
Raniyah menatap ke arah papan nama dari jas kedokteran itu terpangpang nama yang sangat indah. Lelaki yang masih fokus memeriksa kondisi Ahsan, ia bekerja seolah tidak ada Raniyah.
Wajah bersih, dengan garis tegas diwajahnya serta bentuk alis yang indah, patut menjadikan para pasien wanita betah di rawat di rumah sakit ini. Raniyah menghela nafasnya. Dia ingat dua pasien anak SMA di sebelah kamar Ahsan membicarakan dokter muda itu.
" Dokter Daiyan Alhanan!" Seru Raniyah membuat lelaki itu terdiam lalu melirik sebentar, sorot mata yang bisa memabukkan setiap orang.
"Iya"
" Bagaimana keadaannya? Bagaimana supaya dia segera pulih dan sadar dari pingsannya"
"Apa anda berpikir dia pingsan bu, dia sudah sadar hanya saja dia mungkin tidak ingin melihat anda, Bu" Tutur Daiyan.
Raniyah tidak menyangka dokter muda itu berkata demikian, tapi yang membuat bingung Raniyah apakah lelaki itu sedang bercanda atau sedang berbicara serius, karena tidak ada ekspresi dari wajahnya.
" Oh, baiklah." Ucapk Raniyah terdiam langsung keluar dari ruangan tersebut.
Orang tua Raniyah langsung berdiri begitu melihat Raniyah keluar, mereka terlihat hendak bertanya dengan penuh harapan atas kondisi Ahsan.
"Bu, Pak. Rani pulang dulu, sudah terlalu sore." Ucap Raniyah sambil mencium kedua tangan orang tua Ahsan.
Raniyah segera berlalu meninggalkan rumah Sakit dengan segudang rasa bimbang, sepanjang jalan dia memikirkan perkataan dokter Daiyan.
"Apa yang dikatakan dokter itu benar? Apa sekarang Ahsan tidak ingin melihatku juga? Aneh sekali!" Tutur Raniyah seorang diri di ruang tengah.
"Gimana Ahsan?" Tanya ibu yang baru keluar dari dapur membawa gorengan ke ruang tengah.
"Dia butuh istirahat Bu."
"Orang tua Ahsan, tadi telpon."
"Gimana bu, apa Ahsan sudah siuman?"
"Tidak juga, mereka membicarakan soal pertunangan kalian. Mereka memutuskan pertunangannya dibatalkan saja, sampai Ahsan sembuh total."
"Oh iya, Bu."
"Sudah jangan sedih, kalau jodoh gak bakal kemana!"
" Iya Bu."
__ADS_1
Setelah mendengar demikian, rasanya hubungan dengan Ahsan semakin jelas akan rengang. Tidak ada yang tahu, bagaimana hubungan keduanya akan berlanjut setelah kejadian tersebut. Raniyah juga cukup merasa bersalah dengan tragedi yang terjadi.
*****
Sepulang kerja, Raniyah menyempatkan hendak menengok Ahsan di rumah sakit, sekalian membawakan beberapa buah-buahan dan makanan kesukaan Ahsan, ayam penyet sambal hijau dan jus jeruk.
Baru saja sampai depan ruang perawatan Ahsan, dia merasakan kondisi yang berbeda, disana terlihat sepi sekali. Raniyah membuka pintu ruangan, benar-benar kosong tidak ada siapapun disana. Raniyah keluar dari ruangan dengan panik. Kebetulan seorang dokter lewat didepannya.
" Dokter, pasien yang disini pindah ruangan?" Cegat Raniyah kepada dokter yang ternyata kemarin merawat Ahsan.
"Tidak. Pasien disana sudah pulang."
"Loh, bukankah dia belum sembuh total?"
"Kami tidak tahu, hanya saja pihak keluarganya memaksa pulang."
Raniyah terdiam, raut wajahnya kini lesu. Bahkan dia tidak diberitahu kalau Ahsan sudah pulang. Pikiran-pikiran buruk pun mulai bergelanyutan di otaknya.
"Hey Buu! Anda tidak perlu khawatir, pasien sudah dipastikan harus melaporkan kondisinya setiap saat kepada saya." Tutur Daiyan.
"Iya Dok."
Raniyah yang pikirannya masih mengambang mengangguk saja tanpa sadar dan mengetikan nomornya diponsel dokter muda itu, senyuman terukir dibibir Daiyan melihat Raniyah menurut saja.
"Sepertinya anda perlu diperiksa!"
"Hah!" Raniyah melongo kebingungan.
"Nona, anda sangat tidak fokus sekali, hati-hati diperjalanan pulang, terima kasih nomornya" Daiyan mengukir senyuman yang manis, namun sayangnya Raniyah tidak menyadari sikap manis itu, bahkan tidak menganggap spesial.
Setelah Daiyan berlalu, Raniyah langsung berjalan pulang menuju ke rumahnya Ahsan, perasaannya belum tenang sebelum melihat kondisi Ahsan. Baru juga sampai depan rumah Ahsan. Terlihat gerbang rumah Ahsan digembok dan sangat sunyi.
" Neng, yang punya rumah belum pulang." Sahut seroang bapak-bapak dikomplek perumahan yang sedang mencuci motorrnya.
"Oh, begitu ya pak, terima kasih. Pak."
" Iya, neng."
Raniyah menekan tombol panggilan diponselnya. Dia menelpon ponsel Ahsan, telponnya tersambung tapi tidak diangkat. Raniyah pun mengirim pesan menanyakan keadaan Ahsan. Pesan langsung dibaca tapi tidak ada balasan. Raniyah sekali lagi menelpon, kali ini diangkat.
__ADS_1
" San, kamu gimana keadaannya? Aku lagi depan rumah kamu."
Tidak ada sahutan dari lawan bicara yang ada di sebrang telpon, namun suara hembusan nafasnya terdengar masuk ke telpon, Raniyah jelas tahu Ahsan mendengar suaranya, tapi herannya Ahsan hanya diam saja.
" Ahsan.. Kamu marah?"
Perkataan Raniyah hanya seperti angin lalu, dihiraukan oleh Ahsan yang berada disebrang sana. Air mata Raniyah pun meluncur. Saat ini, Ahsan bahkan tidak mau bicara apapun.
"Aku mencintaimu Ahsan." Tutup Raniyah sambil menutup panggilan di ponselnya.
Di sebrang telpon juga, Ahsan termangu setelah panggilan itu terputus, dia menyimpan ponselnya didada. "Aku juga Raniyah, sangat mencintaimu." Tuturnya.
*****
Waktu terus bergulir, lambat laun perjalanan hidup ini sudah berlalu sekitar seminggu, hari-hari tidak ada yang berubah. Raniyah masih terus menanyakan kabar Ahsan melalui pesan, atau menelponnya, meskipun saat ini telpon Raniyah diangkat tapi Ahsan tidak pernah bicara.
"Apakah Ahsan setelah kecelakaan berubah jadi bisu Ran atau dia lumpuh tangannya?" Ujar Karin.
"Ya enggak separah itu Rin! Mungkin dia lagi butuh waktu sama aku!"
" Udahlah Ran, gimana kalau kamu Pdkt sama gururuu disekolah ini aja! Mau gak?"
" Huss kamu ini! Hubungan aku sama Ahsan aja belum kelar!"
" Eh daripada kalian sekarang gak jelas! Ran, kamu sudah cukup usia gak bisa main-main dengan waktu lagi!"
" Ya tapi Rin!"
" Udah ya, aku kenalin kamu ke Pak Vikram."
" Vikram guru Kimia?"
" Iya Ran, gak apa-apa kali."
" Udah jangan dulu!" Raniyah merapihkan laptopnya, dia bergegas hendak pulang.
Baru melangkah ke depan pintu gerbang, Raniyah berpapasan dengan motor yang baru datang, jantung Raniyah berdegup kencang saat mata mereka bertemu.
#Bersambung....
__ADS_1