Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Undangan dari Sang Mantan


__ADS_3

Suara kicau burung bersiul mengiringi pagi yang berembun. Malam tadi hujan cukup deras. Pemilik kontrakan yang menyenangi burung itu pasti akan membangunkan para penyewanya dengan suara cicitan burung. Pagi ini, Raniyah memandangi wajahnya, mata sembabnya tak dapat disembunyikan. Dia menghela nafas, entah apa yang akan dipikirkan orang jika melihat dirinya, tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya sudah menumpuk, jam mengajarnya cukup padat.


Kakinya melangkah mengenakan sepatu high hell, sejenak dirinya memandangi tubuh mungilnya, dia memasang senyuman pada cermin dihadapannya.


aku tidak terlalu cantik, aku kecil dan aku mungkin juga tidak terlalu pantas untuk dipilih jadi seorang isteri Kata Raniyah dalam hatinya, hingga tidak terasa pipinya basah kembali oleh air mata, segera tangannya mengambil tisu dekat televisi.


Kepercayaan dirinya tampak menguap dalam semalam karena terlalu sakit hati dan kecewa. Setelah menghapus air matanya, Raniyah menatap layar ponselnya, semua pesan dari Fahrul tak satupun dibacanya dia segera menghapus pesan dan kontak Fahrul.


Selanjutnya, Raniyah melangkahkan kaki keluar dari kontrakanya, tidak lupa dia mengunci kontrakannya, saat menuruni tangga dia berpapasan dengan pemilik kosan yang sedang bermain dengan burung.


"Berangkat neng?" Sapanya melirik sebentar lalu fokus kembali ke burung peliharaannya.


" Iya pak, permisi pak," balas Raniyah sambil membuka gerbang.


Begitu dia keluar, sepeda motor terpakir didepannya dengan seorang lelaki yang memboncengi wanita menunggu dihadapannya. Raniyah mematung, jantungnya berdebar kencang, hampir saja dia tak mampu menopang badannya.Fahrul dan wanitanya turun dari motor, mereka berjalan mendekat ke arah Raniyah.Dalam hati Raniyah berbisik.

__ADS_1


A Fahrul lebih cocok dengannya, lihatlah mereka sepadan.


Raniyah tertunduk, entah apa yang dapat dilakukannya, saat ini dia harus berusaha tegar menghadapinya. Fahrul menatap Raniyah yanh tertunduk, jelas mata Raniyah menunjukan kondiai hatinya.


"Aku calonnya A Fahrul," Ulur tangan wanita disamping Fahrul.


Raniyah menatap tangan putih mulus itu, perlahan dia enggan tapi akhirnya dia menerima jabatan tangan itu, dengan hati yang tersayat-sayat.


" Iya, aku Rani," Balas Raniyah menahan bibirnya tetap stabil dan ramah menyapa wanita didepannya.


Raniyah tidak membalasnya, tapi sebisa mungkin dia memaksakan mengulas senyuman. Fahrul tidal hentinya menatap Raniyah yang tampak tidak melihat sedikit pun ke arahnya.


"Saya harus berangkat kerja, maaf saya permisi," Balas Raniyah formal berpamitan.


"Oh iya maaf menganggumu,"

__ADS_1


Raniyah mengangguk lalu segera berlalu dengan perasaan takaruan, Fahrul dibelakangnya terus memandangi Raniyah, tampak Raniyah keseleo karena high heelnya, dengan cepat Fahrul menghampiri.


" Kamu gak apa-apa?" Ucap Fahrul sambil memegangi lengan Raniyah.


" Tidak, aku baik-baik saja," Ucap Raniyah segera melepaskan diri dari Fahrul, sambil membuang muka.


Raniyah segera bangkit dan menahan sakit dikakinya karena keseleo, dia berjalan sedikit terpincang, Fahrul terus memperhatikannya dengan iba. Baru beberpaa langkah Fahrul menghentikan Raniyah.


" Datanglah ke pernikahanku!" Ucapnya.


Seketika Raniyah terdiam dan berhenti melangkah, saat itulah Fahrul mendekatinya dan mengeluarkan surat undangan pernikahan, lalu mengulurkannya ke Raniyah yang tertunduk.


"Datanglah, agar aku tidak merasa bersalah," Lanjutnya.


Raniyah mengambil undangannya, tapi tidak menyahuti perkataan Fahrul, dia memilih meninggalkan Fahrul, bagaimana pun saat ini lukanya belum kering. Hati siapa tak luka dan takkan kecewa, jika cintanya berakhir duka. " Padi yang ditanam tumbuh ilalang".

__ADS_1


#Bersambung....


__ADS_2