dengan teguran dari pak Vikram, tangannya terlepas dari cengkraman Pak Vikram, Jesika sedikit meringis lalu berjalan kembali ke kursi kerjanya sambil menunduk.


" Terima kasih Pak," Ucap Raniyah yang dibalas anggukan oleh Pak Vikram.

__ADS_1


Sambil menatap punggung pak Vikram yang bergerak menjauh, Raniyah menatap kotak nasinta dan mulai berpikir,"Apa pak Vikram? Hus ge'er jangan -jangan kak Haya lagi! Atau kerjaannya bu Lusi." Kata Batin Raniyah sambil tersenyum menertawakan pikirannya.


#Bersambung....


__ADS_2