
"Maaf Ran, aku mau nikah!"
Bibir Raniyah bergetar tidak mampu membalas perkataan Fahrul disebrang telpon. Tangannya berhenti mengetik. Semuanya sudah buyar diotaknya, Raniyah segera menghapus air matanya, suaranya serak sekali menjawab perkataan Fahrul.
"Mm.. sama siapa?" sambil mengigit bibir bawahnya.
"Sama Meyla! Dia juniorku waktu kuliah!"
"Kenapa gak milih aku?" Tiba-tiba kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Raniyah.
"Dia lebih menyakinkan, dia gak punya ibu!"
"Apa hubungannya dengan pilihan kamu?"
"Saat aku mampir ke rumahnya orang tuanya sudah langsung menyuruhku untuk melamarnya!"
jleb
Air mata Raniyah semakin deras mendengar jawaban-jawaban dari Fahrul. Dadanya terasa sempit. Raniyah menutup mulutnya akan tidak terdengar suara isak tangisannya. Tapi kemudian karena tidak mendengar suara Raniyah, Fahrul memilih mode video call. Raniyah mengangkatnya tapi tidak mengarahkan ke wajahnya dia arahkan ke tembok.
"Ran, aku minta maaf!"
"Iya!"
__ADS_1
"Aku minta maaf ya, gak bisa milih kamu!"
Semakin Fahrul berkata demikian semakin sesak dada Raniyah. Dia memilih tidak menyahuti perkataan Fahrul. Suara musik dibelakang Fahrul yang sedang diputarnya terdengar karena keduanya hening.
*Bila yang tertulis untukku
adalah yang terbaik untukmu
Kan ku jadikan kau kenangan
yang terindah dalam hidup
Namun takkan mudah bagiku
yang terukir abadi sebagai
kenangan yang terindah*
Semakin deraslah air mata Raniyah, pikirannya sangat kalut. Tangisannya semakin menjadi, dia sesegukan. Pekerjaannya yang tadi serius dia kerjakan, seketika berantakan sudah. Dia bersandar pada kursi dengan tatapan kosong, semua terasa masih mimpi, semua kenangan bersama Fahrul yang kurang lebih 8 bulan membersamainya, lenyap seketika.
Karena kamu datang tiba-tiba, kamu pun menghilang dengan tiba-tiba
"Ran, i love you! jangan benci sama aku ya!"
__ADS_1
" love you too.." Balas Raniyah pelan dan telpon terputus.
Raniyah terisak kembali, sambil berurai air mata Raniyah segera merapihkan laptopnya, dia sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi dengan pekerjaannya. Setelah rapi dia segera beranjak pamit kepada lelaki rekan kerjanya, dia tergesa-gesa dengan air mata terus meluncur, untunya dia mengenakan masker sehingga tidak ada yang melihat air matanya yang tiada henti terus keluar.
Kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa
Aku junjung petuahmu.. Cintai dia yang mencintaiku
Hatinya dulu berlayar...Kini telah menepi... (Krisdayanti_Cinta)
Siapa yang menyangka, Allah begitu mudah membolak balikan hati seorang hambanya. Sekalipun engkau sudah gengam sekuat tenaga ,jika memang bukan takdirmu, tetap saja dia berpaling.
Perasaan yang terus berkecambuk, Raniyah merasakan titik terendah dalam hidupnya, dia bersimpuh pada yang maha Kuasa, memuja asmanya dan mengadukan segala pilu hatinya, lantunan ayat suci alquran dalam sholatnya begitu khusyuk. Derai air mata terus mengiringi setiap bacaan yang dilantunkannya. Hatinya terlalu dalam berharap pada manusia, dia pun kecewa begitu dalam. Bukan cinta yang salah, tapi hati yang salah menempatkan cinta mahluk diposisi tertinggi.
Aku tidak pernah kecewa berdoa kepadamu, Ya Rabb, Alhamdulillah Allhamdulillah Alhamdulillah
Terus saja Raniyah mengucapkan doa doa itu, menyakinkan hatinya dengan ketetapan Allah yang digariskan padanya. Serangkaian pesan maaf dari Fahrul terus membanjiri pesan di chatnya. Tiada hendak Raniyah membuka pesan itu, rasanya semakin menyesakkan jika dia terus membalas pesan Fahrul.
Kini Raniyah memilih fokus dengan merajuk pada sang Maha Kuasa. Dia menanggis sesegukan memohon ampunan dan terus beristigfar. Dia sadar keadaan yang menimpanya saat ini adalah teguran atau mungkin cobaan.
" Ya Jabbar, tenangkan aku!" Bisik Raniyah dalam sujudnya yang begitu lama.
Saat dunia terasa sempit dan tak mampu bercerita pada siapapun, Raniyah fokus mencurahkan segalanya pada sang kholik. Raniyah menanggis hingga terlelap setelah sembahyang.
__ADS_1
#bersambung...