Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Bertengkar


__ADS_3

Fahrul tampak mengetik begitu lama. Raniyah sudah tidak sabar menanti balasan dari Fahrul. Tapi setelah itu, hasil ketikan dari Fahrul tidak muncul, semakin membuat Raniyah merasa kesal. Entah kenapa sikap Fahrul tampak berubah saat ini, padahal mereka hanya selang beberapa waktu saja tidak berjumpa. Raniyah termenung mengingat perkenalan awal pertemuan mereka sampai akhirnya Raniyah berada dititik mempercayakan hatinya kepada Fahrul.


"Ini terlalu cepat, aku terlalu mudah jatuh cinta!" Sambil air matanya menetes.


Raniyah : Kenapa gak dibalas A?


Raniyah memberanikan diri menanyakan hal yang membuat penasaran, mungkin orang akan memandang Raniyah terlalu merendahkan dirinya dan tampak mengejar Fahrul. Tapi setidaknya jika dia ditinggalkan pun dia tidak kecewa berat karena sudah berusaha memperjuangkan.


Papan ketikan mengetik, Fahrul tampak mengetik kembali pesannya. Sejurus Raniyah terus menantap layar ponselnya yang memunculkan barisan kalimat dari Fahrul.


Fahrul: Kan kita gak tau, bisa aja kita gak jodoh!


Raniyah: Ya A, tapi kenapa aa ngomong ada kemungkinan dengan yang lain? Apa aa sudah punya calon?


Fahrul: Tidak, hanya saja aku ingin kita memikirkan kembali hubungan kita!


Raniyah: Maksudnya aa? Kenapa bisa gitu?


Fahrul: Kamu PNS! Aku minder!


Raniyah: Tapi aku gak masalah Aa. Itu cuma status!


Fahrul: Sekali pun cuma status Ran, kamu pikirin perasaan aku dong, gimana pun aku laki-laki pengen punya status lebih dari ceweknya.


Raniyah: Kalau niat awal aa emang gak siap dengan status Rani, kenapa Aa berikan harapan ke Rani!


Fahrul: Itu aku belum kepikiran!


Raniyah: Aa makin gak jelas ngomongnya, aa jujur sama Rani, sebenarnya ada apa?


Fahrul: Gak ada apa-apa


Raniyah: Gak ada apa-apa gimana? Aa tiba-tiba kayak mundur menjalin hubungan sama Rani!

__ADS_1


Fahrul: Udah dulu ya Ran, aku cape mau istirahat.


Setelah balasan terakhir itu, Raniyah terdiam karena Fahrul memilih tidak ingin melanjutkan perdebatan mereka. Mau tidak mau Raniyah meletakan ponselnya dan memijit ceruk hidungnya. Baru kali ini dirinya dengan Fahrul bersitegang.


Ada rasa kecewa yang mendalam dengan sikap Fahrul yang tiba-tiba berubah. Raniyah pun merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit. Sejenak dia mengingat kembali perjalanan hidupnya, sesak dadanya pun kembali menyeruak.


Andai aku lebih sadar dari awal


tak ingin ku jalani, cinta ini


Andai aku tak mudah terpesona


tidak akan ada cerita seperti ini


Aku sangka dia tulus


tapi nyatanya hanya membual


Batin Raniyah terus berkata, meresapi dan merenungi semua kejadian ini. Jam dinding sudah menunjukan pukul 12.00 dini hari. Raniyah pun menarik selimutnya. Dia butuh istirahat untuk menenangkan pikirannya.


Seorang lelaki dengan celana komprang datang seorang diri ke rumah Pak Ansori, dia sudah lama sekali tidak menginjakkan kakinya disana. Wajahnya tampak lelah sekali. Dia melihat ke arah rumah yang dulu disana selalu hangat, tampak rumah itu kini sepi.


"Assalamualaikum bu!"


Tok tok tok


" Assalamualaikum buuuu! Ini Fraz buu!"


Suara langkah kaki dari dalam hendak membuka pintu terdengar, hati Fraz senang, karena ibunya sedang ada di rumah. Pintu terbuka menampilkan wajah ibunya yang sumringah melihat anak sulungnya berkunjung.


" Fraz kau ini!"


" Iya bu, anak ibu yang gede!"

__ADS_1


" Duh kau tak pernah kesini sejak nikah, mana isterimu?"


" Emm...A..Anu bu, kita ngobrol di dalam ya bu!"


Fraz mengajak ibunya ke dalam, perasaan seorang ibu mulai curiga melihat gelagat Fraz yang demikian. Segera ibunya membawakan sedikit makanan untuk puteranya karena dia tampak sangat kelaparan.


Fraz menyantap gorengan bakwan dengan secangkir teh dengan lahap, tampaknya putera sulungnya ini tidak makan setahun. Raut wajah Fraz juga tampak sedang ada masalah.


"Fraz, kau baik-baik saja kan nak?" Tanya ibu Ansori dengan lembut ke puteranya yang sedang menyeruput tehnya.


Fraz sambil meletakan cangkir tehnya, dia mengangguk pelan, jelas putera sulungnya tidak pandai menyembunyikan masalah darinya.


" Cerita sama ibu!"


Sejenak Fraz tampak menimbang permintaan ibunya, dia sebenarnya hanya ingin sejenak melepas penat dan tidak sanggup jika harus bercerita kepada siapapun terkait masalah pribadinya. Tapi melihat raut wajah ibunya, hatinya terasa luluh dan ingin menumpahkan segala keluh kesahnya.


" Bu.. " Ucap Fraz pelan.


" Iya nak, ceritakan pelan-pelan saja!" Bu Ansori tampak paham akan kondisi anaknya.


"Fraz lagi berantem sama Mela!" Ucap Fraz sambil menghirup udara kuat-kuat untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak seketika.


" Ada masalah apa sampai berantem?"


Mulailah Fraz menceritakan masalah biduk rumah tangganya yang masih seumur jagung. Fraz merasa kecewa dengan isterinya yang masih menjalin hubungan dengan mantanya. Bahkan kerap isterinya masih bertelepon. Dan puncak pertengkarannya saat isterinya memberikan pinjaman uang ke mantan yang jelas-jelas meninggalkan dia.


****


Ditempat lain, Raniyah sedang disekolah, waktu istirahat, dia sempatkan membuka sosial media, status Fahrul selalu menjadi yang pertama diliriknya, kali ini Fahrul membuat story dengan potret sepatu lelaki dan perempuan dengan latar air terjun.


Sepasang kekasih


Caption yang ditulis oleh Fahrul, cukup membuat Raniyah bertanya-tanya, termangu, apakah dia harus mempertanyakannya lagi, tapi masalah semalam saja dia belum selesai. Belum melihat sikap Fahrul yang tampak tak ada masalah, Raniyah merasa saat ini dirinya di abaikan. Raniyah pun menyimpan ponselnya tidak jadi mengomentari status itu.

__ADS_1


Baiklah, mungkin itu yang diinginkannya Batin Raniyah dengan hatinya yang terasa perih.


#Bersambung..


__ADS_2