Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Salsa Sakit


__ADS_3

Berjuta rasa berkecambuk dalam dada, Raniyah sejenak dapat melupakan masalah disekolah. Dia saat ini sedang berbunga-bunga bagaimana tidak Daiyan terlihat tidak marah saat dirinya bermanja. Tapi sesekali dia memukul kepalanya.


"Duh kenapa aku ganjen banget sama kak Daiyan tadi! Ish kenapa aku bego minta di cium kak Daiyan!" Raniyah berguling-guling dikasurnya.


Oek Oek..


Suara tangisan Salsa membuat Raniyah bangit mendekati box tempat tidur bayi. Raniyah langsyng mengendongnya dan menenangkannya, tidak lama Daiyan juga masuk ke kamar dia terlihat panik mendengar tangisan Salsa tiba-tiba.


"Kenapa Salsa?" Tanyanya sambil mengelus bayi dalam gendongan Raniyah.


"Gak tau kak, tapi badannya anget banget!" Ucap Raniyah.


Tiba-tiba saja Salsa memuntahkan ASI dan membasahi baju Raniyah. Terlihat wajah Raniyag panik mendapati ponakannya demikian.


"Kak..Kak.."


"Tenang, aku siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang!" Daiyan sigap langsung menyiapkan perlengkapan bayi. Dan Raniyah tanpa memperhatikan penampilannya yang masih memgenakan baju tidur dengan krudung blus tidak senada itu keluar.


Raniyah terus menenangkan Salsa yang menanggis sepanjang perjalanan, Daiyan terus fokus mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak. Sesampai di rumah sakit, Daiyan langsung mengurus pendaftaran. Raniyah sendiri membawa Salsa ke ruangan untuk diperiksa oleh dokter.


Dokter yang memeriksa dengan tenang mulai menenangkan si bayi. Setelah selesai pemeriksaan dokter baru menyampaikan permasalahannya.


"Keracunan ASI ya bu. Ade nya dikasih langsung atau di stok?" Tanya Dokter ke Raniyah yang berdiri disamping Dokter.


"Em.. Stok dokter."

__ADS_1


"Stok ASI emang boleh, tapi harus ingat waktunya jangan terlalu lama. Ada bagusnya juga sering dikasih langsung gak pake dot."


Raniyah dengan seksama mendengarkan penjelasan dari dokter, barulah Daiyan datang bersama Haya memasuki kamar rawat. Raniyah menoleh, ada rasa cemburu melihat kedatangan keduanya bersamaan.


"Kenapa anak aku bisa kayak gini!" Tegur Haya langsung mendekati Salsa.


Si Dokter tampak bingung, lalu dia pun mencoba tidak ikut campur urusan keluarga tersebut.


"Kamu gak becus ya ngurus anak!" Ucap Haya mulai naik pitam memarahi Raniyah.


"...Selama ini loe ngapain aja, sampe anak gue gini! Inget tugas lo nikah sama Daiyan buat jagain anak Gue!" Bentak Haya yang dibalas diam oleh Raniyah.


"Udah Hay, gak usah marah-marah," Kata Daiyan sambil melihat tangannya di dada dan menyender di dinding.


Pemandangan yang membuat Raniyah jengah dan kesal, dia memutar bola matanya, tapi Daiyan tersenyum melihat raut kecemburuan Raniyah.


"Kalau begitu, Salsa sama kamu dulu, dia butuh Asi yang gak basi." Kata Daiyan menjauhkan badannya dari Haya karena merasa risih.


"Sama aku? Kalau begitu kamu juga harus sering ke rumah aku!" Ucap Haya sambil menyungingkan senyuman.


"Emm.. Yaaa!" Ucap Daiyan dengan sorot mata memperhatikan reaksi Raniyah yang pura-pura tidak peduli dengan percakapan tersebut.


"Apa kita rujuk aja ya? Hutang-hutang kamu udah lunas juga kan?" Ucap Haya membuat Raniyah terusik dan melirik ke arah mereka berdua.


Raut wajah Daiyan yang tidak terdefinisakan dengan permintaan Haya, dia malah mendekat ke arah Raniyah dan mengecup kening puterinya yang sudah terlelap diranjang rumah sakit. Dia tidak memperdulikan Haya yang membuntutinya dari belakang lalu menggengam tangan Daiyan.

__ADS_1


"Ayo kita perbaiki hubungan rumah tangga kita demi Salsa, kemarin aku sangat egois." Ucapnya memelas.


Mendengar hal itu sontak membuat Raniyah menghela nafasnya sampai terdengar oleh Daiyan dan Haya. Keduanya menoleh kearahnya.


"Kenapa?" Haya merasa tidak senang dengan ekapresi Raniyah.


"Kakak ini aneh sekali, aku sudah banyak membuang waktu untuk semua ini!" Ucap Ranuyah kesal dan keluar dari ruang rawat tersebut lalu duduk diluar.


Dia menatap ke dalam ruangan rawat Salsa, hatinya yang baru saja berbunga-bunga rasanya bunga itu sudah layu lagi. Pikiran buruk berkeliaran mempengaruhi hatinya.


"Kak Daiyan mungkin tidak akan mempertahankan aku." Gumam Raniyah menghembuskan nafas sesak hatinya.


Matanya kini tertuju ke arah kakinya yang ternyata dia sudah memakai sendal dan sepatu bersebelahan, dia juga melihat baju tidurnya yang terkena muntahan ASI oleh Salsa. Jilbabnya yang sudah tidak rapi.


"Bisa-bisanya penampilan aku kayak gini." Gumamnya mulai memperbaiki kerudungnya.


Daiyan menghampirinya lalu menyodorkan jaket ke arahnya. Raniyah mendongkakkan kepalanya lalu memakai jaket pemberian dari Daiyan, lalu Daitan pun duduk disebelahnya.


"Kita akan bawa pulang Salsa. Tapi malam ini Haya menginap dirumah kita."


Rumah kita? Segurat senyuman tergambar dibibir Raniyah mendengar kalimat rumah kita yang keluar dari mulut Daiyan.


"Kamu setuju kan?"


Raniyah menganggukan kepalanya, tidak ada yang bisa ditolaknya dari yang diutarakan suaminya ini. Mungkin ini terdorong karena dia mulai buta cinta pada suaminya ini.

__ADS_1


__ADS_2