
Sepanjang perjalanan yang dilaluinya, Raniyah tidak tenang, perjalanan Banten Sumedang yang memakan waktu 8 sampai 7 jam itu teras seabad. Beberapa kali Raniyah melirik jam ditangannya. Keadaan macet membuat perjalanan juga terhambat. Dia baru ingat sekarang sedang ada tes cpns. Di wilayah Jatinangor. Bus memilih jalan alternatif agar tidak terkendala macet. Jalan yang dilalui berkelok-kelok membuat para penumpang sedikit waswas. Setelah melewati jalanan yang berkelok, harus melewati tanjangan yang cukup curam. Bus awalnya baik-baik saja bisa berjalan, tiba-tiba..
bremm bremmmm
Bus terlihat mulai berjalan mundur tidak bisa menaiki jalanan, para penumpang mulai panik. Karena mobil berjalanan mundur, para pengendara mobil dibelakangnya mulai menepikan mobil menjauh dari bus yang mulai mundur, bus tidak bisa mengerem, tidak bisa naik juga.
"Allahu akbar allahu akbar..." Suara jeritan para penumpang, Raniyah juga terkesiap dan melantunkan ayat-ayat sucinya.
"Jo gimana ini!" seru kondektur.
"Gak tau, gak bisa naik!" Timpalnya sambil mengelap keringat didahinya yang mulai bercucuran.
"Bapak ibu tenang ya, kita akan selamat..." Ucap Kondektur mencoba menenangkan, sementara wajah - wajah panik dan gelisah jelas masih terlihat, bagaimana tidak bus itu mulai berjalan mundur dan mungkin akan berakhir dengan masuk ke dalam jurang.
Ya Allah aku harus melihat keadaan ibu dan ayah Batin Raniyah.
"Waduh saya masih jomblo ya Allah" Seru seorang pemuda berkemeja kotak kotak dan lepis, tampak seperti mahasiswa.
Suara lelaki itu cukup membuat orang mengelengkan kepala, karena bisa-bisanya dalam kondisi genting dia memikirkan tentang pasangan.
"Ini gimana pak?"
"Kita harus ngapain pak"
"Kita gak mau mati!"
Suara para penumpang saling bersahutan, sementara laju kendaraaan bus yang berjalan mundur itu semakin kencang.
__ADS_1
"Kita harus menyelamatkan diri!!"
"Ayo kita loncat saja!!"
Seru beberapa penumpang membuat supir dan kondektur panik, dia segera berseru agar tidak meloncat karena akan sangat berbahaya, bisa patah tulang.
"Jangan bapak ibu!" ucap Kondektur
" Terus kita harus nunggu ajal kita dengan pasrah disini!" Balas seorang lelaki.
"Bapak ibu tenang ya,"
Supir juga mulai panik, dia melambaikan tangan ke arah si kondektur, dengan pelan-pelan kondektur mendekat.
"Mesinnya mati, kita dalam bahaya,.loncat aja!!" Bisiknya.
"Selametin diri aja dulu!" Balasnya.
Kondektur terlihat bimbang, dia melihat wajah para penumpang yang beragam usia itu. Hatinya terasa teriris, kondisi saat ini adalah pertaruhan nyawa.
Raniyah mengirimkan pesan suara ke ponselnya Kak Radit. "Bus yang ditumpangi akan mengalami kecelakanan kak, maafkan rani buat smeuanya bapak dan ibu kalau Rani gak selamet. Allahu Akkbar Allahu Akabar, ya allah selamatkan kami..." Suara-suara dibelakang Raniyah terekam.jelas di pesan suara itu.
Tidak lama kemudian...
Brak
Aakhhhhhhakhhh
__ADS_1
Suara keras lalu diiringi jeritan para penumpang bus itu, yang merintih kesakitan. Bus menghantam sesuatu yang sangat keras, dan suara-suara gaduh para penumpang pun menghilang mulai lenyap.Hanya ada suara samar-samar yang merintih.
Suara ambulan langsung terdengar menuju ke arah Bus. Hujan langsung menguyur tempat tersebut disertai angin yang menerbangkan dedaunan. Sore yang sangat mencekam. Beberapa suara rintihan sesekali terdengar, tandu-tandu membawa para korban.
Tim medis hilir mudik membawa para korban yanh masih bisa diselamatkan. Warga sekitar menonton kejadian tersebut, wartawan sudah berjejal melaporkan insiden kecelakaan tersebut.
Ditempat yang lain, Radit baru membaca pesan dari Raniyah, jantungnya langsung berdebar kecangan, mendengar suara gemetar adiknya dan suara-suara dibelakangnya. Dia mulai panik dan menemui Fraz di depan rumah.
"Rani... Rani .." Dia tersendat.
"Kenapa?"
"Rani kak, bus...!"
"Busnya kenapa?"
"kecelakaan kak!" Suara Radit.
"Jangan beritahu ibu!! dimana kecelakaanny"Seru Fraz.
"Tidak tau kak!"
"Cek lokasi terakhir Raniyah aktif!"
Radit dengan gemeteran mulai melacak lokasi Raniyah.
#Bersambung....
__ADS_1