
Radit yang memegang ponsel terlihat panik, dia terburu-buru berjalan menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari rumah pak Ansori, di perjalanan berpapasan dengan Ahsan yang membawa mobil bersama isterinya.
"Kak Radit mau kemana?" Teriak Ahsan sambil menurunkan kaca mobil.
"Raniyah kecelakaan" Jawab Radit cepat sambil berjalan menuju rumahnya.
Mendengar demikian, Ahsan langsung turun dari mobil dan mengejar Radit yang sudah memasuki pekarangan rumahnya.
"Kak ayo naik mobil aku, dimana raniyah kecelakanaannya! Aku ingin tau keadaannya!"
Sejurus Radit termenung menatap Ahsan, tapi tidak lama kemudian dia menyebutkan nama tempat yang diduga terjadi kecelakaan bus yang ditumpangi Raniyah. Ahsan bergegas membawa Radit masuk mobil dan segera menuju lokasi yang ditunjukan oleh Radit.
Jauh dalam hatinya Ahsan berdebar-debar, ingin menangis tapi dia sadar akan menjadi masalah nantinya dengan isterinya, apalagi mereka masih pengantin baru, selama ini Ahsan masih menyembunyikan hubungannya dengan Raniyah dari isterinya. Butuh waktu satu jam setengah untul sampai ke lokasi.
Suasana disana sangat ramai orang, terutama pihak polisi sudah memasang garis polisi, mobil ambulance sudah bolak balik membawa korban. Bagian belakang bus itu menambrak tebing bercadas sampai body belakang pengok.
Radit yang tidak sabar lansung keluar dari mobil sambil terus bertanya kepada semua orang memgenai adiknya.
"Semua korban sudah dibawa ke rumah sakit pak!"Ucap seorang warga yang ditemui Radit.
"Rumah sakit mana?"
"RSUD Sumedang"
"Oh iya terima kasih!"
Radit langsung masuk ke dalam mobil dan meminta Ahsan segera melajukan mobilnya menuju RSUD. Isterinya Ahsan sedari tadi diam saja, tapi ada perasaan heran dengan sikap suaminya yang tampak cemas. Dan tanpa pikir panjang mau saja mengantar Radit kesana kemari dan melupakan acara makan diluar mereka.
Begitu sampai di rumah sakit, tampak disana berjejal para pasien yang kesakitan, sudah dapat dipastikan mereka adalah para korban dari bus yang menabrak tebing. Radit dengan terburu-buru dia mencari adiknya melihat satu per satu korban.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menepuk pundak Radit. ia pun langsung berbalik.
"Daiyan!" Serunya.
__ADS_1
"Mari ikut saya!"
Tanpa pikir panjang Radit mengikuti Daiyan begitu pun Ahsan dan isterinya. Jantung Ahsan dan Radit semakin berdebar-debar begitu langkah kaki mereka menuju kamar mayat. Sebutir air mata meluncur dari sudut mata Ahsan dan Radit, bayang-bayang kematian Ranyiah sudah memenuhi pikiran mereka.
"Jangan menangis, Raniyah sedang mendapatkan perawatan! Dia hanya luka ringan!" Seru Daiyan mempercepat langkahnya menuju ruang perawatan.
Perasaan Radit dan Ahsan lega, mereka menghapus air matanya sambil sedikit tersenyum simpul setengah malu dengan Daiyan yang melihat mereka menanggis.
Srek
Tirai disibak oleh Daiyan, dan terlihatlah Raniyah disana sedang diobati tangannya oleh perawat. Radit langsung menghampiri Raniyah, dia memeriksa keadaan Raniyah.
"Kak Radit, aku hanya terluka ditangan!" Ucap Raniyah.
"Ah syukurlah!"
"Perbannya sudah selesai, sering diganti ya!" Kata Perawat sambil pamitan berlalu.
"Tanganmu kenapa?" Tanya Ahsan mendekati Raniyah.
"Tanganmu tertusuk?" Tanya Radit melihat ke arah Tangan Raniyah.
"Iya kak, lumayan dalam. Untung tidak memutuskan urat-urat ditanganku!"
Seorang wanita langsung mengaitkan tangannya ke Ahsan saat Raniyah berbicara dengan Ahsan. Senyuman simpul terukir dibibir Raniyah melihat wanita tersebut.
"Selamat ya, aku lupa tidak mengucapkannya." Ucap Raniyah langsung disadari oleh Ahsan dan tertunduk.
"Terima kasih. Aku Resa!" Ulur tangan wanita itu pada Raniyah dan langsung disambut.
"Raniyah"
"Kamu cukup dekat ya sama suami saya?"
__ADS_1
"Teman SMA,"
Radit yang melihat situasi demikian, merasa takut akan terjadi huru hara dalam pernikahan Ahsan kalau obrolan mereka diperpanjang. Dia segera mendekati Raniyah.
"Ayo kita pulang, ibu sudah menanti!" Ucap Radit.
"Iya kak."
"Mari kak Radit, Raniyah."
"Oh aku sampai lupa Ahsan, terima kasih sudah direpotkan olehku. Sekarang kamu boleh pulang, kami akan naik kendaraan umum. Aku sudah menganggu acara kalian berdua."
"Iya kamu lupa yang kita mau makan tau!" Seru isterinya.
"Ah, aku tidak merasa direpotkan." Kini Ahsan salah tingkah. Disisinya isterinya terlihat menunjukan kekesalannya.
Daiyan yang berdiri menyender di tembok langsung angkat bicara.
"Raniyah dan kak Radit biar saya yang antar pulang!"
"Kau kan sudah tidak ada hubungan keluarga! Apa gak bakal jadi masalah?" Ujar Ahsan melirik ke arah Daiyan seolah memperingatkan situasi genting yang sedang terjadi.
"Aku hanya mengantarkannya saja!" Ujar Daiyan sambil melepaskan jas kedokterannya.
"Terima kak Daiyan tap-"
"Ayo!" Ucap Daiyan memotong pembicaraan.
Raniyah dan Radit pun melangkah meninggalkan ruang perawatan, tampak Ahsan memandang lurus pada Raniyah, api cinta itu masih berkobar dalma dadanya, jelas isterinya merasa kesal dan jengah melihatnya.
"Jangan terus melibatkan dirimu dengan wanita itu! Apa dia mantanmu!" Gerutu isterinya membuat Ahsan tersadar.
"Ah karena kita sudah ada disini kita jalan-jalan disini saja yuk!" Hibur Ahsan meredamkan amarah isterinya.
__ADS_1
#Bersambung....