
Rutinitas sehari-hari Raniyah masih sama, pergi ke sekolah pukul 7.00 pagi dan pulang pukul 15.00. Terkadang Raniyah pulang kerja memilih untuk nongkrong di cafe yang dulu pernah kesana bersama Fahrul. Bukan untuk mengenangnya, tapi memang Raniyah suka dengan suasana kafe tersebut. Terkadang Raniyah memeriksa tugas siswanya di cafe. Dia merasa lebih hidup berada didalam keramaian dan kesibukan, dan merasa mati dalam kesendirian dan kesunyian.
Waktu yang terus berputar, tanpa disadari sudah melewati satu bulan. Raniyah menyesap jus jeruk yang ada digelasnya. Kemudian kembali memeriksa pekerjaan siswanya. Pelayan yang dipojok sana sudah terbiasa melihat Raniyah selalu ada dikursi pojok dan memesan jus jeruk. Dia tersenyum melihat Raniyah yang tampak sibuk tersebut.
"Dia pelanggan abadi selama sebulan ini!" Ujar pelayan berpakaian hitam itu pada temannya yang sedang membuat jus.
"Iya, kau pasti mengingatnya, dia selalu memesan yang sama dan duduk ditempat yang sama. "Balas temannya.
"Kau tahu, aku pernah melihatnya bersama seorang lelaki dia kesini!" Ucapnya.
"Kau sampai memperhatikannya, apa kau jatuh cinta padanya!"
"Bukan begitu, cuma aku merasa heran saja."
"Sudah, gak usah mikirin dia. Beresin kerjaan tuh cucian numpuk!" Ujar temanya membuat lelaki yang berprofesi pelayan itu tersenyum dan berjalan ke belakang.
Disela kesibukannya, dia melihat ponselnya bergetar ada panggilan masuk dari rumah. Dia langsung menganggkatnya. Setelah mendapatkan telpon itu, Raniyah tampak senang dan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah bu. Rani punya ponakan baru." Ucap Raniyah.
__ADS_1
Setelah mendapatkan telpon, Raniyah membereskan barang-barangnya ke dalam tas, dia tampak sumringah. Dia segera membayar tagihan makanannya, pelayan yang melayani merasa heran biasanya Raniyah akan pulang sekitar jam 9 sekarang baru jam setengah 8 sudah pulang. Tapi dia tidak berani bertanya. Dia segera memberikan kembalinanya ke Raniyah.
Raniyah langsung membuat panggilan video call ke rumahnya, dia ingin melihat bayi yang baru lahir itu. Tampak disana bayi berjenis kelamin wanita itu ada di box bayi.
"Wah lucu sekali," Gemas Raniyah.
"Cepatlah pulang kesini!" Kata ibunya memperlihatkan bayi mungil itu.
"Rani baru sebulan disini bu, gak bisa ninggalin kerjaan disini." Ucapnya.
"Iya ya ibu paham, semangat onty!" ucap Ibunya.
******
Seminggu telah berlalu, tiada angin tiada hujan. Telpon datang dari kampung halaman. Seseorang menelpon Raniyah. Meminta agar Raniyah segera pulang ke rumah karena ada hal yang sangat mendesak.
"Tapi ada apa memangnya mang?" Ucap Raniyah lewat telpon.
"Pokoknya pulang dulu kesini!"
__ADS_1
"Mang, aku ada kerjaan disini, gak bisa ditinggalkan. Palingan bisa hari sabtu aku pulangnya."
"Gak bisa ijin?"
"Bisa, tapi kan lumayan mang. Mending ijin dari jumat biar lama dirumahnya."
"Ya sudah terserah kamu saja! Yang penting mamang sudah ngasih tau."
"Ngasih tau apa mang, kenapa mamng yang telpin? Gak kak Radit atau kak Haya, kak Fraz! Ibu sejat kan mang? Bapak sehat kan?"
"Kalau pengen tau keadaannya, cepatlah kesini, mamang gak bisa jelasin lewat telpon Ran."
"Singkat aja Mang," Renggek Raniyah penasaran.
"Rumitlah Ran, ini pesan dari ibu cuma nyurih kamu pulang."
Percuma saja Raniyah merenggek meminta alasannya, Pamannya tidak akan membocorkannya, memang sudah menjadi kebiasaan pamannya membuat orang penasaran. Raniyah pun memutuskan untuk ijin hari jumat. Dia segera menyerahkan surat ijin ke piket dan tugas untuk siswanya selama dia tidak ada dikelas.
Menunggu waktu 2 hari menuju jumat itu sangat lama rasanya, pikiran Raniyah sudah melayang.
__ADS_1
#Bersambung..