Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Putus lagi


__ADS_3

Masih dalam posisi berhadapan Raniyah dengan Daiyan. Wajah Raniyah tertunduk dan merah merona, sementara Daiyan mematung memperhatikan wanita dihadapannya. Dalam hati Raniyah mengutuk sikap dirinya dan Daiyan.


Bodoh sekali aku membiarkan Kak Daiyan memyentuh bra ku. Please kak Daiyan tolong pergi dari hadapanku, aku sungguh malu, jangan berdiam diri terus disana. Rutuk Raniyah dalam hatinya sambil terus memperhatikan lantai.


"Aku tidak melakukan perzinahan dengan kakakmu!" Suara Daiyan memecahan keheningan diantara keduanya.


Aku tidak peduli, ah tidak benar juga, aku sangat kesal melihat hal tadi. Sudahlah pergi kak Daiyan aku malu dan kesal saat ini. Jawab Raniyah dalma hatinya.


"Sekalipun dia mantanku, aku pernah menyukainya, tapi aku tidak akan menghianati pernikahan kita." Lanjut Daiyan sambil memegang bahu Raniyah.


Kini, Raniyah pun memberanikan diri mendongkakan kepalanya menatap lawan bicaranya. Dia melihat keseriusan dari ucapan Daiyan. Segurat senyuman terukir dibibir lelaki yang kini menjadi suaminya itu. Seketika berdesir jantungnya melihat senyuman yang begitu mempesona. Tangan Daiyan membelai pipi Raniyah, suasana semakin membuatnya canggung dan salah tingkah.


"Percayalah padaku." Ucap Daiyan.


" Iya aku percaya." Ucap Raniyah cepat berusaha mengusir kecanggungannya.


Bukan Daiyan namanya, kalau dia tidak pandai menangkap gelagat wanita yang dicintainya diam-diam itu. Mata Daiyan begitu lurus menatap mata Raniyah yang tidak fokus. Merasa diperhatikan Raniyah pun mundur.


"Sudahlah, aku mau mandi!" Ucap Raniyah berbalik hendak pergi, lagi-lagi Daiyan menghentikan langkah Raniyah dengan menarik bajunya dan branya.


prut!!


Benar saja tali branya kembali putus, mata Raniyah melotot, Daiyan juga terkejut dia mengulang kesalahan yang sama.


"Ma..aaf!" Kini Daiyan terbata.


" Keluar!!!" Kesal Raniyah.


Daiyan segera berbalik hendak meninggalkan Raniyah, namun diurungkan, langsung menarik tubuh Raniyah menghadapnya, tanpa aba-aba dia mencium bibir isterinya, Raniyah terkejut dan terpaku dengan tindakan spontan dari suaminya. Lama-kelamaan dia mulai terbuai dengan pangutan itu. Tanpa sadar Daiyan melakukannya sambil membetulkan bra Raniyah yang putus.

__ADS_1


Deru nafas keduanya terlihat seperti kehabisan nafas, Daiyan melepaskan pagutannya sambil melihat bibir isterinya yang terlihat merah karena ulahnya. Dia menyentuhnya dan mengelap dengan lembut bibir yang basah olehnya.


"Sekarang mandilah" Ucap Daiyan lalu beranjak meninggalkan Raniyah.


Raniyah menyentuh bibirnya seolah tidak percaya dengan yang baru saja terjadi padanya. Dia meraba bibirnya, dan langsung mengelengkan kepalanya untuk membuat dirinya sadar.


" Gila, berani sekali dia!" Kesal Raniyah walau dalam hatinya dia berbunga-bunga.


Kakinya kini melangkah masuk ke kamar mandi, sambil melamun karena terbayang-bayang dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Selesai mandi Raniyah hanya mengenakan handuk sambil pikirannya melayang memikirkan ciuman dengan Daiyan, namun baru saja keluar dari pintu, kini dia harus kembali berhadapan dengan Daiyan yang baru masuk ke kamar.


"Sorry!" Ucap Daiyan langsung menunduk dan pergi ke ruang kerjanya membawa secangkir kopi.


Raniyah langsung kelabakan dia, belum selesai dengan pikirannya yang masih memikirkan ciuman Daiyan ditambah lagi kejadian barusan semakin pening kepalanya, dia segera mencari baju dan menepuk jidaknya. Merasa bodoh sekali keluar dengan hanya mengenakan handuk. Terlintas sejenak ucapan Daiyan dulu.


"Apakah ucapan itu masih berlaku? Beneran tadi dia tidak melihatku sebagai wanita?" Gumam Raniyah sambil mengenakan pakaiannya.


Tiba-tiba saja Raniyah yang sedang menyeletingkan gamisnya mendengar suara Daiyan yang terpotong.


"Kamu sud..." Daiyan terdiam dan Raniyah langsung berbalik karena terkejut.


" Lagi.. Lagi... Kenapa selalu muncul tiba-tiba!!" Gerutu Raniyah kesal.


"Aku hanya ingin menanyakan apakah makanan sudha siap, aku lapar"


" Bi Yum yang masak, nanti aku cek" Cetus Raniyah langsung menyisir rambutnya.


Melihat geraian rambut hitam milik Raniyah membuat Daiyan terpesona , dia diam memperhatikan Raniyah yang menyisir di depan meja rias. Mata Raniyah melirik ke arah Daiyan.

__ADS_1


" Kenapa masih disana?" Ucap Raniyah.


" Memangnya kenapa?" Balik bertanya.


" Ya sudahlah terserah." Raniyah kembali menyisir rambutnya, pura-pura tidak peduli dengan keberadaan Daiyan, walaupun dalam hatinya dia tidak nyaman diperhatikan.


" Kakakmu sebaiknya kamu bicara baik-baik, agar dia segera pergi dari rumah ini."


" Iya aku akan bicara."


"Kalau kamu merasa kesulitan mengurus Salsa, biar Haya saja sementara yang urus."


" Loh, kenapa begitu?" Kini Raniyah berbalik menghadap Daiyan yang rupanya sudah duduk ditepi ranjang.


" Agar dia tidak ada alasan buat terus tinggal disini, aku gak nyaman."


" Ya udah terserah."


Hening beberapa saat. Daiyan menatap ke arah wanita didepannya.


" Apa kamu tidak mau memiliki anak?"


Deg


Deg


Pertanyaan yang begitu saja dilontarkan oleh Daiyan


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2