Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Surat Undanganmu


__ADS_3

Libur sekolah membuat Raniyah banyak menghabiskan waktu di rumah. Banyak administrasi sekolah yang harus diselesaikan, Raniyah ingin mengusir semua pikirannya dari tentang Ahsan, sehingga laporan rencana pembelajaran sudah dia buat jauh-jauh hari. Raniyah benar-benar ingin membuat otaknya sibuk.


Drrt Drrt Drrt


Ponselnya bergetar, Raniyah meraih ponselnya, dan mengangkatnya tanpa melihat siapa penelponnya.


"Ya? Dengan siapa?" Sapa Raniyah, sambil terus menatap layar laptopnya.


Tidak ada jawaban, hening. Hanya suara helaan nafas berat itu menjawabnya, seketika Raniyah terhenti dan melihat ke layar ponselnya, jantungnya berdebar begitu melihat tertera nama "Ahsan" disana.


" Ahsan!" Sapa Raniyah pelan dan tangannya terhenti dari ketikannya di laptop.


Tut tut tut


Telpon langsung terputus. Raniyah meletakan ponselnya, seketika terisak lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Semua rasa tertumpah pada air matanya. Sungguh rasa ingin marah, kecewa dan lelah dengan sikap Ahsan menyatu dalam dirinya.


Drrt drrt


Ponselnya kembali bergetar, Raniyah kembali mengangkatnya sambil berurai air mata, kali ini dua ingin meluapkan semua emosinya.


" Ahsan apa mau mu! Kamu tahu ini sangat menyiksaku! Akhiri semua inI Ahsan! Aku ikhlaskan kamu dengan Jesika, tapi jangan bersikap seperti ini padaku!" Cerocos Raniyah memelas dengan rasa kekacauan yang sungguh memilukan yang mendengarnya.


" Raniyah, anda salah orang. Aku didepan rumahmu! Cepatlah keluar!" Suara Daiyan terdengar disana seketika. Raniyah terdiam.


Raniyah segera mencuci wajahnya setelah telpon ditutup, pikirannya semrawut, bahkan bingung karena Dokter Daiyan bisa tahu rumahnya. Raniyah keluar rumahnya, disana sudah berdiri seorang lelaki berpenampilan rapi. Raniyah melihat penampilan Dokter Daiyan dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Saya sudah lama berdiri, bisa-bisa terjadi pembekuan darah!" Kata Daiyan dengan wajahnya yang datar membuat Raniyah tersunging.


" Silakan , Dok duduklah, saya akan bawakan secangkir teh."


Daiyan mengangguk dan duduk disalah satu kursi depan rumah Raniyah, saat itu rumah Raniyah cukup sepi. Sehingga membuatnya tidak berani duduk di dalam rumah.


Tidak lama kemudian, Raniyah datang dengan secangkir teh dan sepiring kue kering. Setelah menyajikan jamuan, Raniyah pun duduk disamping Daiyan.


"Silakan diminum Dok."


"Terima kasih."


"Iya, tapi kenapa Dokter datang ke rumah saya? Dan kenapa bisa tahu rumah saya?"


Daiyan meletakan cangkir tehnya, lalu mengeluarkan sepucuk undangan berwarna merah marun, lalu di serahkan pada Raniyah. Mata Raniyah menatap nanar ke arah undangan itu.

__ADS_1


" Karena undangan itu! Jadi saya harus kesini."


"Kenapa Dokter yang mengantarkannya?" Ucap Raniyah dengan bibir bergetar.


"Ahsan teman karib saya."


Seketika Raniyah menoleh ke arah Daiyan, matanya membulat penuh dengan apa yang baru didengarnya. Semua pertanyaan berputar dikepalanya, bahkan setengah tidak percaya dengan penuturan Daiyan.


" Saya tidak mengerti Dok."


" Ahsan teman saya, Saya lama kuliah di Turki. Saya baru kembali ke Indonesia tiga bulan yang lalu, mungkin Ahsan tidak menceritakan saya kepada Anda, itu jelas terlihat dari sikap anda yang tidak mengenal saya saat di rumah sakit." Kali ini Dokter Daiyan berbicara cukup panjang lebar dari biasanya.


Senyuman ketir terukir dibibir Raniyah, matanya beralih menatap undangan itu, sesak sekali rasanya, mungkin itulah cara seseorang membuat luka dihatinya tidak pernah kering.


"Sampaikan saya akan datang, kebetulan calonnya juga teman kantor." Ucap Raniyah dengan mata sudah berkaca-kaca.


Daiyan tidak berkomtar apapun, dan memang begitulan sikap Daiyan tidak pernah banyak bicara. Sejurus pandangannya terfokus ke arah Raniyah yang terus menatap undangan itu dengan penuh pilu.


"Maafkan dia, tapi dia tidak bisa menjelaskan apapun saat ini, jadi cobalah mengerti dan jangan membencinya."


Mata Raniyah langsung beralih ke arah Daiyan yang menatapnya begitu lekat. Kini terlihatlah tatapan penuh kesedihan, kemarahan, dan kekecewaa yang selama ini disembunyikan Raniyah.


"Pernahkah kamu berada di tempatku?" Tanya Raniyah emosional.


" Ya, memang orang yang pandai menasehati terkadang tidak merasakan berada di tempat orang yang di nasehatinya." Ketus Raniyah beranjak berdiri.


"Maaf, saya memang tidak pantas memberikan nasihat pada Anda, tapi saya harap anda jangan terlalu terpuruk. Apapun yang terjadi saat ini, anda harus tegar menghadapinya."


" Ya,terima kasih Dokter Daiyan, anda sangat baik." Tutur Raniyah.


" Saya pamit!" Daiyan puj berlalu membawa mobilnya meninggalkan rumah Raniyah.


******


Daiyan mengendarai mobilnya sambil mendengarkan celotehan sahabatnya yang berada di sebrang telpon. Seperti biasa Daiyan memang tipikal pendengar yang baik.


"Aku sangat mencintainya, Daiyan. Apakah keputusan ini salah? Tapi kamu tahu hubungan dalam hidup ini tidak cukup tentang cinta, banyak hal Daiyan, aku sulit menjelaskannya."


"Kamu mencintai Jesika?"


" Tidak, banyak hal dari sikapnya yang tidak aku sukai. Tapi dia anak tanteku, kami sudah dijodohkan sedari kecil secara adat!"

__ADS_1


"Bagaimana Raniyah saat menerima undangan itu? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia marah padaku?"


" Dia marah tapi tidak mengungkapkannya."


" Benar, Raniyah pasti begitu, sekalipun marah dia akan diam saja. Aku resah, aku merasa sangat bersalah padanya Daiyan. Bisakan aku kembali padanya?"


" Jangan permalukan keluargamu! Kamu terlambat jika ingin membatalkannya."


"Aku sangat ingin berbicara dengannya, bahkan lidahku selalu ingin mengatakan aku sangat mencintainya, jika dia sabar menunggu, aku akan menikahinya. Aku sangat rindu padanya. Tapi lagi-lagi aku tak sanggup Daiyan. Aku gak sanggup melihat matanya menanggis, aku gak sanggup membuatnya terluka didepan mataku sendiri.


" Tapi kamu sudah membuatnya terluka lebih dalam."


" Yah sepertinya langkahku semakin salah sekarang."


"Ya."


******


Undangan merah marun itu berada di meja ruang tengah, semua orang menatap ke arah sana, Ranuyah terduduk lesu dengan Haya mengelus punggungnya memberikan kekuatan.


Orang tua Raniyah tidak bisa berkata apa-apa, mereka paham betul bahwa Raniyah pastinya terluka. Tiba-tiba suara kak Radit terdengar nyaring, dengab nada mengebu-ngebu.


" Yah, begini kalau anak dihalang-halangi nikah!"


" Radit diam!" Tegur Kak Fraz.


"Justru kita jadi tahu! Kalau Ahsan berarti bukan jodoh Rani!" Celetuk ibu.


"Tapi ya harus ada usaha! Bagaimana kalau Rani jadi perawan tua karena sering ditinggal nikah terus!"Timpal kak Radit.


"Kak Radit! Tenang aja Haya gak bakalan bikin dede jadi perawan tua!" Emosi Haya keluar ketika sudah menyangkut hal nikah.


" Emangnya apa yang sudah kamu usahakan? Kapan kamu bisa nikah? Mendingan sekarang biarkan Rani kalau ada yang lamar langsung nikahkan saja!" Tutur Kak Radit tidak mau kalah.


" Sudah! Sudah! Jangan ribut! Toh masalah gini saja jadi ribut!" Kata Pak Ansori.


" Adat yang kayak gini jangan dipegang Pak!" Tegur Kak Radit.


" Radit! Sudah cukup!" Kata Kak Fraz takut ada perdebatan lebih panjang lagi.


Suara Adzan Isya pun berkumandang, membuat orang yang berdebat diruang tengah pun diam. Kak Radit langsung bangkit dengan membawa emosinya ke kamar mandi. Pak Ansori langsung mengambil sarungnya untuk segera ikut sholat berjamaah di masjid.

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2