
Raniyah melangkah kakinya keluar dari kamar, disana sudah ada lelaki berbaju putih diapit oleh kedua orang tuanya. Pandangan Raniyah tertuju pada lelaki berbaju putih itu, saat lelaki itu tercengkat kepalanya dan menatap Raniyah, sekilas bayangan wajah Ahsan hadir dan kenangan ketika lamarannya dulu hadir. Langkah Raniyah terhenti seketika membuat ibunya keheranan.
"Nak ayo!" Ajak Ibunya membuat Raniyah tersadar bahwa yang hadir dalam pikirannya hanyalah khayalan masa lalu.
Segera Raniyah terduduk dikursi yang berhadapan dengan Daiyan. Sorot mata Daiyan tidak henti memandang Raniyah. Pikiran Raniyah tidak ada ditempat, sama sekali dia tidak mendengarkan apa yang sedang diperbincangkan oleh kedua orang tuanya dengan orang tua Daiyan. Sampai suara Daiyan membuatnya tersadar.
"Saya akan menikahinya lusa!" Pandangan Daiyan menatap ke arah Raniyah yang terlihat melamun.
Seketika Raniyah menoleh dengan wajah melonggo, bukan main Daiyan langsung memutuskan pernikahan dalam waktu yang sangat dekat, bahkan tidak memberikan waktu bernafas sedikit pun padanya.
Kenapa dia terburu-buru! Batin Raniyah kesal.
"Semua persiapan pernikahan sudah disiapkan! Karena Raniyah masih perawan saya akan memberikan kesan pernikahan yang mewah untuknya!" Tutur Daiyan dengan sorot mata terus memandang Raniyah.
"dia akan memberikan pernikahan yang mewah? Jangan bilang semuanya hasil ngutang! Setelah pernikahan aku harus membayar hutangnya!"Batin Raniyah sampai tidak sadar dia mengelengkan kepalanya.
"Apa kamu tidak setuju?" Tanya Daiyan yang memperhatikan Raniyah.
__ADS_1
"Hah? Ya aku terserah!" Raniyah tersentak rupanya Daiyan memperhatikannya.
Semua yang mendengar reaksi Raniyah langsung menatap ke Raniyah keheranan.
Apa aku salah bicara? Duh kenapa aku gak fokus! Gerutu Raniyah dalam hatinya.
"Emm maksudnya aku tidak keberatan dengan keputusan kak Daiyan, semuanya saya serahkan ke kak Daiyan." Jelas Raniyah membuat yang hadir mangut-mangut.
Wah kenapa semuanya jadi begini! Aku rasanya ingin mati saja! Lihatlah ibunya Kak Daiyan melihatku seperti akan memakanku, Ah bukan ibu mertua impianku sama sekali! Batin Raniyah.
"Oh iya, ini sedikit uang untuk biaya nikahnya! Semuanya sebenernya dari dekorasi make up pakaian cathering sudah saya bayarkan tapi ini mungkin sedikit tambahan!" Ibu Daiyan sedikit menyombongkan diri sambil menyodorkan amplop coklat.
Pak Ansor mangut-mangut tidak langsung menerima amplop itu begitu saja. Setelah itu tukar cincin pun dilaksanakan. Ibunya Daiyan tampak engan dia memasangkan cincin dijari manis Raniyah, dan bu Ansor memasangkan cincin dijari Daiyan. Setelah itu mereka pun berfoto.
Saat selesai pemotretan, barulah Haya dengan kekasihnya datang, dia bersedekap digawang pintu dengan senyuman sinis melihat acara pertunangan adiknya. Lalu dia pun berjalan mendekati Raniyah dengan Daiyan, dan memeluk adiknya.
"Selamat atas pertunangannya ya. Oh iya jangan lupa kamu harus menepati janji, kamu nikah buat jagain anak kakak ya!" Kata Haya langsung disambung ibunya Daiyan.
__ADS_1
"Benar, kamu menikah dengan Daiyan untuk mengurus Salsa, jangan lupakan itu!" Tandasnya, Raniyah pun menghela nafasnya.
Belum apa-apa mereka menyebalkan! Batin Raniyah.
Ayahnya Daiyan mengelengkan kepalanya melihat sikap isterinya. Dia segera mendekat pada isterinya dan menjauhkannya.
-----*****------
Kabar berita pernikahan Raniyah dengan Daiyan cepat tersebar, undangan juga sudah menyebar dikampung dan sahabat Raniyah. Teguh juga mendapatkan undangan tersebut, dia tampak murung, tidak menyangka bahwa Raniyah dengan cepat menikah, padahal dia berniat akan melamar Raniyah saat mendengar Raniyah akan datang kemarin.
"Huh! Aku telat Ran!" Keluh Teguh sambil memandang undangan pernikahan yang tertera nama Raniyah dengan Daiyan.
Begitu pun Ahsan yang menerima undangan tersebut, dia terdiam memandangnya. Semuanya berkecambuk, pasalnya tidak menyangka Raniyah akan menikahi sahabat terdekatnya.
"Aku terlalu egois jika menginginkan Raniyah disamping wanita lain dalam genggamanku!"Batin Ahsan sambil tersenyum.
-------*****-------Bersambung
__ADS_1