Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Keputusan


__ADS_3

Preview>>>>>>


"Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa kedatangan saya ini untuk melamarkan gadis untuk anak saya Daiyan, maka saya disini hendak mewakilinya melamar nak..."


Semuanya menatap dengan penuh harap, wajah Raniyah berseri-seri dengan jantung berdebar-debar, sementara Haya menunduk lesu dengan apa yang akan terjadi. Ayahnya Daiyan memandang bergantian dua gadis anak Pak Ansor.


"Haya, ya Haya wanita yang saya lamarkan untuk Daiyan!" Kata ayahnya Daiyan.


Seketika Raniyah tersentak, bagaikan tersambar petir di siang bolong, secercah harapan itu seketika sirna sudah, sementara Haya juga ikut terkejut air matanya meleleh haru. Dia langsung sujud syukur, tidak terduga kalau Daiyan, lelaki pujaan hatinya ternyata malah melamarnya, rasa haru membuncah di dalam dadanya, Raniyah yang menyaksikan rasanya bercampur aduk, antara harus bahagia atau bersedih.


Bohong jika dia tidak kecewa, bahkan saat ini air matanya ikut meleleh sebagai bukti perasaannya, dia merangkul kakaknya. Dalam hati Raniyah mencoba menenangkan hatinya dan menguatkannya, dia ingat cerita pagi yang disampaikan ayahnya.


Pak Ansor juga bertukar pandangan dengan isterinya, mereka kebingungan, karena setahu mereka Daiyan akan melamar Raniyah bukan Haya.


" Saya pikir Daiyan akan melamar Raniyah, ternyata Haya, saya menerimanya kalau begitu, karena saya juga tidak setuju kalau Raniyah melangkahi kakaknya, kalau Daiyan melamar Raniyah mungkin lamaran bapak ditolak juga, tapi karena melamar Haya jadi saya terima.!" tutur Pak Ansor.


" Oh iya pak." Tersenyum canggung, ayahnya Daiyan melirik ke arah Raniyah, dia ingin tahu efek dari keputusan mereka.


Acara lamaran pun berlanjut dengan pemasangan cincin dijari manis Haya oleh ibunya Daiyan, lalu mereka cipika cipiki. Semua anggota keluarga tampak bahagia, kecuali Raniyah masih tertunduk, dia mencoba menahan air matanya.


"Kenapa Dokter Daiyan mempermainkanku!"Batin Raniyah sambil berusaha tersenyum.


Sesekali matanya beralih menatap kakaknya yang sangat senang, Raniyah menguatkan diri bahwa kebahagiaan kakaknya lebih utama. Pertunangan singkat itu ditutup, dan pernikahan sudah ditentukan satu minggu dari pertunangan.


" Oh iya, anak saya menyampaikan permohonan maafnya karena tidak bisa hadir, dia ada ujian sidang dadakan." Tutur Ayahnya Daiyan.


" Tidak masalah pak, asalkan ketika acara pernikahan nanti jangan diwakilkan juga,.." Sahut Pak Ansor dengan wajah bahagia.


Setelah itu keluarga Daiyan berpamitan kepada keluarga Ansor. Mobil mewah itu meninggalkan pekarangan rumah, rasa haru dan bahagia begitu membuncah di hati Haya. Kedua orang tua Haya juga begitu bahagia, Ibu langsung memberikan banyak pesan kepada puterinya itu di ruang tengah.

__ADS_1


Sementara Raniyah yang sudah menahan sesak di dadanya sedari acara, memilih mengurung diri didalam kamar. Perasaannya sangat terluka, air mata meluncur deras, sambil memukul dadanya yang terasa sesak.


" Ya Rabb, aku salah telah menaruh sedikit harapan pada manusia." Lirih Raniyah.


Tidak bisa dipungkiri oleh Raniyah, Daiyan telah membuatnya berharap meski dalam waktu sesat, karena dalam hitungan hari harapan itu sirna dengan kenyataan pada hari lamaran.


Tok tok


Suara pintu diketuk dari luar membuat Raniyah terperajat dan segera menghapus air matanya, dia membuka pintu, tampak Haya berdiri disana, Raniya membiarkannya masuk. Haya lun berdiri depan ranjang dan berbalik menatap adik bungsunya itu.


"Rani..Kamu gak apa-apa?" Tanya Haya menatap sayu ke arah adiknya.


Raniyah sedikit menyungingkan senyumannya, Haya berjalan menuju Raniyah dan memeluknya. Air matanya perlahan meluncur, Haya cukup tau saat ini Raniyah terluka tapi berusaha menyembunyikannya.


"Rani.. Kakak sangat mencintai Daiyan, dan kita saling mencintai. Bisakah kamu ikhlas?" Kata Haya.


" Ya kakak. Rani hanya merasa dipermainkan saja. Jangan khawatir tentang aku." Ucap Raniyah sambil melonggarkan pelukannya.


Setalah pulang kerja, Raniyah memutuskan pergu ke rumah sakit umum tempat Daiyan bekerja, dia butuh mendapatkan penjelasannya. Raniyah turun dari kendaraan umum langsung memasuki rumah sakit dan menanyakan ruangan Daiyan.


" Apa Anda sudah ada janji dengannya?" tanya yang berjaga.


" Kata padanya Raniyah ingin bertemu jika tidak sibuk."


Si petugas langsung mengambil gagang telpon dan menelpon Daiyan, tampak si petugas menjelaskan tentang Raniyah, dari raut wajah si petugas tampaknya Daiyan tidak menolak bertemu dengannya.


" Anda silahkan ke ruangan sebelah kanan setelah tangga." Jelas Si petugas jaga setelah menutup telponnya.


Raniyah mengangguk dan mengucapkan terimaka kasih pada si penjaga. Langkah kakinya terburu-buru menuju lantai 2 letak ruangan Daiyan. Dari pintu luar tampak Daiyan berada didalam sedang fokus menatap layar monitor.

__ADS_1


Raniyah mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruangan, tampak Daiyan melirik sebentar, Raniayh tetap melanjutkan langkah kakinya duduk dikursi depan Daiyan.


" Kak Daiyan, apa maksud sikap kakak kemarin, kenapa bisa kenapa datang kakak merubah lamarannya, aku..a.kk.."


" Kamu kecewa?" Kata Daiyan sambil melihat hasil laporan ditangannya.


"Yaa, itu kenapa kak Daiyan bilang akan melamarku kalau ternyata malah melamar kakaku?"


" Itu keputusan orang tuaku, mereka lebih tertarik dengan kakakmu!"


" Ya, kalau itu keputusannya harusnya kak Daiyan sampaikan dari awal, agar aku tidak berharap."


" Oh No! Jadi aku sudah membuat seorang wanita berharap padaku!"


" Apa yang kak Daiyan lakukan, seperti mempermainkan aku!"


Daiyan terhenti dari melihat laporannya dan menyimpannya dimeja, kini dia menatap wajah Raniyah yang selalu membuatnya tidak bisa kalau lama-lama tak menatapnya, dia selalu merindukan wajah ayu dan imut Raniyah. Energi mudanya yang besar membuat jantungnya berdebar, Raniyah sederhana, tidak secantik Haya, tapi enak dipandangi dan meneduhkan.


"Itulah kelemahanmu! (Dan kelemahanku juga tidak bisa memilikimu, aku tidak mungkin menentang orangtuaku!)" Lanjut perkataan Daiyan dalam hatinya.


" Haha...( Tiba-tiba Daiyan tergelak tersenyum sambil mengelengkan kepalanya) Wanita sepertimu ternyata mudah ditipu oleh lelaki yang tampan!"


" Apa maksud kak Daiyan?"


" Lihatlah kamu selalu ditinggalkan lelaki! Aku beritahu jangan terlalu percaya dengan lelaki!"


Raniyah memutar bola matanya merasa jengan dnegan semua yang terlontar dari Daiyan yang menusuk ke dalam hatinya. Lelaki didepannya sangat pandai membuat orang lain sakit hati.


" Iya jangan terlalu percaya dengan lelaki seperti Anda! Terima kasih kak Daiyan saya pamit!"

__ADS_1


Raniyah bangkit dari duduknya berbalik badan sambil berkaca-kaca. Daiyan menatap punggung dengan frustasi, dia juga merasa tersiksa. Raniyah keluar ruangan Daiyan tanpa menoleh lagi ke belakang.


#Bersambung


__ADS_2