
" Raniyahhh!!" Seru seseorang dari kejauhan yang membuat Raniyah menoleh seluruh badannya.
Matanya terpaku pada sosok yang memanggilnya. Langkah kaki orang itu setengah berlari mendekat, lalu segurat senyuman terukir dibibirnya.
"Ran!" Dia masih terlihat kecapean.
"Kenapa masih disini?" Tanya Raniyah.
" Ya, aku ingin menikmati kota ini sebentar." Ucapnya pelan ada rasa kecewa karena Raniyah tampak tidak suka bertemu dengannya.
Raniyah terdiam, dia menundukan kepalanya sekarang otaknya terus berpikir tentang Ahsan yang masih tampak berharap padanya. Sudut mata Ahsan masih tampak memancarkan aura ketulusan, rasa cinta yang besar padanya. Tapi apa yang bisa Raniyah perbuat, kini hatinya serasa sudah membatu. ' Kembali kepada Mantan?' Apakah itu wajar? Belum lagi penyebab dirinya diasingkan karena fitnah yang mengatakan dirinya merebut Ahsan dari Jesika.
"Ahsan," Ucap Raniyah pelan.
" Ya, Ran" Jawab Ahsan penuh semangat.
Raniyah kembali terdiam, dia rasanya tidak tega terus membiarkan Ahsan mengejarnya, memperjuangkan cintanya sampai seperti ini.
"Apa kamu begitu mencintaiku?" Tanya Raniyah menatap lekat pada mata bermata coklat milik Ahsan.
"Ya, sangat!" Jawab Ahsan mantap mengetarkan hati Raniyah.
Raniyah beralih dari menatap ke arah lain, dia tidak sanggup membendung air matanya. Sebisa mungkin Raniyah menguatkan diri.
__ADS_1
"Kamu masih mencintaiku bukan?" Kini Ahsan berbalik bertanya pada Raniyah dengan sorot mata lembutnya.
"Tidak!" Raniyah bergetar bibirnya saat menjawab itu, entah dirinya berbohong pada hatinya, tapi itulah yanh ingin dia katakan. Raniyah tidak ingin terhubung dengan lelaki yang sudah menjadi mantannya.
" Bohong! Kamu masih mencintaiku, Ran!"
"Kenapa aku harus berbohong?" Kini Raniyah mencoba menantang mata Ahsan yang terus menatapnya.
"Karena kamu tidak ingin kebenaran terungkap! Hatimu masih berlayar padaku! Itulah yang membuat aku masih berharap padamu!" Ucap Ahsan.
"Ahsan, suratan kehidupan antara kita, mari kita akhiri. Aku sudah bersama orang lain, bukankah kamu tahu itu?"
"Apa itu yang benar-benar kamu inginkan?"
Ahsan yang berada dihadapannya mengangguk-nganggukan kepalanya, dia mencoba menerima dan memahami keinginan Raniyah. Kini sepatah kata pun terasa kelu untuk keluar dari mulutnya.
"Semoga kamu menemukan seseorang yang baik, Ran" ucapnya pelan hampir tidak terdengar.
"Kau juga," Ucap Raniyah.
Angin pun berhembus menjadi saksi dua pasangan orang ini mengakhiri perasaan mereka yang masih terpatri. Bukan tak cinta tapi terkadang sesuatu diakhiri karena ada rasa kecewa yang tidak ingin terulang lagi.
******
__ADS_1
Daiyan tampak gusar menatap meja laptopnya yang loading. Kini pernikahan mereka sudah menginjak bulan kedua. Daiyan mulai terbiasa dengan pernikahannya dan bisa menerima Haya. Secangkir teh diletakan dimeja oleh Haya sambil tersenyum manis. Daiyan membalasanya, sungguh hati Haya begitu berbunga-bunga, karena kini cintanya sudah disambut oleh pujaaannya.
" Terima kasih , Hay! mm boleh ambilkan kotak warna kuning dirak itu!" Kata Daiyan langsung disambut anggukan semangat oleh Haya.
Dengan riangnya Haya melangkah ke rak dan mengambil kotak berwarna kuning, lalu menyerahkannya pada suaminya.
"Bukalah!" Kata Daiyan sambil menatap lekat wajah isterinya.
Haya dengan lihai nembuka kotak tersebut, namun dia terkejut bukan main yang berada dikotak itu ada sepatu high heel yang sangat diidamkannya, dia beralih menatap Daiyan yang tersenyum manis.
"Happy brithday, my sweetheart!" Ucap Daiyan.
Haya langsung berkaca-kaca dia menghambur memeluk Daiyan, sangat tidak terduga Daiyan bisa memiliki sisi romantis, hatinya bertanya-tanya apakah saat ini Daiyan sudah sepenuhnya miliknya, tidak hanya raganya tapi juga hatinya.
"Thank you so much!" Ucap Haya sambil meneteslan air mata bahagia.
"Ya," ucap Daiyan mengelus punggung isterinya.
Aroma vanila dari tubuh Haya cukup menenangkan dan membuatnya nyaman, dirinya tidak menyangkan akan secepat ini mencintai Haya. Memang benar cinta tumbuh karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Sejauh ini Haya juga terlihat tulus mencintainya.
"Habis ini kita makan diluar!" Bisik Daiyan membuat Haya melonggarkan pelukannya dan mengangguk dengan cepat.
#Bersambung...
__ADS_1