Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Menarik garis pembatas


__ADS_3

Kehangatan yang disalurkan membuat hati Raniyah berdebar, seseorang yang berada dibelakangnya menyandarkan dagunya dipundaknya, padahal jelas Raniyah yang tubuhnya pendek dengan lelaki itu yang memiliki postur tubuh tinggi, pasti tidak akan nyaman menyenderkan dagu disana.


"Kangen banget," bisik lelaki itu, sementara Raniyah hanya diam.


Seribu perasaan semakin kacau, dia ingin berbalik tapi lelaki itu mengencangkan pelukannya, jika dia menoleh wajahnya akan bersentuhan. Raniyah sedikit tidak nyaman karena berada ditempat umum, dan akan malu jika adegan ini ditonton pemilik kontrakan yang tinggal dilantai bawah kontrakannya.


"Bukankah ingin menjaga jarak?" Ucap Raniyah setelah hening beberapa saat, suaranya yang pelan hampir tertelan oleh hujan.


"Mungkin iya aku ingin menjaga jarak saat kita jauh, tapi saat aku ada disini, aku tak bisa!" Ucapnya.


"Lucu sekali, apa tadi kamu melihatku?"


"Ya"


"aku memanggilmu berkali-kali! apa suaraku tidak terdengar?"


"Oh sorry!"


" Kenapa minta maaf?"


" Ada banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan padamu Rani! Bisakah kamu tidak menuntut banyak hal padaku? Seperti menanyai segala hal, dan biarkan aku menjelaskannya sendiri!"


Sifat asli Fahrul mulai terlihat, tangan Raniyah mulai terangkat dan melepaskan pelukan Fahrul. Dia berbalik dan menatap netra milik Fahrul yang biasanya selalu meneduhkan. Netra yang meneduhkan dan memancarkan ketulusan cinta itu nampaknya sudah memudar, siapakah gerangan yang sudah merebut sinar cinta Fahrul untuknya, Raniyah tertunduk dan mengangguk pelan, hari ini dia tidak ingin berdebat dengan Fahrul.

__ADS_1


"Bagus! Aku suka Rani yang seperti ini!"


Seulas senyuman terpaksa tercipta dibibir Raniyah. Fahrul tampak senang dengan sikap Raniyah yang demikian.


"Kita akan berdiri disini saja!"


"Ya udah masuk dulu sampai hujan reda, nanti aa pulang, gak enak sama ibu kos!"


"Iya!"


Keduanya memasuki kontrakan, Raniyah menyimpan tas dan payungnya. Fahrul tampak sudah duduk di ruang depan, sementara Raniyah memasuki kamar dan berganti pakaian. Dia segera buatkan teh hangat.


Fahrul berbicara dengan orang ditelpon, tampak dia setengah berbisik. Raniyah menyodorkan secangkir teh. Fahrul tampak segera menutup percakapan. Semakin hari Fahrul tampak semakin banyak menyembunyikan rahasia.


Mata Fahrul tertuju pada tangan Raniyah yang melingkar gelang pemberiannya, dia cukup lama memgamatinya, Fahrul menghembuskan nafas beratnya.


"Jika suatu saat kita tidak berjodoh, jangan merasa tersakiti Ran!" Ungkap Fahrul menatap wajah ayu dihadapannya.


"Aku tidak yakin, tapi aku akan coba," Ucap Raniyah seolah bicara dengan dirinya sendiri.


Dalam hati rasanya teriris sekali. Tapi apa daya, kalau memang Fahrul yang menginginkan dengan orang lain, tidak mungkin dia memaksakan diri. Kini mata keduanya saling bertemu.


"Ayo kita ke rumah orang tuaku, bukankah kemarin a fahrul sangat ingin ketemu orangtuaku?"

__ADS_1


Wajah Fahrul tampak terkejut, sudah terbaca jelas bagi Raniyah, sikap Fahrul tampak berubah drastis. Fahrul memalingkan wajahnya menatap ke arah potret-potret yang dipajang dikamar kontrakan.


"Aku masih sibuk saat ini!"


Singkat, padat dan jelas, jawaban Fahrul selalu itu. Raniyah tangannya meremas ujung bajunya.


"Tidak apa-apa" Balas Raniyah cukup dingin dan terselip kekecewaan.


"Saat ini beneran sibuk!" Jelas Fahrul melihat wajah kekecewaan Raniyah rasanya tidak enak. Lagi-lagi hanya membalas dengan senyuman oleh Raniyah.


"Selesaikan kesibukannya, jika ada waktu luang bisa aa pikirkan hal ini." Ucap Raniyah mantap cukup membuat Fahrul terdiam.


Raniyah benar-benar berusaha untuk sabar dan tenang menghadapi Fahrul, tapi sisi sifat Raniyah yang tampak kaku itu jelas membuat Fahrul merasakan juga, Raniyah kecewa padanya.


Banyak keheningan disana, mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Tidak ada perbincangan hangat seperti dulu. Begitu hujan diluar reda, Fahrul bergegas pamitan, Raniyah mengantarnya sampai depan gerbang. Lelaki itu pergi dengan berjalan kaki menjauh dari kontrakan Raniyah.


Aku tidak akan mengemis cinta,Jika kamu memang harus menghilang, aku tidak akan mencarimu lagi.Sikapmu saat ini membuat aku yakin, kamu tidak menginginkan aku! Batin Raniyah.


Kaki Raniyah melangkah masuk ke dalam kontrakannya. Kini dan saat ini mungkin pertemuan terakhir keduanya. Raniyah menutup pintu kamar kontrakannya.


#Bersambung...


Mungkin diantara kalian ada yang mengalami masa seperti ini. Menemukan lelaki semacam ini, atau kalian pernah melihat orang yang mudah jatuh cinta. Mrs sendiri pernah melihat ada seseorang yang mudah jatuh cinta. Dan bagi Mrs itu bukan sifat orang yang murahan. Itu sifat alami manusia yang memiliki kekosongan kasih sayang dan dia memiliki kelembutan hati. Tapi seseorang yang sulit jatuh cinta justru lebih berbahaya karena dia bersifat keras hati, dan biasanya mereka orang yang pernah terluka, dan tersakiti begitu dalam. apa yang mrs tulis boleh setuju boleh enggak. Ini hanya pandangan Mrs.

__ADS_1


__ADS_2