
Pagi tiba, tampak kak Haya dan kak Fraz mendiamkan Raniyah, hal ini terlihat jelas membuat Kak Radit yang sedang bersiap menyalakan motor hendak mengantar Raniyah ke sekolah bertanya-tanya.
Sepertinya ada insiden yang terlewatkan, yang gak gue saksiin nih! Batin Kak Radit.
Ibu yang sedang menyiram bunga dan tanaman sayuran depan rumah hanya mengelengkan kepalanya melohat tingkah kedua anaknya yang masih belum reda marahannya.
Raniyah sudah berdandan rapi dan siap berangakt ke sekolah, dia duduk di kursi sambil mengenakan kaos kakinya, Kak Radit mengambil kesempatan mencuri informasi yang terlewatkan mengenai permasalahan di rumah.
"De!" Sapanya sambil duduk di kursi dan menyeruput teh manis yang disiapkan isterinya.
" Iya, kenapa kak?" Jawab Raniyah melirik sebentar lalu berlanjut memakai kaos kakinya.
"Kamu lagi ada masalah sama kak Fraz dan kak Haya?" Tanyanya sambil memasang kuping agar jawaban tidak ada yang lolos.
" Kak Haya dan kak Fraz lagi marah sama aku kak!" Jawab Raniyah sambil memakai sepatu high heel berwarna hitam.
"Kenapa?"
" Kak Haya cemburu , aku terlalu dekat dengan kak Daiyan, kak Fraz marah karena aku lupa bilangin kek kak Haya mau minjem uangnya! Kak Radit ada solusi gak buat masalah ini?" Todong Raniyah menatap kakak lelaki keduanya.
" Gak punya. Bukan ahli dalam ngasih solusi abang!" Kata Kak Radit sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
" Huh! Dikirain bisa ngasih solusi!" Kata Raniyah.
" Yowis, nanti juga baek lagi! Mendingan kita berangkat sekarang!" Seru kak Radit yang disambut anggukan oleh Raniyah.
Selama di perjalanan Kak Radit terus memberikan ceramahnya. Mengenai pernikahan yang gak ada aturannya harus sesuai urutan kelahiran, dia juga membicarakan masalah marahan itu tempo waktunya cuma tiga hari.
"De kok diem aja! Jangan tidur!"
"Kagak kak!"
" Nah gitu dong! Ada suaranya! De kamu kok banyak yang naksir daripada Kak Haya! Padahal kamu de kagak cantik-cantik amat, udah gitu pendek kecil lagi!" ledek Kak Radit sambil cenggir diakhir kata.
" Mana ku tahu kak!" Jawab Raniyah.
Siang itu, didalam ruang guru, hanya berkumpul para bapak-bapak. Mereka sedang asyik mengobrol dan bercanda, tidak terlewatkan disana ada Pak Rasya yang duduk dikursi tengah bergabung dengan para guru lelaki itu.
" Nih ya, diantara guru cewek, Bu Jesika, Bu Lily, Bu Mira dan Bu Raniyah, kira-kira mana yang paling cantik?" Seru Pak Rojib sambil cengegesan.
" Menurutku Bu Jesika!" Jawab Pak Agus.
" Nah, kalau Pak Rasya coba urutin dari yang cantik sampe kucel!" Kata Pak Rojib.
__ADS_1
Pak Rasya tersenyum mendengar perkataan Pak Rojib, dia tampak tidak ingin ikut menjawab tapi Pak Rojib terus mendesaknya. Akhirnya Pak Rasya terbujuk mengikuti obrolan tersebut.
" Ya Bu Jesika paling cantik urutan kesatu, bu Mira kedua, bu Lily ketiga, lalu bu Rani." Ucap Pak Rasya.
Pak Rojib langsung bertepuk tangan dan setuju dengan perkataan Pak Rasya.
" Betul, saya juga setuju! Ya Bu Rani itu kalau diurutin ada di urutan ke berapaa ya kalau urusan kecantikan!" Kata Pak Rojib sambil tertawa terbahak-bahak.
Tanpa mereka sadari Raniyah sudah berada diambang pintu saat obrolan itu terjadi. Dadanya terasa sesak mendengar hal tersebut. Pak Vikram yang mendengar obrolan tersebut tampak geram, mengebrak pintu, sehingga membuat yang hadir di ruangan kelas melirik ke arah ambang pintu, tampak Pak Rasya terkejut dan melihat Raniyah sudah berkaca-kaca.
Pak Vikram langsung berjalan mendekat ke arah Pak Rojib yang lebih senior dan minta maaf karena mengebrak pintu dengan wajah datar.
"Pak Rojib mohon maaf!" Kata Pak Vikram dengan tatapan dingin.
" Oh iya kita kaget loh Pak dikirain ada gunung meletus!" Kata Pak Rojib guru yang paling senang bercanda dan terkadang kelewatan bercandanya.
" Bukan gunung meletus, tapi ada orang yang sakit hati dengan ucapan bapak! Tolong jangan bandingkan fisik orang lain!" Kata Pak Vikram membuat Pak Rojib bungkam.
Sementara Raniyah memilih ke tempat kerjanya dan menahan air matanya. Pak Rasya merasa tidak enak dengan Raniyah yang mungkin saja mendengar perkataannya.
#Bersambung...
__ADS_1
🌻Terima kasih sudah membaca😍🌻